Notification

×

Iklan

BMKG Uji Coba Sistem Peringatan Gempa di Empat Provinsi

Kamis, 24 Juli 2025 | 07:15 WIB Last Updated 2025-07-24T00:15:00Z

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati


Jakarta. Rakyatterkini.com-  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat upaya deteksi dan respons dini terhadap risiko bencana serta perubahan iklim. Seruan ini menjadi bagian dari strategi besar dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Dalam peringatan Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nasional (HMKGN) ke-78, BMKG menegaskan komitmen untuk terus mengembangkan sistem peringatan dini yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menekankan pentingnya memperkuat ketahanan bangsa di tengah meningkatnya ancaman bencana dan dinamika iklim global.

“Memang bencana kini makin sering terjadi. Namun jika kita melihat keseluruhan siklus hidup, kejadian itu hanya mencakup sebagian kecil. Di sisi lain, kita memiliki waktu yang jauh lebih banyak untuk membangun dengan memanfaatkan anugerah alam yang luar biasa,” ujar Dwikorita dalam sambutannya di Jakarta, Senin (21/7).

Menurutnya, tantangan tersebut justru membuka peluang besar untuk memperkuat daya tahan nasional dan mempercepat pembangunan berkelanjutan.

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara positif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan agar Indonesia tidak hanya tangguh, tetapi juga unggul dalam menghadapi masa depan.

Salah satu terobosan strategis yang tengah dikembangkan BMKG adalah sistem peringatan dini gempa bumi berbasis hitung mundur, atau *Earthquake Early Warning System* (EEWS). Sistem ini saat ini sedang diuji coba di empat provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung.

Sistem EEWS bekerja dengan mendeteksi gelombang awal (primer) dari gempa bumi, sebelum guncangan besar terasa di permukaan. Teknologi ini memberikan jeda waktu antara 5 hingga 10 detik yang sangat krusial untuk penyelamatan dini.

“Sistem ini bisa memberi waktu untuk menyelamatkan diri, terutama di sekolah, rumah sakit, stasiun, dan tempat publik lainnya. Lima detik bisa sangat menentukan keselamatan,” kata Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.

Selain sistem peringatan dini gempa, BMKG juga memperkuat teknologi untuk menghadapi cuaca dan iklim ekstrem. Teknologi *Meteorology Early Warning System* (MEWS) memungkinkan prediksi cuaca harian hingga 10 hari ke depan dengan akurasi yang lebih tinggi, bahkan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

Sementara itu, *Climate Early Warning System* (CEWS) memberikan informasi iklim jangka menengah dan panjang, yang sangat membantu sektor strategis seperti pertanian, perikanan, energi, dan pengelolaan air.

“Dengan informasi iklim yang lebih akurat, petani dan nelayan kini dapat menyusun perencanaan produksi yang lebih efektif. Bahkan di beberapa daerah, hasil panen meningkat karena perencanaan berbasis data ini,” ujar Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.

Transformasi BMKG juga menyentuh aspek literasi dan kesiapsiagaan masyarakat. Melalui program edukasi seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI), MOSAIC, BMKG Goes to School, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal, BMKG aktif mendorong partisipasi publik dalam pengurangan risiko bencana.

Adapun tema peringatan HMKGN tahun ini adalah *“Peringatan Dini untuk Semua, Aksi Dini oleh Semua.”* Tema ini merefleksikan semangat kolektif dalam membangun kesiapsiagaan nasional.

“Transformasi BMKG tidak hanya tentang teknologi digital, tetapi juga membangun sistem yang membuat semua pihak bisa bergerak lebih cepat sebelum bencana datang,” tutup Dwikorita. “Inilah bentuk aksi nyata yang akan menjadi fondasi kuat menuju Indonesia Emas 2045.”(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update