Notification

×

Iklan

Hanum: Batik Sebagai Ekspresi Budaya dan Pemberdayaan Perempuan

Rabu, 07 Mei 2025 | 15:03 WIB Last Updated 2025-05-07T08:03:00Z


Shanumesty bawa batik lokal menasional. 


Padang, Rakyatterkini.com – Di sebuah ruang tamu berukuran 3×4 meter di Jalan Batu Ampa, Kelurahan Pampangan, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sekar Hanum Pramesty memulai perjalanan impiannya melalui Shanumesty Art and Craft.

Sejak memulai usaha batik pada 2023, wanita yang lebih akrab disapa Hanum ini tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga memberdayakan perempuan di sekitarnya.

Kecintaan Hanum pada batik dimulai saat ia bekerja di sebuah rumah batik di Kota Solok pada 2020. Pengalaman itu menginspirasinya untuk berbagi ilmu membatik dengan masyarakat sekitar.

Secara mandiri, Hanum mulai menyelenggarakan pelatihan membatik bagi ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya, yang kemudian menjadi fondasi berdirinya Shanumesty Art and Craft.

“Saya ingin batik tidak hanya dikenal sebagai budaya Jawa, tetapi juga sebagai bagian dari ekspresi budaya Minangkabau yang kaya akan filosofi dan sejarah,” ujar Hanum saat ditemui di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai studio batiknya.

Saat ini, Shanumesty Art and Craft mempekerjakan 15 orang dengan sistem fleksibel, sesuai dengan kebutuhan pesanan. Selain sebagai tempat produksi, ruang ini juga digunakan sebagai tempat belajar membatik bagi anak-anak, tanpa dipungut biaya.

Mereka belajar berbagai teknik dasar seperti pemindahan motif, pewarnaan, hingga menghasilkan batik yang siap pakai.

Batik karya Hanum tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga sarat makna. Setiap guratan cantingnya mengandung cerita, dengan motif khas Minangkabau yang tetap menjaga nilai filosofis lokal.

Salah satu motif unggulan adalah “Kota Tua”, yang menggambarkan kawasan heritage Kota Padang, seperti Pelabuhan di bawah Jembatan Siti Nurbaya dan bangunan lama Bank Indonesia. Motif ini pernah ia bawa dalam ajang Pemuda Pelopor 2024.

“Saya ingin Padang dikenal bukan hanya dari ikon besarnya, tetapi juga dari detil-detil kecil yang menyimpan sejarah,” ungkapnya.

Motif lain yang diangkat menceritakan kisah seorang ibu tunggal yang membesarkan tiga anak. Desain ini menggambarkan satu bunga besar dan tiga bunga kecil, simbol kekuatan perempuan dalam mengasuh dan membantu anak-anaknya meraih masa depan.

Hanum juga merancang motif “Kecamatan Lubuk Begalung” yang merepresentasikan kampung halamannya. Motif ini terdiri dari elemen air berputar dan setengah lingkaran sebanyak 15 buah, menggambarkan jumlah kelurahan di kecamatan tersebut. Simbol bambu memperkuat identitas lokal, sementara 20 titik menggambarkan sebutan Lubuk Begalung sebagai Nagari Nan XX.

“Kami akan terus mengangkat motif dari destinasi lokal agar batik tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga narasi visual dari daerah kita,” tutur Hanum.

Perjalanan Shanumesty Art and Craft kini mulai menarik perhatian berbagai pihak. Salah satu dukungan yang sangat berarti datang dari PT Semen Padang yang pada Desember 2024 memberikan bantuan berupa bahan, peralatan, dan fasilitas pelatihan.

“Bantuan dari PT Semen Padang sangat berarti bagi kami. Dengan alat dan bahan yang lebih memadai, kapasitas produksi kami meningkat dan pelatihan bisa menjangkau lebih banyak orang,” ujar Hanum.

Meskipun pesanan saat ini masih dominan datang dari Kota Padang, karya batik Shanumesty telah mencapai Papua. Hanum optimistis, dengan inovasi dan konsistensi, batik Minangkabau bisa mendapatkan pengakuan di tingkat nasional bahkan internasional.

Apa yang dilakukan Hanum bukan sekadar usaha ekonomi, tetapi juga gerakan sosial berbasis seni: menjadikan membatik sebagai ruang ekspresi dan pemberdayaan. Dari ruang tamu yang sederhana, ia menyalakan harapan dan perubahan.

“Saya ingin anak-anak dan perempuan di lingkungan saya memiliki ruang untuk berkembang. Batik adalah ruang itu,” tutup Hanum.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update