Notification

×

Iklan

KRI Sriwijaya-100 Jadi Kapal Induk Pertama TNI AL, Disiapkan untuk Misi Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana

Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:00 WIB Last Updated 2026-10-04T13:00:00Z

KRI Sriwijaya-100.

JAKARTA – Indonesia memasuki babak baru dalam memperkuat pertahanan maritim. Kehadiran KRI Sriwijaya-100 sebagai kapal induk pertama TNI Angkatan Laut bukan hanya menjadi tonggak modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga membuka peluang baru dalam mempercepat penanganan bencana dan misi kemanusiaan di Tanah Air.

Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi dan dioperasikan Angkatan Laut Italia itu diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan strategis Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di bidang pertahanan maupun kemanusiaan.

Presiden Prabowo Subianto bahkan telah memberikan arahan khusus agar KRI Sriwijaya-100 dimodifikasi sehingga mampu mendukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak atau drone.

Arahan tersebut disampaikan dalam Rapat Kabinet Terbatas mengenai penanganan bencana pada 7 September 2026.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengatakan penguatan kemampuan kapal tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama dalam penanggulangan bencana dan pelaksanaan misi kemanusiaan.

"Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan," ujar Qodari.

Menurutnya, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas membutuhkan kekuatan pertahanan yang tidak hanya tangguh, tetapi juga memiliki mobilitas tinggi dan mampu menjangkau daerah-daerah terpencil.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika bencana melanda suatu wilayah dan akses transportasi darat terputus atau sulit dilalui.

Dalam situasi seperti itu, KRI Sriwijaya-100 diharapkan mampu menjadi tumpuan untuk mengerahkan personel, mengangkut logistik, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan ke lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Kemampuan mendukung operasi helikopter dan drone juga akan memperluas jangkauan pemantauan serta membantu mempercepat respons terhadap kondisi darurat.

Qodari menegaskan, modernisasi alutsista Indonesia tidak semata-mata bertujuan memperkuat kemampuan militer, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan negara dalam menghadapi ancaman nonmiliter dan berbagai situasi kedaruratan.

"Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang semakin kuat, mandiri, tangguh, dan siap melindungi rakyat dalam setiap keadaan," tuturnya.

KRI Sriwijaya-100 resmi bergabung dalam jajaran TNI Angkatan Laut setelah Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin upacara peresmian, shipnaming, dan pengukuhan Komandan KRI Sriwijaya-100 di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).

Peresmian tersebut menandai babak baru perjalanan kekuatan maritim Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari pembangunan dan modernisasi pertahanan laut nasional.

Panglima TNI menyampaikan posisi geografis Indonesia yang strategis serta luasnya wilayah perairan nasional menuntut kehadiran kekuatan pertahanan laut yang modern, profesional, dan tangguh.

KRI Sriwijaya-100 memiliki kemampuan sebagai pusat komando operasi laut yang andal. Kapal ini juga diproyeksikan mendukung diplomasi pertahanan serta berbagai kegiatan bantuan kemanusiaan, baik di dalam negeri maupun pada tingkat internasional.

"Kehadiran KRI Sriwijaya-100 dengan kemampuan sebagai pusat komando operasi laut yang andal, sekaligus sarana diplomasi pertahanan dan bantuan kemanusiaan dapat memperkuat peran TNI secara nasional maupun di tingkat regional dan global," kata Agus.

Bergabungnya kapal induk pertama tersebut diharapkan semakin memperkuat kemampuan TNI Angkatan Laut, memperluas jangkauan operasi, serta meningkatkan efektivitas operasi gabungan TNI dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.

Lebih dari sekadar simbol kemajuan alutsista, KRI Sriwijaya-100 kini diproyeksikan memiliki peran strategis dalam memperluas manfaat kekuatan maritim Indonesia.

Dari menjaga kedaulatan wilayah perairan hingga menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat saat bencana dan keadaan darurat, kapal ini diharapkan mampu menghadirkan kekuatan negara secara lebih cepat, tanggap, dan menjangkau seluruh pelosok Nusantara. (*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update