Notification

×

Iklan

Sekolah Rakyat: Menjahit Asa dari Pinggiran, Menolak Takdir Kemiskinan

Minggu, 10 Agustus 2025 | 09:15 WIB Last Updated 2025-08-10T02:15:00Z

Menteri Keuangan, Sri Mulyadi, saat meninjau sekolah rakyat.

Jakarta, Rakyatterkini.com — Tawa anak-anak itu pecah di halaman Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta Selatan, Sabtu (9/8/2025) siang. Ada yang bermain bulutangkis, ada yang berlatih paduan suara, dan ada pula yang bercengkerama di sudut asrama. 

Senyum mereka lebar, seolah lupa bahwa di luar pagar sekolah, hidup mereka kerap dihimpit oleh kerasnya kenyataan.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, usai mendampingi Menteri Sosial Gus Ipul, dan Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, M. Nuh datang berkunjung. Mereka disambut dengan lagu, tawa, dan rasa bangga dari para siswa anak-anak dari keluarga prasejahtera yang kini tengah menenun masa depan baru.

Sekolah Rakyat adalah terobosan yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan struktural. Program ini melibatkan Kementerian PUPR, Kementerian Sosial, Kementerian Keuangan, dan sejumlah K/L lainnya. Di sini, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.

Para siswa tidak hanya menerima pelajaran formal, tetapi juga diasah keterampilannya lewat berbagai kegiatan produktif. Ada ekstrakurikuler seni, olahraga, hingga keterampilan praktis yang membekali mereka untuk hidup mandiri. Semua anak tinggal di asrama, mendapat gizi cukup, tempat tinggal yang layak, dan lingkungan belajar yang sehat.

“Bukan hanya pintar di atas kertas, mereka diajarkan disiplin, gotong royong, dan percaya diri,” ujar Sri Mulyani, meninjau kamar asrama yang rapi.

Menteri Keuangan bahkan sempat menjadi dirigen paduan suara siswa, turun tangan memukul bola bulutangkis, disambut teriakan semangat dari para murid. Momen itu sederhana, tetapi memancarkan pesan kuat. Perhatian bukan sekadar di atas kertas kebijakan, tapi hadir langsung di tengah mereka yang membutuhkan.

Program ini tak berhenti di SRMA 10. Tahun depan, pemerintah menargetkan 200 Sekolah Rakyat berdiri di berbagai daerah dengan total 15 ribu siswa. Sebuah langkah ambisius untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin tidak lagi terperangkap dalam lingkaran nasib yang sama.

Di Sekolah Rakyat, harapan tidak diajarkan lewat teori, tapi dihidupkan setiap hari—di meja makan, di lapangan olahraga, di ruang kelas, dan di asrama. Karena di sini, masa depan bukan sesuatu yang diwariskan, tapi sesuatu yang diperjuangkan.

Dan dari tawa anak-anak di Radio Dalam hari itu, jelas terlihat: perjuangan itu sedang berjalan. (Ris1)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update