Notification

×

Iklan

Gubuk Sempit Jadi Tempat Berteduh Keluarga Syamsul

Minggu, 24 Agustus 2025 | 11:44 WIB Last Updated 2025-08-24T04:44:00Z

Syamsul memanjat bambu untuk berpindah antar pohon lontar dengan ketinggian 25 meter

Jakarta, Rakyatterkini.com – “Rasa khawatir saya tak sebanding dengan kebutuhan mereka,” ungkap Syamsul Anam Riyadi (40) lirih, menggambarkan pekerjaannya yang penuh risiko. Di balik kata-kata itu tersimpan kisah seorang ayah dari Pamekasan yang setiap hari mempertaruhkan nyawanya di ketinggian 25 meter demi menghidupi keluarga.

Sejak tiga tahun terakhir, Syamsul menjalani rutinitas yang menegangkan: memanjat pohon lontar setinggi 20–25 meter untuk menebang daun yang dijual sebagai bahan pembuatan tikar. Semua ia lakukan agar asap dapur tetap mengepul dan ketiga putrinya bisa melanjutkan sekolah. Bagi Syamsul, rasa pilu bukan lagi sekadar emosi, melainkan bagian dari hidup sehari-hari.

Sejak 2021, ia tak lagi tidur di rumah bersama ketiga anaknya. Malam datang dengan kerinduan yang menyiksa. Rumah yang dulu dipenuhi tawa kini hanya menyisakan puing-puing. “Sejak 2020 rumah saya sudah rusak, tapi masih ditempati. Setahun kemudian ambruk dan sudah berbahaya untuk ditinggali,” cerita Syamsul, Minggu (24/8/2025).

Kini, Syamsul dan istrinya, Julaeha (38), menempati gubuk darurat seluas empat meter persegi di Desa Kertagena Laok, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Jawa Timur. Dinding anyaman bambu dan atap terpal menjadi pelindung mereka setiap malam, sementara ketiga anak mereka, Nur Aini (21), Ilza Matul Musyarofah (14), dan Erliza Ayuni Ramadiyanti (7), dititipkan ke rumah kerabat agar bisa beristirahat dengan layak.

“Saya sudah berusaha keras untuk membangun rumah, tapi penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari,” ujar Syamsul.

Bertaruh Nyawa di Puncak Pohon
Pagi hari menjadi tantangan tersendiri bagi Syamsul. Tanpa pengaman, hanya kekuatan tangan dan kaki yang menahan tubuhnya saat memanjat pohon lontar. Setiap pohon yang daunnya ditebang dihargai Rp 7.500–10.000.

“Daun lontar ini untuk dibuat tikar,” jelasnya.

Bagian paling menegangkan bukan saat memanjat, melainkan saat berpindah pohon. Untuk menghemat waktu, Syamsul hanya menggunakan galah bambu sebagai jembatan nyawanya. Sedikit keliru, nyawa bisa terancam. “Saya hanya berdoa agar selamat untuk menafkahi keluarga,” tuturnya. Ia bahkan terkadang menyambung daun lontar antar pohon saat jaraknya terlalu dekat. Bagi Syamsul, kekhawatiran nyawanya tidak sebanding dengan kebutuhan makan anak dan istrinya.

Keringat Tak Henti Saat Tak Memanjat
Ketika tidak memanjat, Syamsul dan Julaeha terus bekerja. Mereka menganyam daun lontar menjadi tikar, dengan satu lembar tikar dihargai Rp 31.000—kadang turun menjadi Rp 25.000. “Sehari kami bisa membuat satu atau dua tikar,” jelasnya.

Namun, penghasilan dari memanjat pohon dan menganyam tikar hanya cukup untuk bertahan hidup, terutama karena ketiga anaknya sudah bersekolah. Cukup untuk makan, tapi tak cukup untuk membangun kembali rumah dan mewujudkan mimpi keluarga.

Di tengah perjuangan itu, ada ketakutan yang lebih besar daripada jatuh dari pohon. Menatap kosong gubuknya, Syamsul berkata lirih, “Saya paling khawatir kalau saya sakit, karena mereka semua perempuan.”(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update