Padang, Rakyatterkini.com – Setelah berlangsung selama seminggu, festival seni dua tahunan Pekan Nan Tumpah akhirnya menutup rangkaian kegiatannya pada tahun 2025 ini. Festival yang pertama kali digelar pada 2011 ini mencatat penyelenggaraan ketujuhnya tahun ini.
Ketua pelaksana Fajry Chaniago menyampaikan, penyelenggaraan tahun ini terasa istimewa karena dipusatkan di Fabriek Padang, sebuah lokasi yang sebelumnya bukan merupakan kawasan kesenian, sehingga menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung.
Hanya sehari menjelang penutupan, antusiasme pengunjung meningkat signifikan, membuat antrian di gerbang masuk dan ruang pameran memanjang.
Festival tahun ini mengangkat tema yang unik, yaitu: “Seni Murni Seni Terapan Seni Terserah: Jika Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham”. Fajry menjelaskan bahwa tema tersebut bukanlah trilogi atau tesis besar, melainkan representasi dari seni yang kini melampaui batas-batas kategori.
Seni tidak lagi harus sakral atau otentik, melainkan bisa banal atau sengaja dibanalkan, membuka ruang bagi interpretasi yang lebih bebas.
Pada hari penutupan, rangkaian kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB dengan pembukaan pameran reguler dan lapak buku, diikuti diskusi seni bersama T. Wijaya dan Anggi Rusydi. Selanjutnya, pukul 13.30 WIB diadakan pelatihan kreatif membuat gantungan kunci dari shrink plastik bersama Monobi Artspace.
Di panggung eksibisi, acara dibuka pukul 14.00 WIB dengan penampilan SMA Negeri 2 Sijunjung melalui pertunjukan “Indang Rantak Sarompak”, dilanjutkan penampilan musik, tari, rupa, dan teater dari siswa Kelana Akhir Pekan, serta ditutup dengan pertunjukan barongsai dari Tim Barongsai HTT Padang.
Sementara itu, agenda pertunjukan seni menampilkan Komunitas Seni Hitam Putih dengan karya berjudul “Surat Tanpa Alamat”, dan ditutup oleh penampilan Jaguank berjudul “Narasini”.
Fajry menegaskan, Pekan Nan Tumpah bukan sekadar ruang pameran, melainkan ruang temu komunitas.
“Festival ini tidak dirancang untuk memberikan pemahaman tunggal, tetapi untuk mengajak publik terlibat, bertanya, dan menemukan resonansi sendiri dengan seni. Dari salah paham yang mendalam, justru lahir percakapan paling penting,” ujarnya. (da*)


