Notification

×

Iklan

Tripoli Terjadi Kekacauan, Kelompok Bersenjata Bentrok

Selasa, 13 Mei 2025 | 08:00 WIB Last Updated 2025-05-13T01:02:11Z

Situasi di Tripoli, Libya


Jakarta, Rakyatterkini.com – Situasi di Tripoli, Libya, berubah menjadi mencekam setelah terjadi bentrokan bersenjata di sejumlah wilayah ibu kota sejak Senin malam (12/5/2025). Pertempuran pecah antar dua kelompok bersenjata tak lama setelah tewasnya salah satu pemimpin milisi terkemuka di wilayah tersebut.

Otoritas setempat langsung menerapkan kebijakan penguncian total di seluruh kota guna menekan eskalasi konflik, namun baku tembak justru meluas ke berbagai distrik.

Warga melaporkan terdengarnya rentetan tembakan dan ledakan keras di beberapa lingkungan sekitar pukul 21.00 waktu setempat.

Akar permasalahan bentrokan ini diduga berasal dari terbunuhnya Abdel Ghani Al Kikli, atau yang lebih dikenal sebagai Gheniwa, pemimpin Stability Support Authority, kelompok milisi paling berpengaruh di Tripoli.

Al Kikli dikenal memiliki pengaruh besar di ibu kota, namun belakangan terlibat ketegangan dengan beberapa kelompok lain, termasuk faksi dari kawasan Misrata.

Platform media sosial di Libya dipenuhi dengan rekaman video dan gambar yang memperlihatkan peristiwa tembak-menembak, asap tebal, orang-orang bersenjata di jalan, serta iring-iringan kendaraan militer yang masuk ke dalam kota.

Tembakan dari senjata berkaliber sedang terdengar di berbagai wilayah, termasuk di sekitar markas Stability Support Authority.

Mengutip laporan dari Al Jazeera, setidaknya enam orang mengalami luka-luka, namun identitas mereka belum dapat dipastikan, termasuk status mereka sebagai warga sipil atau anggota keamanan.

Misi Dukungan PBB untuk Libya (UNSMIL) menyatakan keprihatinannya terhadap memburuknya situasi keamanan di Tripoli, terlebih karena bentrokan terjadi di kawasan padat penduduk dan melibatkan senjata berat.

“Kami mendesak seluruh pihak untuk segera menghentikan kekerasan dan mengembalikan stabilitas. Semua pihak juga diingatkan akan kewajiban mereka dalam melindungi warga sipil,” demikian isi pernyataan dari UNSMIL.

Warga sipil menyampaikan rasa frustrasi atas konflik yang terus berulang, di mana mereka selalu menjadi korban dalam setiap aksi kekerasan.

“Masyarakat merasa marah karena setiap kali kelompok bersenjata bentrok, mereka yang tidak terlibat justru terjebak dalam situasi berbahaya,” demikian dilaporkan Al Jazeera.

Sebagai dampak dari situasi yang memburuk, Kementerian Pendidikan Libya memutuskan untuk menghentikan seluruh kegiatan belajar mengajar pada hari Selasa. Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri mengimbau masyarakat agar tetap berada di dalam rumah demi keselamatan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update