Notification

×

Iklan

Kisah Mahasiswa Padang Kuliah Sambil Kerja Laundry

Minggu, 04 Oktober 2026 | 15:49 WIB Last Updated 2026-10-04T08:49:00Z

Perjuangan Mahasiswa Kuliah Sambil Cari Nafkah

Padang, Rakyatterkini.com – Bagi sebagian mahasiswa, waktu setelah perkuliahan bisa dimanfaatkan untuk berkumpul bersama teman, bersantai, maupun menyelesaikan tugas. Namun, hal berbeda harus dijalani M. Amilurrizki (23), mahasiswa asal Payakumbuh yang mesti membagi waktunya antara kuliah dan bekerja.

Rizki merupakan mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Adzkia Padang. Sejak Juli 2024, ia bekerja di sebuah usaha laundry sebagai petugas yang mengantar dan mengambil pakaian milik pelanggan.

Pekerjaan tersebut menjadi penopang kebutuhan hidup Rizki selama menetap di Padang. Mulai dari biaya kos, makan, bahan bakar, oli kendaraan hingga berbagai keperluan sehari-hari harus ia penuhi dari penghasilannya sendiri.

"Kalau tidak kerja, tidak makan, atau tidak bisa bertahan hidup di Padang, mungkin juga tidak lanjut kuliah karena tidak ada biaya," kata Rizki kepada Sumbarkita, Sabtu (3/10/2026).

Dalam sehari, Rizki biasanya melayani sekitar 30 hingga 50 pelanggan. Wilayah yang menjadi rute pekerjaannya cukup luas, mulai dari kawasan Jati, Katib, Gunung Pangilun, Ampang, Andalas, Parak Karakah hingga Jalan Bypass menuju Rumah Sakit Semen Padang.

Jalan Bypass menjadi salah satu rute terjauh yang harus ditempuhnya. Dalam satu hari, ia dapat melakukan perjalanan pulang-pergi sebanyak tiga hingga empat kali. Setiap perjalanan biasanya membawa sekitar 10 pakaian milik pelanggan.

Menurut Rizki, jam kerja normalnya mencapai sekitar 10 jam dan terbagi dalam dua sif. Namun, jadwal tersebut tidak bisa dijalankan secara kaku karena harus disesuaikan dengan waktu perkuliahan.

Jika jadwal kuliah berlangsung dari pagi sampai sore, ia memilih bekerja pada sif sore. Sebaliknya, ketika kuliah dimulai setelah zuhur, Rizki mengambil sif pagi yang dimulai pukul 07.00 WIB dan berhenti sekitar satu jam sebelum perkuliahan dimulai.

Penyesuaian jadwal tersebut berpengaruh terhadap pendapatan yang diterimanya. Dalam kondisi normal, Rizki mampu memperoleh sekitar Rp1,5 juta per bulan. Namun, ketika perkuliahan sedang padat, penghasilannya turun menjadi sekitar Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta.

"Kalau jadwal kuliah padat, itu bisa sampai magrib. Kalau masuk kerja magrib, jam kerja cuma 2 sampai 3 jam, dan potongan gaji di hari itu lebih besar," ujarnya.

Padatnya jadwal kuliah bahkan terkadang berlangsung selama satu semester. Untuk menambah pemasukan, Rizki mengambil pekerjaan sampingan di bidang konveksi ketika memiliki kesempatan.

Selain persoalan membagi waktu, pekerjaan sebagai pengantar dan penjemput pakaian juga memiliki berbagai risiko. Salah satunya ketika hujan turun saat ia harus mengantarkan pakaian kepada pelanggan.

"Pakaian yang sudah diminta konsumen tetap harus diantar meski cuaca hujan. Saya menggunakan mantel saat mengendarai becak, sementara pakaian disimpan di dalam boks," tuturnya.

Hujan juga dapat menimbulkan masalah pada kendaraan yang digunakannya. Air terkadang membuat busi basah hingga kendaraan mati di tengah perjalanan. Karena itu, Rizki selalu menyiapkan kain di bagian jok untuk membersihkan busi agar kendaraan dapat kembali dinyalakan.

Kemacetan menjadi kendala lainnya. Menggunakan becak yang disediakan oleh tempat kerja membuat waktu tempuh terkadang lebih panjang. Akibatnya, pakaian yang seharusnya tiba sesuai waktu yang dijanjikan kepada pelanggan bisa mengalami keterlambatan.

Kondisi tersebut beberapa kali membuat Rizki menerima keluhan dari pelanggan.

"Kadang-kadang ada konsumen yang mengerti, kadang-kadang ada yang tidak," katanya.

Bagi Rizki, tantangan menjalani dua aktivitas sekaligus tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan dan waktu. Ia juga harus mengorbankan kesempatan untuk menikmati masa kuliah bersama teman-temannya.

"Kadang-kadang sedih melihat teman-teman yang lain pulang kuliah bisa pergi main, jalan-jalan, nongkrong, sedangkan saya harus bekerja untuk bertahan hidup," ucapnya.

Untuk menjaga perasaannya, Rizki memilih membisukan unggahan teman-temannya di media sosial seperti Instagram dan WhatsApp agar tidak terlalu terbawa suasana ketika melihat aktivitas mereka.

Keputusannya untuk bekerja juga tidak terlepas dari kondisi keluarganya. Rizki merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Keempat kakaknya telah berkeluarga, sedangkan kedua orang tuanya masih tinggal di Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh.

Ayahnya yang kini berusia sekitar 58 hingga 59 tahun sudah tidak memiliki pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Menurut Rizki, sang ayah lebih banyak melakukan aktivitas untuk mengisi waktu sekaligus memenuhi kebutuhan kecil sehari-hari.

Untuk biaya pendidikan, Rizki mendapatkan bantuan melalui Beasiswa Adzkia Unggul yang diberikan kampus. Beasiswa tersebut membebaskan dirinya dari pembayaran UKT hingga semester VIII.

Meski biaya kuliah terbantu, kebutuhan hidup selama berada di Padang tetap harus dipenuhi sendiri.

"Membiayai diri sendiri alhamdulillah berpandai-pandai. Dibilang terpenuhi alhamdulillah. Ada saja rezeki di tempat lain," katanya.

Saat rasa lelah muncul atau ketika sempat terpikir untuk berhenti bekerja, Rizki biasanya berbagi cerita dengan teman yang usianya lebih tua. Dukungan dan nasihat dari mereka menjadi penyemangat baginya untuk kembali menjalani rutinitas.

Bagi Rizki, kuliah dan bekerja kini menjadi dua bagian yang tidak dapat dipisahkan. Jadwal perkuliahan menjadi dasar untuk menentukan waktu bekerja, sementara penghasilan dari pekerjaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama menempuh pendidikan di Padang.

Membagi waktu bagi Rizki bukan lagi pilihan antara pendidikan dan pekerjaan. Keduanya harus dijalankan secara bersamaan demi mempertahankan kuliah sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update