Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Sabtu 3 Desember 2022 20:00 WIB


Positif Aktif Sembuh Meninggal
104.644 209 102.063 2.372
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Inflasi di Sumatera Barat Bergerak Turun

Senin, 07 November 2022 | 19:06 WIB Last Updated 2022-11-07T12:06:43Z

Gubernur Mahyeldi saat virtual dengan Mendagri.

Padang, Rakyatterkini.com - Tim pengendali inflasi pusat dan daerah melakukan rapat koordinasi, guna menekan laju kenaikan harga bahan pokok di berbagai daerah. 

Dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, didampingi Direktur Statistik BPS Windhiarso Ponco Adi, rapat dihadiri seluruh gubernur, bupati dan walikota dari seluruh Indonesia secara virtual.

Disampaikan Tito, tingkat inflasi nasional di Oktober 2022 berada di angka 5,71 persen. Turun 0,11 persen terhadap inflasi pada September 2022 lalu. 

Meski belum signifikan, penurunan ini menurut Tito memperlihatkan bahwa kontribusi dan kerja keras seluruh pemerintah daerah sudah mulai menunjukan hasil.

Berdasarkan indikator perkembangan harga pada minggu pertama November, Windhiarso Ponco Adi memaparkan, andil inflasi terbesar masih disumbangkan oleh sektor transportasi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. 

Sementara pelemahan inflasi disebabkan oleh deflasi pada sektor makanan, minuman dan tembakau. Kelompok ini mencatatkan inflasi -0,97 persen dengan andil sebesar -0,25 persen terhadap angka inflasi nasional.

Sementara itu di Sumatera Barat, Gubernur Sumbar Mahyeldi menyampaikan, inflasi terkoreksi 0,59 persen ke angka 7,87 persen pada Bulan Oktober. Meski mengalami penurunan, angka yang relatif masih cukup tinggi ini menurut Buya disebabkan metode sampling yang dilakukan.

Adapun faktor penyebab inflasi terbesar, Salah satunya berasal kenaikan biaya distribusi beras dan ikan tongkol akibat kenaikan harga bbm. Sementara penurunan inflasi disebabkan oleh turunnya harga cabai merah, hijau dan rawit, serta telur dan ayam ras.

Menurutnya, produksi beras di Sumatera Barat sebetulnya mengalami surplus, namun tingginya permintaan dari provinsi tetangga seperti Riau dan Kepri menjadi penyebab kenaikan harga. (mmc)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update