Bukittinggi, Rakyatterkini.com – Rencana pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi di Sumatera Barat ditargetkan memasuki tahap konstruksi pada Oktober 2026.
Meski demikian, hingga Senin (12/10/2026), belum ada kepastian terverifikasi mengenai realisasi jadwal tersebut. Pemerintah masih menghadapi sejumlah tahapan persiapan, terutama terkait penentuan trase dan pengadaan lahan.
Target dimulainya pembangunan sebelumnya disampaikan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, saat berkunjung ke Kabupaten Tanah Datar pada 3 Maret 2026.
Dalam kesempatan itu, Dody mengungkapkan bahwa pemerintah berencana melanjutkan pembangunan Jalan Tol Padang–Pekanbaru melalui ruas Sicincin–Bukittinggi. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25,6 triliun.
“Kita memang sudah akan membangun Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi. Kita mulai insyaallah Oktober 2026. Mudah-mudahan terlaksana,” ujar Dody.
Namun, sampai saat ini belum terdapat informasi terbaru yang terverifikasi dari Kementerian PU maupun PT Hutama Karya (Persero) yang memastikan pekerjaan konstruksi utama telah dimulai sesuai jadwal.
Sebelum memasuki tahap pembangunan fisik, sejumlah persiapan masih perlu diselesaikan. Tahapan tersebut mencakup penetapan jalur tol, proses pembebasan lahan, serta koordinasi dengan masyarakat yang berpotensi terdampak pembangunan.
Pada Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Agam, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Hutama Karya membahas sejumlah alternatif trase untuk ruas Sicincin–Bukittinggi. Pembahasan ini bertujuan mencari jalur yang dapat meminimalkan dampak terhadap permukiman dan bangunan milik warga.
Pembahasan kembali berlanjut pada September 2026 melalui pertemuan yang melibatkan pemerintah daerah, Kementerian PU, dan Hutama Karya. Dalam pertemuan tersebut, disepakati rencana penempatan akses keluar tol di kawasan Pasar Amor, Nagari Batu Palano, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam.
Adapun jalur yang menghubungkan Pasar Amor dengan Simpang Taluak direncanakan menggunakan jalan bypass, bukan jalan tol. Rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut administratif dan komunikasi lebih lanjut dengan masyarakat serta niniak mamak setempat.
Di sisi lain, rencana trase juga menuai perhatian warga Nagari Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Sejumlah masyarakat menyampaikan keberatan karena jalur yang direncanakan dinilai berpotensi memengaruhi kawasan permukiman dan tanah ulayat.
Aspirasi warga tersebut perlu ditindaklanjuti melalui sosialisasi dan dialog terbuka agar proses perencanaan dapat mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat serta meminimalkan potensi konflik di lapangan.
PT Hutama Karya sebelumnya menjelaskan bahwa pengembangan ruas Tol Sicincin–Bukittinggi masih berada dalam tahap perencanaan. Pada Juni 2026, perusahaan bersama pemerintah dan sejumlah pihak terkait membahas penguatan koordinasi guna mendukung kelanjutan proyek tersebut.
Ruas Sicincin–Bukittinggi merupakan bagian dari pengembangan Jalan Tol Trans-Sumatera yang dirancang untuk meningkatkan keterhubungan antarwilayah di Sumatera Barat.
Apabila pembangunan dapat direalisasikan, jalan tol ini diharapkan mempermudah perjalanan masyarakat menuju Padang Panjang, Bukittinggi, dan daerah sekitarnya. Infrastruktur tersebut juga berpotensi mempercepat distribusi barang, meningkatkan efisiensi perjalanan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi regional.
Kendati demikian, manfaat tersebut sangat bergantung pada kesiapan proyek, penyelesaian persoalan pembebasan lahan, kepastian trase, dan kelancaran pelaksanaan konstruksi.
Target pembangunan yang sebelumnya diumumkan untuk Oktober 2026 membuat perkembangan proyek Tol Sicincin–Bukittinggi menjadi perhatian masyarakat Sumatera Barat.
Informasi mengenai jadwal dimulainya konstruksi, kemajuan pengadaan tanah, serta keputusan akhir terkait trase sangat dibutuhkan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kelanjutan proyek strategis tersebut.
Hingga 12 Oktober 2026, belum ada konfirmasi terverifikasi yang memastikan konstruksi utama Tol Sicincin–Bukittinggi telah dimulai sesuai target yang diumumkan pada Maret lalu.
Dengan demikian, realisasi pembangunan masih bergantung pada penyelesaian berbagai persiapan dan kepastian jadwal resmi dari pemerintah bersama Hutama Karya.
Masyarakat kini menantikan perkembangan lebih lanjut terkait kelanjutan proyek yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.(da*)


