Notification

×

Iklan

Pemerintah Dorong Produktivitas Tambak Udang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:26 WIB Last Updated 2026-10-02T10:26:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas tambak udang tradisional yang saat ini mencakup sekitar 82 persen dari keseluruhan area tambak udang di Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri udang nasional di pasar global.

Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda menyampaikan bahwa pengembangan tambak tradisional perlu dibarengi dengan pembenahan berbagai aspek pendukung. Beberapa di antaranya mencakup peningkatan infrastruktur irigasi tambak, akses terhadap pembiayaan, pemanfaatan teknologi, serta penerapan metode budi daya yang lebih ramah lingkungan.

Rahmat mengatakan, komoditas udang selama ini menjadi salah satu penyumbang ekspor terbesar Indonesia. Namun, kontribusi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam penguasaan pasar udang dunia.

Menurut dia, pangsa udang Indonesia di pasar internasional saat ini masih berada di sekitar 6 persen. Oleh sebab itu, peningkatan produktivitas tambak dan penguatan daya saing dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan industri udang nasional.

Pemerintah juga menyiapkan upaya revitalisasi kawasan tambak tradisional sebagai bagian dari pembenahan infrastruktur. Revitalisasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Penguatan industri udang juga mencakup sejumlah aspek lain, seperti pengendalian penyakit, peningkatan biosekuriti di kawasan budi daya, penerapan standar operasional, penggunaan teknologi, hingga pembenahan sistem pemasaran.

Pemerintah menargetkan adanya sejumlah terobosan dalam pengembangan industri udang nasional dalam kurun dua sampai tiga tahun mendatang. Fokusnya antara lain meningkatkan produktivitas tambak tradisional serta memperbaiki tata kelola kawasan budi daya.

Dengan berbagai langkah tersebut, industri udang Indonesia diharapkan mampu menjadi lebih kompetitif sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan dan meningkatkan perannya dalam menopang ekspor nasional.

Dorong budi daya udang berkelanjutan

Upaya pengembangan industri udang yang berkelanjutan juga dilakukan melalui proyek Towards Sustainable and Conversion-free Aquaculture in Southeast Asia (TOSCA). Program tersebut dijalankan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama Bappenas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Proyek TOSCA mendapatkan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF) melalui Asian Development Bank (ADB). Program ini diarahkan untuk membangun ekosistem usaha budi daya udang yang berkelanjutan tanpa mendorong konversi ekosistem alami.

Pendekatan yang diterapkan meliputi penguatan kebijakan, penelitian, peningkatan kapasitas, serta penyediaan pengetahuan dan dukungan bagi pelaku usaha. Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing sektor budi daya udang Indonesia.

Pengembangan industri udang secara berkelanjutan menjadi penting karena sektor ini masih menghadapi sejumlah persoalan lingkungan. Di antaranya adalah perubahan kawasan mangrove menjadi tambak, pencemaran akibat nutrien dan bahan kimia, serta penggunaan pakan yang masih bergantung pada ikan hasil tangkapan dari alam.

ICCTF mencatat luas ekosistem mangrove yang telah hilang mencapai hampir 800 ribu hektare. Pada saat yang sama, terdapat sekitar 600 ribu hektare lahan tambak yang tidak lagi beroperasi dan berpotensi memicu pembukaan kawasan baru apabila tidak dikelola dengan baik.

Di pasar internasional, perhatian terhadap aspek keberlanjutan produk perikanan juga semakin meningkat. Sejumlah pasar utama seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa semakin menekankan pentingnya sertifikasi serta penerapan proses produksi yang memperhatikan prinsip keberlanjutan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update