Jakarta, Rakyatterkini.com – Anggota DPD RI dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, mengajak generasi muda untuk meningkatkan pemahaman terhadap kebijakan publik serta berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ajakan tersebut disampaikan Yashinta dalam kegiatan Jogja Youth Town Hall bertajuk “Semangat Muda Merawat Bangsa, Budaya, dan Bumi” yang digelar di SMA Negeri 1 Kasihan, Bantul, dan SMA Negeri 1 Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan ruang diskusi interaktif antara narasumber dan pelajar. Selain memberikan pemahaman dasar mengenai politik, forum tersebut juga mengedukasi siswa tentang pentingnya pengelolaan sampah elektronik secara bertanggung jawab.
Dalam diskusi tersebut, Yashinta menegaskan bahwa anak muda perlu memiliki kesadaran politik dan keberanian untuk menyampaikan aspirasi terkait berbagai persoalan publik. Menurutnya, kebijakan yang dihasilkan melalui proses politik akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk masa depan generasi muda.
Ia mengingatkan para pelajar agar tidak bersikap apatis terhadap proses demokrasi, terutama dalam menentukan pemimpin melalui pemilihan umum.
Yashinta menjelaskan, pilihan politik masyarakat memiliki konsekuensi terhadap berbagai sektor kehidupan, mulai dari harga kebutuhan sehari-hari hingga ketersediaan lapangan pekerjaan. Karena itu, generasi muda perlu menggunakan hak pilih secara bijak dengan mempertimbangkan kapasitas dan komitmen calon pemimpin.
Selain itu, Yashinta menyoroti pentingnya partisipasi publik yang bermakna (meaningful participation). Ia berharap keterlibatan anak muda dalam proses pengambilan kebijakan tidak hanya sebatas memenuhi formalitas, tetapi juga memberikan ruang bagi aspirasi mereka untuk didengar dan dipertimbangkan.
Menurutnya, pejabat politik harus memiliki komitmen untuk menampung keluhan, masukan, serta harapan masyarakat selama menjalankan amanah jabatan.
Keberadaan media sosial, lanjutnya, juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi antara masyarakat dan para pemangku kebijakan. Dengan demikian, para pejabat diharapkan lebih mudah mengetahui persoalan yang dihadapi warga di lapangan.
Sementara itu, narasumber lainnya, Rafa Jafar yang merupakan pendiri E-WasteRJ, mengajak para pelajar untuk membangun kebiasaan mengelola sampah elektronik atau electronic waste (e-waste) dengan benar.
Rafa menilai, pemahaman mengenai pemilahan dan pembuangan limbah elektronik perlu diperkenalkan sejak usia dini. Lingkungan sekolah dinilai menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan kebiasaan tersebut agar dapat diterapkan secara konsisten hingga dewasa.
Ia menjelaskan, upaya membangun kepedulian terhadap sampah elektronik tidak semata-mata bergantung pada aturan atau kewajiban. Hal yang tidak kalah penting adalah membentuk kebiasaan sederhana yang mudah dilakukan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Rafa juga menekankan perlunya fasilitas pendukung berupa tempat penampungan khusus sampah elektronik di sekolah. Fasilitas tersebut dibutuhkan agar perangkat elektronik bekas dapat dikumpulkan secara terpisah dari sampah rumah tangga lainnya, sehingga lebih mudah disalurkan untuk proses daur ulang.
Ia mengajak para siswa berpartisipasi aktif dalam memilah barang elektronik yang sudah tidak terpakai. Menurutnya, upaya pengelolaan e-waste membutuhkan keterlibatan bersama agar limbah tersebut dapat ditangani dengan lebih baik.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, tempat penampungan khusus sampah elektronik direncanakan tersedia di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mendorong siswa menerapkan praktik pengelolaan sampah elektronik secara langsung di lingkungan sekolah.
Pada akhir kegiatan, Yashinta kembali mengingatkan para pelajar untuk terus berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, serta memperluas jaringan dan wawasan sebagai bekal menghadapi masa depan.
Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap persoalan politik, sosial, dan lingkungan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Menurutnya, masa depan daerah dan bangsa turut ditentukan oleh kesadaran warganya dalam merespons berbagai persoalan di sekitarnya.
Yashinta pun mengajak generasi muda di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memperkuat semangat gotong royong dan tidak bersikap acuh terhadap dinamika politik. Sebab, setiap kebijakan publik memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.(da*)


