Notification

×

Iklan

Syalran, Kisah Pejuang Rupiah di Balik Kibaran Merah Putih

Sabtu, 09 Agustus 2025 | 13:03 WIB Last Updated 2025-08-09T06:03:50Z

Syalran tengah merapikan dagangannya

Padang Panjang, Rakyatterkini.com — Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkah Syalran (63) berdiri tegak di tepi jalan Pasar Pusat Kota Padang Panjang. Di belakangnya, deretan Bendera Merah Putih berkibar, merahnya menyala seperti bara, putihnya memantulkan cahaya seakan ikut merayakan bulan kemerdekaan.

Bagi banyak orang, bendera hanyalah kain yang dijahit rapi. Tapi bagi Syalran, setiap helainya adalah denyut nadi kehidupan. Dari selembar kain itu, ia menghidupi keluarga, membesarkan sembilan anak, dan merajut harapan yang tak pernah ia biarkan pudar.

Perantau asal Semarang, Jawa Tengah ini sudah akrab dengan suara mesin jahit sejak 1983, tahun saat ia bersama sang istri memulai usaha menjual bendera dan atribut sekolah. Bahkan jauh sebelum itu, sang istri telah setia merangkai benang demi benang sejak 1976. Dari lapak kecil di pinggir jalan, usaha mereka tumbuh hingga kini mampu menyewa sebuah toko bernama Tunas Fajar.

Namun, tiap Agustus tiba, Syalran selalu kembali ke jalanan. Di sanalah ia merasa lebih dekat dengan pembeli —menyapa dengan ramah, menawar harga dengan hati, dan mengikat kepercayaan. “Banyak yang dari Batusangkar. Kalau sudah langganan, saya kasih harga spesial. Saya menghargai mereka yang jauh-jauh datang,” ujarnya dengan senyum yang tak lekang oleh panas siang.

Harga bendera yang ia jual beragam, dari Rp3.000 hingga Rp140.000. Tahun ini, penjualan memang tak seramai dulu. Persaingan ketat tak membuatnya goyah.

 “Saya percaya rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting kita mau berusaha,” ucapnya mantap saat ditemui di lapaknya, Sabtu (9/8/2025) 

Nafas harapannya sedikit panjang ketika Pemerintah Kota Padang Panjang mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota Nomor 30 Tahun 2025, yang mengimbau warga memasang dekorasi Merah Putih sepanjang 1–31 Agustus. Kebijakan itu menjadi semacam angin segar bagi para pedagang bendera seperti dirinya.

Bagi Syalran, setiap kali Merah Putih berkibar di angin Agustus, ia tak hanya melihat simbol kemerdekaan. Ia melihat perjalanan hidupnya sendiri —perjuangan melawan panas, hujan, dan waktu. Sebuah keyakinan bahwa selama bendera ini terus berkibar, semangatnya pun tak akan pernah roboh.

Di tengah lalu lintas kota dan hiruk pikuk pasar, Syalran tetap berdiri di bawah kibaran Merah Putih. Menjadi bagian kecil dari cerita besar negeri ini —pejuang rupiah yang diam-diam menjaga api kemerdekaan tetap menyala, bukan hanya di tiang-tiang kota, tapi juga di hatinya. (Ris1)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update