![]() |
Kakanmenag Sawahlunto, Dedi Wandra. |
Sawahlunto, Rakyatterkini.com – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto terus melangkah maju dalam inovasi pendidikan. Selasa (12/8/2025), sekolah ini menggelar kegiatan aktualisasi kurikulum berbasis cinta.
Dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Sawahlunto, Dedi Wandra, M, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, pengawas, penzawa, serta 25 siswa terpilih.
Momentum ini juga menjadi penanda peresmian penggunaan smart whiteboard sebagai sarana pembelajaran interaktif, sekaligus peluncuran Pustaka Digital MAN Sawahlunto yang dapat diakses seluruh siswa dan wakil kepala madrasah.
Langkah ini merupakan bagian dari transformasi digital yang digalakkan untuk menciptakan proses belajar yang cerdas, menyenangkan, dan relevan dengan tuntutan zaman.
Tak berhenti di sana, MAN Sawahlunto juga tengah menggarap enam program inovatif. Di antaranya, program “Jubah” yang sudah memasuki episode ketiga, gerakan literasi madrasah, penulisan artikel bertema kemerdekaan, hingga program khutbah bagi siswa laki-laki yang ditargetkan mampu tampil di mimbar saat kelulusan nanti.
Kerja sama strategis dengan Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Sawahlunto pun diresmikan melalui MoU bersama delapan ustaz dan ustazah.
Kakankemenag Dedi Wandra memberikan apresiasi penuh terhadap langkah ini. “Inovasi ini jangan disia-siakan. Manfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi,” ujarnya.
Ia menegaskan program ini sejalan dengan Asta Protas Kemenag serta agenda digitalisasi tata kelola pendidikan.
Menurutnya, Kemenag bahkan sudah memperjuangkan pengadaan smartboard untuk 40 kelas melalui parlemen.
“Keseriusan siswa dalam belajar itu kunci. Mari kita bangun madrasah yang patuh, taat, dan fokus,” tegasnya.
Dedi Wandra juga menekankan pentingnya literasi digital. “Tidak ada orang pintar yang tidak mengenal literasi. Mulailah menulis dari sekarang, agar ketika kuliah nanti terbiasa membuat artikel, makalah, hingga skripsi,” pesannya.
Dengan terobosan ini, MAN Sawahlunto menegaskan diri sebagai madrasah yang tak hanya menjaga nilai-nilai religius, tetapi juga adaptif terhadap teknologi dan tantangan pendidikan masa depan. (Ris1)


