Notification

×

Iklan

‎Waspada! Suara dan Video Bisa Dipalsukan AI, Begini 7 Cara Mengenali Deepfake

Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:04 WIB Last Updated 2026-10-21T00:04:54Z

Ilustrasi kecerdasan buatan.

‎RAKYATTERKINI.COM – Pernah mendengar rekaman pidato Presiden Prabowo Subianto yang terdengar 'ngelantur' dan berseliweran di media sosial?
‎
‎Dalam rekaman tersebut, Prabowo seolah-olah menyampaikan pidato dengan kalimat-kalimat nyeleneh yang kemudian menjadi bahan lelucon warganet.
‎
‎Rekaman itu memancing beragam komentar. Tak sedikit warganet yang melontarkan hujatan. Sebagian bahkan menganggap pernyataan tersebut benar-benar disampaikan langsung oleh Presiden.
‎
Faktanya suara pidato tersebut bukanlah suara asli Presiden Prabowo, melainkan suara palsu yang dibuat dengan teknologi AI.
‎
‎Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, suara seseorang dapat ditiru dan digunakan untuk membuat rekaman yang seolah-olah berasal dari orang tersebut.
‎
‎Fenomena ini dikenal sebagai deepfake, yakni konten berupa suara, gambar, atau video yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
‎
‎Teknologi AI memiliki berbagai kegunaan, mulai dari industri kreatif hingga produksi konten digital. 
‎
‎Namun, jika disalahgunakan, AI juga dapat menjadi sarana penyebaran informasi palsu, penipuan, dan manipulasi opini publik.
‎
‎Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut menyoroti persoalan ini. Dalam siaran pers pada 17 Oktober 2026, Komdigi menyatakan pemerintah sedang mengkaji peraturan mengenai pelabelan konten yang dihasilkan AI untuk membantu masyarakat menelusuri asal-usul konten digital.
‎
‎Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria mengatakan, saat ini semakin sulit membedakan video, gambar, dan suara buatan AI dari konten asli. 
‎
‎Lantas, bagaimana cara mengenali suara dan video hasil rekayasa AI agar tidak mudah terkecoh?
‎
‎Berikut tujuh hal yang perlu diperhatikan.
‎
‎1. Perhatikan Gerakan Bibir dan Ekspresi Wajah
‎
‎Salah satu hal yang dapat diperiksa ketika menonton video adalah kesesuaian antara gerakan bibir dan suara yang terdengar.
‎
‎Pada video yang dimanipulasi, terkadang terdapat ketidaksesuaian gerakan mulut, ekspresi wajah, atau perubahan gambar yang terlihat tidak wajar.
‎
‎Perhatikan pula pencahayaan, bayangan, dan detail wajah. Perubahan yang tidak konsisten dapat menjadi petunjuk video tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.
‎
‎Namun, tanda-tanda tersebut tidak selalu muncul pada setiap deepfake. Teknologi AI yang semakin canggih dapat menghasilkan video dengan tampilan yang meyakinkan.
‎
‎Karena itu, jangan langsung menyimpulkan sebuah video palsu hanya karena terlihat janggal. Sebaliknya, video yang tampak sempurna juga belum tentu asli.
‎
‎2. Dengarkan Suara dan Cara Berbicara
‎
‎Teknologi kloning suara memungkinkan karakteristik suara seseorang ditiru menggunakan AI.
‎
‎Hasilnya dapat menyerupai suara asli, termasuk intonasi, warna suara, dan cara pengucapan kata-kata tertentu.
‎
‎Meski demikian, rekaman suara buatan AI terkadang memiliki jeda, pelafalan, atau intonasi yang terasa tidak alami. Hal tersebut dapat menjadi petunjuk awal, tetapi bukan bukti pasti.
‎
‎Suara yang terdengar alami pun tidak menjamin sebuah rekaman autentik.
‎
‎Jika menerima rekaman suara atau panggilan telepon dari seseorang yang meminta sesuatu di luar kebiasaan, jangan langsung percaya hanya karena suaranya terdengar familier.
‎
‎Lakukan konfirmasi melalui saluran komunikasi lain yang sudah diketahui kebenarannya.
‎
‎3. Waspadai Permintaan Uang yang Mendesak
‎
‎Deepfake dapat dimanfaatkan untuk meniru identitas seseorang dalam upaya penipuan.
‎
‎Pelaku, misalnya, dapat menggunakan suara tiruan untuk berpura-pura menjadi anggota keluarga, atasan, atau orang yang dikenal korban. Dalam skenario tertentu, pelaku kemudian meminta transfer uang atau informasi rahasia dengan alasan mendesak.
‎
‎Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati jika menerima permintaan uang melalui telepon, pesan suara, atau panggilan video yang tidak biasa.
‎
‎Jangan terburu-buru melakukan transfer meskipun suara orang yang menghubungi terdengar sangat meyakinkan.
‎
‎Hubungi orang yang bersangkutan melalui nomor lain yang telah tersimpan sebelumnya. Jika diperlukan, tanyakan sesuatu yang jawabannya hanya diketahui oleh Anda dan orang tersebut.
‎
‎Jangan memberikan kode OTP, kata sandi, PIN, atau informasi perbankan hanya karena seseorang mengaku sebagai orang yang dipercaya.
‎
‎4. Periksa Sumber Asli Video atau Rekaman
‎
‎Video yang ramai dibicarakan di media sosial belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya.
‎
‎Sebelum mempercayai atau membagikannya, periksa siapa yang pertama kali mengunggah rekaman tersebut, kapan konten dibuat, serta apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi kejadian yang sama.
‎
‎Jika video memuat pernyataan Presiden, pejabat pemerintah, atau tokoh publik, periksa apakah rekaman serupa tersedia di kanal resmi yang bersangkutan.
