Notification

×

Iklan

Yota Balad Raih Penghargaan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:40 WIB Last Updated 2026-10-25T01:40:00Z

Wali Kota Pariaman Yota Balad menerima penghargaan dari IJTI

Pariaman, Rakyatterkini.com – Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menerima penghargaan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dalam kategori Pemerintah Daerah Inspiratif di bidang penanganan bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat (Sumbar).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, di Whize Prime Hotel, Kota Padang, Sabtu malam (24/10/2026). Apresiasi ini diberikan atas upaya Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman dalam menghadapi dan menangani bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.

Pemberian penghargaan itu menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) V IJTI Sumbar. Dalam kegiatan tersebut, Defri Mulyadi yang akrab disapa Imung kembali dipercaya untuk memimpin IJTI Sumbar.

Sebelum penyerahan penghargaan, kegiatan diawali dengan IJTI Talkshow bertema “Peran CSR Instansi/Lembaga/Perusahaan Swasta dalam Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi di Sumbar” yang menghadirkan sejumlah narasumber.

Dalam kesempatan itu, Yota Balad memaparkan berbagai langkah yang telah disiapkan Pemko Pariaman untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Ia menjelaskan, Pemko Pariaman telah menyusun perencanaan penanggulangan bencana melalui Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) periode 2026–2030 serta Kajian Risiko Bencana (KRB). Kedua dokumen tersebut ditetapkan melalui keputusan wali kota sebagai pedoman dalam pengelolaan kebencanaan.

“Alhamdulillah, Pemerintah Kota Pariaman sudah memiliki cetak biru tata kelola kebencanaan melalui penyusunan RPB 2026–2030 dan Kajian Risiko Bencana yang ditetapkan dengan Keputusan Wali Kota Pariaman,” ujar Yota.

Menurutnya, perencanaan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan jalur mitigasi dan evakuasi bencana. Pemko juga memasang rambu-rambu di setiap kecamatan yang berada di kawasan pesisir agar masyarakat mengetahui arah dan lokasi evakuasi ketika terjadi keadaan darurat.

Selain menyiapkan infrastruktur mitigasi, Pemko Pariaman juga memberikan perhatian terhadap edukasi masyarakat. Pada September lalu, pemerintah daerah difasilitasi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk melaksanakan gladi kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami.

Kegiatan tersebut melibatkan aparatur sipil negara (ASN), masyarakat, serta pelajar. Melalui simulasi tersebut, warga diharapkan semakin memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat menghadapi ancaman bencana.

Yota juga mengungkapkan bahwa Pariaman telah dilengkapi sejumlah perangkat peringatan dini. Di antaranya sirene Early Warning System (EWS) tsunami dan sistem peringatan dini untuk memantau debit air sungai.

Selain itu, Kota Pariaman memperoleh bantuan Earthquake Early Warning System (EEWS) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi.

Pemko Pariaman juga memiliki teknologi High-Frequency (HF) Radar Array Tsunami. Perangkat tersebut dapat memancarkan gelombang elektromagnetik untuk memantau kondisi laut dan aktivitas gelombang hingga jarak sekitar 150 kilometer di laut.

Di samping upaya teknis, Yota turut menyinggung program unggulan daerah bertajuk “Satu Keluarga Satu Hafiz”. Program ini, menurutnya, menjadi bagian dari pendekatan spiritual yang diharapkan dapat memperkuat keimanan masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa ikhtiar menghadapi bencana tidak hanya dilakukan melalui persiapan fisik dan teknologi, tetapi juga diiringi doa, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Gagasan tersebut mendapat tanggapan positif dari Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan. Ia menilai program “Satu Keluarga Satu Hafiz” sebagai gagasan yang inspiratif dan memiliki pendekatan berbeda dibandingkan program yang umumnya dijalankan oleh kepala daerah lainnya.

Herik mengapresiasi langkah Pemko Pariaman yang memadukan kesiapsiagaan secara teknis dengan penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, upaya penanggulangan bencana tidak hanya berkaitan dengan mitigasi secara fisik, tetapi juga dapat dilengkapi dengan pendekatan keagamaan yang memberikan penguatan batin bagi masyarakat.

Penghargaan yang diberikan IJTI tersebut mencakup tiga kategori, yakni Lembaga Inspiratif dalam Penanganan Bencana, Lembaga Inspiratif dalam Bidang Kedokteran, serta Pemerintah Daerah Inspiratif dalam Penanganan Bencana.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update