![]() |
| Amin Perwira sedang beraktivitas di bengkelnya. |
Sawahlunto, Rakyatterkini.com — Efek dari kebijakan penghematan anggaran di banyak pemerintah daerah mulai terasa langsung di lapangan. Salah satu sektor yang terpukul cukup keras adalah industri media lokal.
Minimnya kegiatan kerja sama publikasi dan advetorial dengan pemda membuat sejumlah media kehilangan aliran pendapatan utama.
Pemandangan ini nyata dialami Amin Perwira, Pemimpin Redaksi Warta Andalas. Alih-alih menunggu kepastian kerja sama yang semakin langka, Amin memilih banting setir: membuka usaha jasa servis kompor gas.
“Kalau cuma berharap dari kerja sama media dengan pemerintah daerah, bisa-bisa gulung tikar. Saya lebih baik bertahan dengan usaha baru yang jelas ada peminatnya,” ujar Amin, saat ditemui di bengkel kecilnya di kawasan Lubang Panjang, depan kantor Kemenag Sawahlunto, Kamis (28/8/2025).
Sejak 2024, tren pemangkasan anggaran publikasi oleh pemerintah daerah berlangsung masif. Banyak program yang sebelumnya rutin mengandalkan media lokal untuk publikasi kini diganti dengan kanal internal seperti media sosial resmi masing-masing OPD, website pemerintah, hingga aplikasi layanan publik.
Kondisi ini membuat media lokal kehilangan pangsa pasar yang sudah lama menjadi andalan. Data dari asosiasi media di Sumatera Barat menyebutkan, lebih dari 40 persen media daerah mengalami penurunan pemasukan hingga 70 persen dalam satu tahun terakhir.
“Bukan soal kualitas media lokal yang buruk, tapi karena alokasi anggaran yang makin ketat. Pekerja media mau tak mau harus mencari cara baru bertahan,” jelas seorang pengamat komunikasi publik, Dr. Yusrizal, dari Universitas Jember.
Amin Perwira adalah potret nyata bagaimana seorang jurnalis senior yang puluhan tahun bergelut dengan berita, kini harus mengandalkan keterampilan tangan. Ia melayani servis kompor gas, regulator, hingga perbaikan tabung bocor.
“Saya belajar dari pengalaman pribadi. Kompor sering rusak, teknisinya jarang ada. Dari situlah saya pikir, kenapa tidak coba buka jasa sendiri? Ternyata cukup ramai peminat,” ungkapnya.
Langkah Amin mencerminkan fenomena lebih besar, jurnalis dan pekerja media harus beradaptasi di luar dunia pemberitaan. Dari menjadi penjual online, konsultan media kecil-kecilan, hingga, seperti Amin, teknisi rumahan.
Fenomena ini menyalakan alarm keras bagi ekosistem pers daerah. Ketergantungan pada anggaran pemerintah menjadi titik lemah media, sehingga ketika ada penghematan, yang paling dulu terkena dampak adalah wartawan dan redaksi.
“Ini momentum untuk kembali menata bisnis media. Jangan hanya mengandalkan APBD. Harus ada diversifikasi, langganan digital, iklan swasta, atau produk kreatif. Kalau tidak, kita hanya akan mendengar kisah demi kisah jurnalis banting stir,” tegas Yusrizal.
Sementara itu, Amin menegaskan dirinya tidak meninggalkan dunia jurnalistik sepenuhnya. Ia tetap mengelola Warta Andalas, namun dengan cara sederhana, tanpa beban biaya besar.
“Berita tetap jalan, tapi dengan ritme berbeda. Saya tetap wartawan, tapi sekarang juga teknisi kompor gas. Dua-duanya demi bertahan hidup,” tutupnya, sembari tersenyum. (Ris1)


