![]() |
| Rose Khwais, remaja Palestina berusia 17 tahun, dibebaskan melalui kesepakatan gencatan senjata Gaza |
Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, UN Women, melaporkan hampir 50.000 perempuan dan anak perempuan di Jalur Gaza meninggal dunia atau mengalami luka berat sejak konflik pecah pada Oktober 2023.
Ketua Aksi Kemanusiaan UN Women, Sofia Calltorp, menyebutkan lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan kehilangan nyawa. Sementara itu, sekitar 11.700 lainnya mengalami cedera serius yang menyebabkan mereka harus menjalani kehidupan dengan disabilitas permanen.
“Lebih dari 38.000 orang tewas dan 11.700 lainnya mengalami cedera yang sangat parah sehingga kini mereka hidup dengan disabilitas seumur hidup,” ujar Calltorp, Jumat (9/10/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar korban jiwa tercatat selama dua tahun pertama perang. Meski kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, kekerasan di wilayah tersebut masih berlanjut.
UN Women mencatat, sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 277 perempuan dan anak perempuan dilaporkan meninggal dunia akibat kekerasan yang terus terjadi.
Hampir Satu Juta Perempuan dan Anak Perempuan Kehilangan Tempat Tinggal
Selain tingginya angka kematian dan korban luka, UN Women juga menyoroti persoalan pengungsian yang masih membayangi kehidupan perempuan dan anak perempuan di Gaza.
Hampir satu juta perempuan dan anak perempuan dilaporkan harus meninggalkan tempat tinggal mereka akibat perang. Sebagian besar hingga kini belum dapat kembali ke rumah dan terpaksa bertahan di tenda pengungsian maupun di tengah puing-puing bangunan yang hancur.
Calltorp turut mengungkapkan adanya peningkatan jumlah rumah tangga yang dipimpin perempuan. Angkanya disebut meningkat hingga dua kali lipat, dengan sekitar satu dari empat rumah tangga di Gaza kini berada di bawah kepemimpinan perempuan.
Situasi ini membuat perempuan menghadapi tanggung jawab yang semakin berat. Di tengah kehilangan tempat tinggal dan terbatasnya akses terhadap berbagai kebutuhan dasar, mereka juga harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga.
Organisasi Perempuan Terkendala Pemangkasan Pendanaan
UN Women juga memperingatkan bahwa pengurangan bantuan keuangan telah melemahkan kemampuan organisasi perempuan dalam memberikan layanan kepada masyarakat yang terdampak perang.
Berdasarkan survei terhadap 14 organisasi perempuan, sebanyak 13 organisasi menyatakan kesulitan memenuhi kebutuhan warga yang terus bertambah.
Seluruh organisasi yang menjadi responden melaporkan peningkatan kasus kekerasan berbasis gender, kemiskinan, serta masalah kesehatan mental sejak 2025. Selain itu, 13 organisasi menyebut tingginya angka pernikahan anak di tengah situasi kemanusiaan yang memburuk.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik di Gaza tidak hanya berupa korban jiwa dan kehancuran infrastruktur. Perang juga memperparah persoalan sosial, meningkatkan tekanan psikologis, serta membuat perempuan dan anak perempuan semakin rentan terhadap kekerasan dan berbagai bentuk eksploitasi.
Keterbatasan pendanaan turut menjadi tantangan bagi organisasi kemanusiaan yang berupaya menyediakan perlindungan dan bantuan bagi kelompok rentan.
UN Women Minta Gencatan Senjata Dijalankan Sepenuhnya
Menyikapi kondisi tersebut, UN Women menyerukan agar kesepakatan gencatan senjata dilaksanakan secara menyeluruh. Lembaga itu juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan penegakan pertanggungjawaban atas pelanggaran yang terjadi.
Calltorp menilai penderitaan perempuan di Gaza menggambarkan besarnya krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius serta langkah konkret dari berbagai pihak.
Ia menggambarkan situasi yang dihadapi para perempuan sebagai penderitaan bersama yang sangat berat, disertai rasa sakit mendalam dan tuntutan untuk bertahan dalam keadaan yang seharusnya tidak perlu mereka alami.
Menurutnya, ketangguhan perempuan dalam menghadapi konflik tidak boleh menjadi alasan bagi dunia untuk mengabaikan penderitaan yang mereka alami. Perlindungan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan dukungan kemanusiaan tetap diperlukan agar perempuan dan anak perempuan di Gaza dapat menjalani kehidupan yang lebih aman dan bermartabat.(da*)