‎
‎Bandingkan pula isi rekaman dengan pemberitaan media tepercaya.
‎
‎Pencarian gambar terbalik atau reverse image search dapat membantu menemukan sumber awal gambar maupun versi lain dari sebuah video. Meski tidak selalu dapat memastikan keaslian, langkah ini bisa membantu menemukan konteks yang hilang.
‎
‎Perlu diingat, konten menyesatkan tidak selalu dibuat sepenuhnya menggunakan AI. Rekaman asli yang dipotong, diedit, atau disebarkan tanpa konteks juga dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru.
‎
‎
‎Selain memeriksa sumber dan konteks, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu menelusuri asal-usul konten digital.
‎
‎Google, misalnya, menyediakan fitur verifikasi melalui aplikasi Gemini yang dapat membantu memeriksa gambar, video, dan audio tertentu untuk mengetahui apakah konten tersebut dibuat atau diedit menggunakan model AI Google.
‎
‎Fitur tersebut memanfaatkan teknologi SynthID, yaitu penanda digital yang disematkan pada konten yang dibuat atau diedit oleh model AI Google yang mendukungnya. Gemini juga dapat memeriksa Content Credentials jika tersedia pada berkas yang diperiksa.
‎
‎Namun, ada batasan yang perlu dipahami.
‎
‎Pemeriksaan SynthID hanya dapat mengidentifikasi penanda yang didukung. Jika penanda tidak ditemukan, bukan berarti konten tersebut pasti asli atau tidak dibuat menggunakan AI lain.
‎
‎Karena itu, hasil pemeriksaan sebaiknya dipadukan dengan penelusuran sumber, konteks, dan bukti lain yang tersedia.
‎
‎6. Bandingkan dengan Sumber Lain dan Periksa Konteksnya
‎
‎Konten yang memancing kemarahan, ketakutan, atau rasa penasaran sering kali menarik perhatian pengguna media sosial.
‎
‎Karena itu, jangan menjadikan jumlah penayangan, komentar, atau tanda suka sebagai ukuran kebenaran sebuah video.
‎
‎Jika sebuah rekaman memuat pernyataan mengejutkan dari seorang tokoh, cari rekaman lengkapnya dan periksa apakah pernyataan tersebut benar-benar pernah disampaikan.
‎
‎Bandingkan informasi dari beberapa sumber tepercaya. Jika ada bantahan atau klarifikasi resmi, periksa isi dan konteksnya sebelum mengambil kesimpulan.
‎
‎Langkah ini penting agar masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang sesuai dengan prasangka atau emosi mereka.
‎
‎7. Jangan Menyebarkan Konten yang Belum Terverifikasi
‎
‎Meneruskan video atau rekaman suara yang belum dipastikan keasliannya dapat memperluas penyebaran informasi menyesatkan.
‎
‎Bahkan, seseorang yang hanya berniat bercanda dapat ikut menyebarkan konten palsu kepada lebih banyak orang.
‎
‎Jika menemukan rekaman yang mencurigakan, tahan keinginan untuk langsung membagikannya. Periksa sumbernya terlebih dahulu dan cari informasi pendukung yang dapat dipercaya.
‎
‎Jika konten tersebut diduga digunakan untuk melakukan penipuan atau merugikan seseorang, simpan bukti yang relevan dan laporkan melalui kanal resmi yang sesuai.
‎
‎Masyarakat juga perlu berhati-hati ketika mengunggah rekaman suara, video, atau data pribadi ke layanan digital yang tidak jelas pengelolaan maupun kebijakan privasinya.
‎
‎Pemerintah Kaji Pelabelan Konten AI
‎
‎Ancaman manipulasi digital turut menjadi perhatian pemerintah Indonesia.
‎
‎Pada 14 Oktober 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti pentingnya provenance and authenticity, yaitu mekanisme untuk membantu menelusuri asal-usul dan keaslian konten digital.
‎
‎Menurut keterangan Komdigi, penelusuran asal-usul konten dapat membantu mengidentifikasi manipulasi yang menggunakan AI. Pemerintah juga menilai platform digital dan pengembang AI memiliki peran dalam mendukung pendeteksian deepfake.
‎
‎Tiga hari kemudian, Komdigi menyampaikan bahwa pemerintah sedang mengkaji aturan mengenai pelabelan konten yang dihasilkan AI.
‎
‎Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk tambahan bagi masyarakat dalam membedakan konten sintetis dan konten autentik.
‎
‎Meski demikian, pelabelan dan teknologi pendeteksi bukan satu-satunya solusi. Kemampuan masyarakat dalam memeriksa sumber informasi, mengonfirmasi identitas, dan mengenali pola penipuan tetap diperlukan.
‎‎
‎Perkembangan deepfake menunjukkan bahwa wajah dan suara yang terlihat atau terdengar familier tidak selalu cukup untuk memastikan identitas seseorang dalam setiap situasi.
‎
‎Ketika menerima permintaan uang, data pribadi, kode OTP, kata sandi, atau tindakan penting lainnya, lakukan konfirmasi melalui saluran komunikasi lain yang telah dipercaya.
‎
‎Prinsip yang sama berlaku untuk informasi viral di media sosial. Periksa sumber, bandingkan dengan informasi resmi, dan hindari menyebarkan konten sebelum kebenarannya dapat dipastikan.
‎
‎Menghadapi perkembangan AI bukan berarti harus mencurigai semua konten digital. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai, mengomentari, atau menyebarkannya.
‎
‎Dengan begitu, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus mengurangi risiko menjadi korban penipuan dan penyebaran informasi palsu. (*/wan)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update