Notification

×

Iklan

WFC Jadi Pilihan Mahasiswa Padang

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:49 WIB Last Updated 2026-10-02T23:49:00Z

Ketika Kafe Menjadi Ruang Belajar Alternatif bagi Mahasiswa di Kota Padang

Padang, Rakyatterkini.com – Tren mengerjakan tugas kuliah dari kafe atau Work From Cafe (WFC) semakin menjadi pilihan bagi sebagian mahasiswa di Kota Padang. Keberadaan Wi-Fi, ruang kerja, serta suasana yang dianggap mendukung membuat kafe menjadi alternatif tempat belajar di luar kos maupun rumah.

Bagi sebagian mahasiswa, berpindah tempat justru membantu mereka lebih fokus menyelesaikan pekerjaan. Salah satunya Jummi, yang mengaku rutin mendatangi kafe sekitar satu hingga dua kali dalam sepekan, terutama saat memiliki tugas kuliah yang harus segera diselesaikan.

Jummi mengatakan dirinya lebih mudah berkonsentrasi ketika mengerjakan tugas di kafe dibandingkan di kos. Menurutnya, suasana di tempat tinggal terkadang membuat pekerjaan tertunda.

“Kalau di kosan enggak selesai tugasnya. Selain ke coffee shop, biasanya ke perpustakaan, tapi cuma bisa sampai sore. Enggak ada perpustakaan 24 jam di Padang,” katanya.

Menurut Jummi, kondisi kafe yang dipenuhi pengunjung dengan aktivitas masing-masing turut memberikan motivasi. Melihat orang lain sibuk bekerja atau mengerjakan tugas membuat dirinya merasa tidak sendirian dalam menghadapi pekerjaan.

Ia mengaku pernah berada di kafe sejak selepas salat Isya hingga pagi demi menyelesaikan tugas kuliah.

“Lumayan berpengaruh. Keramaian dan atmosfer ketika semua orang terlihat sibuk, bahkan sama-sama pusing mengerjakan tugas, rasanya seperti punya teman seperjuangan,” ujarnya.

Hal yang hampir sama dirasakan Balqis. Mahasiswa tersebut menjadikan kafe sebagai salah satu tempat untuk menyelesaikan tugas maupun pekerjaan lainnya.

Ia menilai suasana di kafe dapat membantu mengurangi gangguan yang biasanya muncul ketika berada di kos. Mulai dari membuka media sosial, rasa malas, hingga godaan untuk beristirahat di tempat tidur.

“Kalau aku lebih fokus pas di coffee shop. Lebih bisa mengatur diri. Kalau di rumah atau kos pasti terdistraksi, entah dari media sosial atau rasa malas. Ada kasur juga, jadi gangguannya lebih banyak,” tutur Balqis.

Menurut Balqis, pergi ke kafe dengan tujuan tertentu juga membuat dirinya terdorong untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah direncanakan.

“Kalau di coffee shop, menurut aku secara enggak langsung ada semangat untuk mengerjakan. Karena dari awal sudah punya tujuan datang ke coffee shop,” katanya.

Biasanya, Balqis menghabiskan waktu sekitar dua hingga empat jam ketika bekerja seorang diri di kafe. Jika datang bersama teman, waktu yang dihabiskan bisa lebih panjang, bahkan mencapai enam jam.

Sebelum datang, ia juga biasanya menentukan target pekerjaan yang harus diselesaikan. Cara tersebut dilakukan agar waktu selama berada di kafe tetap produktif.

Mahasiswa Jadi Salah Satu Pengunjung Utama

Fenomena mahasiswa mengerjakan tugas di kafe juga terlihat di Kopkit Sutomo, salah satu tempat usaha yang buka selama 24 jam di Kota Padang.

Barista Kopkit Sutomo, Luthfi Raihan, mengatakan mahasiswa termasuk kelompok pengunjung yang cukup banyak, khususnya pada hari kerja.

“Pelanggan di sini macam-macam, tetapi lebih ramai dari kalangan mahasiswa. Terutama saat weekdays karena banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas,” kata Luthfi.

Ia menyebut aktivitas mahasiswa yang mengerjakan tugas biasanya mulai terlihat sejak siang hingga malam. Tidak sedikit pengunjung yang bertahan selama berjam-jam di dalam kafe.

Menurut pengamatannya, sebagian pelanggan dapat menghabiskan waktu sekitar delapan jam. Bahkan, ada pula pengunjung yang bertahan jauh lebih lama karena tempat tersebut buka sepanjang hari.

“Sepengetahuan saya sebagai barista, dari awal sampai akhir shift biasanya ada saja orang yang bertahan sekitar delapan jam. Bahkan ada yang sampai 24 jam. Namun rata-rata sekitar lima jam, setelah itu mereka pulang,” ujarnya.

Kenyamanan pengunjung didukung berbagai fasilitas yang tersedia, seperti jaringan Wi-Fi, ruangan berpendingin udara, serta area khusus untuk bekerja. Bagi pelanggan yang berada hingga larut malam, kafe tersebut juga menyediakan selimut.

WFC sebagai Bagian dari Perubahan Sosial

Dosen Jurusan Sosiologi Universitas Andalas, Indraddin, melihat kebiasaan bekerja atau belajar dari kafe sebagai salah satu bentuk perubahan sosial di kalangan anak muda.

Menurutnya, perubahan tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memandang tempat yang dianggap nyaman untuk bekerja dan beraktivitas.

“Terjadi perubahan sosial dalam tren tersebut. Nilai-nilainya sebenarnya juga mengalami perubahan,” ujar Indraddin.

Ia menjelaskan bahwa anggapan kafe mampu meningkatkan konsentrasi seseorang tidak terlepas dari pola pikir atau mindset. Kondisi lingkungan dan fasilitas memang dapat berpengaruh terhadap motivasi seseorang ketika menyelesaikan pekerjaan.

“Bekerja sebenarnya berkaitan dengan motivasi. Sesuatu yang memengaruhi kita ketika bekerja bisa berasal dari fasilitas maupun tempat,” katanya.

Indraddin menilai rumah sebenarnya juga dapat menjadi ruang kerja yang nyaman apabila memiliki fasilitas yang memadai, seperti meja, kursi, pencahayaan yang cukup, dan sirkulasi udara yang baik.

“Kalau di rumah tersedia meja, kursi, penerangan cukup, dan udaranya sejuk, sebenarnya tidak ada alasan menganggap bekerja di kafe pasti lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menilai anggapan bahwa bekerja di kafe otomatis membuat seseorang lebih fokus perlu dilihat secara lebih kritis. Menurutnya, kebiasaan tersebut belum tentu secara langsung menunjukkan adanya peningkatan produktivitas.

“Kalau seseorang merasa lebih konsentrasi di kafe dibandingkan di rumah, itu berkaitan dengan mindset. Ketika sudah terbentuk anggapan bahwa kafe adalah tempat yang lebih nyaman untuk bekerja, rumah justru bisa dianggap membuat malas,” tuturnya.

Menurut Indraddin, tingkat produktivitas tidak hanya ditentukan oleh lokasi seseorang bekerja. Pola pikir, kebiasaan, serta cara seseorang membangun motivasi juga memiliki peran.

“Menurut saya, kecil kemungkinan hanya karena bekerja di kafe konsentrasi seseorang otomatis menjadi tinggi. Pertanyaannya, sebelum tren bekerja di kafe muncul, apakah orang tidak bisa berkonsentrasi? Dari situ produktivitasnya bisa dilihat,” katanya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update