Notification

×

Iklan

Tenggara Festival Hadirkan 60 Seniman di Solok

Minggu, 03 Agustus 2025 | 08:48 WIB Last Updated 2025-08-03T01:48:00Z


Tenggara Festival: Perayaan Seni dan Kehidupan Lokal

Solok, Rakyatterkini.com — Tenggara Festival kembali hadir di Kota Solok sebagai ruang perjumpaan antara warga dan seniman, antara alam dan kota, antara warisan budaya dan masa depan yang sedang dibayangkan. Digelar pertama kali pada 2020 sebagai festival seni jalanan, perhelatan dua tahunan ini telah berkembang menjadi panggung bersama bagi masyarakat Solok—tempat pengetahuan lokal dirayakan, dan ruang imajinasi serta inisiatif warga dipertemukan dan dikembangkan.

Memasuki edisi ketiganya, Tenggara Festival 2025 mengusung tema *“Tidak Kayu, Tangga Dikeping”*, sebuah metafora yang menggambarkan semangat bertahan hidup, beradaptasi, dan membangun koneksi di tengah keterbatasan. Tema ini lahir dari dinamika komunitas lokal di Solok—mulai dari petani, seniman, musisi, pelaku kuliner, penulis, pembuat film, hingga komunitas motor—yang terus bergerak dengan daya cipta meski dengan sumber daya terbatas.

Tahun-tahun sebelumnya, Tenggara telah memperlihatkan wajah Solok yang penuh daya. Di 2020, festival ini menghadirkan 20 titik mural di berbagai lokasi strategis, seperti sekolah, taman kota, hingga lembaga pemasyarakatan. Pada 2022, dengan tema *Do It Yourself*, kegiatan diperluas ke ruang-ruang privat seperti sawah, bengkel, dan dapur rumah—di mana warga menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton.

“Tahun ini, semangatnya kami lanjutkan dengan program yang lebih luas. Selain mural, ada street art jamming, pameran, pemutaran film, diskusi, workshop, hingga simposium. Kami juga hadirkan kegiatan anak-anak, pertunjukan musik, dan Tenggara Mart,” jelas M. Badri, salah satu kurator Tenggara Festival 2025.

Tenggara Festival 2025 akan berlangsung dari 1 hingga 10 Agustus, melibatkan sekitar 60 seniman dan kelompok seni, serta menghadirkan 10 titik mural/graffiti di berbagai penjuru Kota Solok. Aktivitas festival tersebar di sembilan lokasi utama: Rumah Tamera (Lingkar Utara), Area Gallery 88 (Kampung Jawa), Satusatusembilan Space (Tanjung Paku), Naluri Coffee (Pasar Pandan Air Mati), RN Coffee (Jl. Syech Kukut), Parak Batuang Space (Tabuh Puluik Puluik), Galanggang Raya Farm (Gelanggang Betung), MIS Kampung Jawa, dan Pusako Tinggi Project (Tanjung Paku).

Rangkaian acara juga dimeriahkan oleh pertunjukan seni tradisional seperti Sisinga Barantai dan Sanggar Kencak Galundi dari Kampung Jawa. Di bidang musik, sejumlah nama tampil seperti Tuan Kembara (Tikalak), Egi (Padangpanjang), Beda Barat (Padangpanjang), Rani Jambak (Agam), Jumaidil Firdaus (Sirukam), Western Tiger dan Tomy Bollin (Bukittinggi), serta Siboy Music (Solok).

Ada pula program *Tenggara Kids* oleh Satelit Art Club – Solok, pameran *Daur Subur* di Gallery 88 dan Rumah Tamera, serta pameran fotografi dan diskusi di Satusatusembilan Space. Di SMKN 1 Solok, komunitas Sawala Sinema menggelar pemutaran film dan diskusi, sementara Naluri Coffee menjadi tuan rumah untuk pameran 100 poster dan bincang karya. Selain itu, Rumah Tamera akan menjadi lokasi kegiatan *Motorcycle Riding: Ride, Pray & Plant*.

Di RN Coffee, akan digelar simposium dengan tiga panel diskusi utama: “Berbenah Menuju Pertanian Sehat,” “Kedaulatan dan Keberagaman Pangan,” serta “Merawat Nilai-nilai Budaya Pertanian Melalui Praktik Seni Budaya.” Di sisi lain, komunitas Serikat Gudang Peluru akan menyelenggarakan *Dapur Kasih Sayang* dan *Tenggara Mart* di Gallery 88.

Ketua Komunitas Gubuak Kopi, Albert Rahman Putra, menegaskan bahwa Tenggara bukan sekadar festival seni. “Ini bukan hanya soal seni, tapi tentang bagaimana kita hidup bersama di kota yang terus belajar tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Tenggara Festival lebih dari sekadar perayaan budaya; ia adalah ruang temu gagasan, wadah rekonsiliasi ingatan kolektif, dan laboratorium untuk merancang masa depan bersama. Dengan pendekatan lintas sektor dan kesadaran akan identitas kolektif yang terus bergerak, festival ini hadir sebagai suara akar rumput yang turut merumuskan arah pembangunan kota.

Tenggara Festival 2025 adalah undangan terbuka bagi siapa saja untuk berkolaborasi, bersiasat, dan mengimajinasikan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. Di sinilah warga menjadi subjek budaya—bukan hanya penerima kebijakan, melainkan pencipta arah hidupnya sendiri.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update