Notification

×

Iklan

Kerusuhan Besar Guncang Prancis, Ratusan Ribu Orang Turun ke Jalan

Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:47 WIB Last Updated 2026-10-18T07:47:00Z

Demonstrasi rusuh pecah di penjuru Prancis

Jakarta, Rakyatterkini.com – Gelombang demonstrasi besar melanda berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (17/10/2026). Ratusan ribu orang, mulai dari kalangan pelajar hingga mantan anggota gerakan rompi kuning (Yellow Vests), turun ke jalan untuk menyampaikan protes terhadap tingginya biaya hidup dan memburuknya pelayanan publik.

Aksi yang awalnya berlangsung damai di sejumlah kota itu kemudian diwarnai kericuhan. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terjadi di berbagai lokasi, disertai pembakaran, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan toko.

Kerusuhan tersebut menjadi salah satu gelombang kekerasan terbesar yang melanda Prancis dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah aksi damai yang digelar di puluhan kota, sejumlah kelompok radikal dilaporkan melakukan perusakan terhadap bangunan pemerintah, pusat perbelanjaan, kendaraan, dan fasilitas milik publik.

Di Kota Limoges, gedung balai kota dilaporkan terbakar. Sementara itu, sekelompok demonstran berpakaian hitam di Marseille menerobos masuk ke balai kota dan mencoret-coret dinding dengan tulisan bernuansa anarkistis. Aksi pembakaran juga terjadi di kantor pariwisata Kota Lyon.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tunduk pada tekanan yang dilakukan melalui kekerasan. Ia menuding kelompok sayap kiri ekstrem dan pelaku kriminal berada di balik sejumlah aksi anarkistis tersebut, terutama menjelang pemilihan presiden.

Melalui unggahan di media sosial X, Lecornu menyatakan pemerintah tidak akan membiarkan kekerasan dijadikan alat untuk memaksakan kepentingan politik.

Ia juga menyampaikan bahwa aparat kepolisian telah mengamankan sekitar 1.200 orang yang diduga terlibat dalam kerusuhan di berbagai wilayah Prancis.

Mengenai jumlah peserta aksi, pemerintah memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi. Namun, konfederasi serikat pekerja CGT menyebut jumlah massa yang turun ke jalan mencapai sekitar 800.000 orang.

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengecam aksi kekerasan yang terjadi di tengah demonstrasi. Ia berjanji akan memastikan para pelaku perusakan diproses sesuai hukum.

Macron menegaskan bahwa pemerintah berdiri bersama masyarakat yang menyampaikan aspirasi secara damai dan menentang pihak-pihak yang berupaya mengacaukan situasi serta merusak institusi negara.

Di sisi lain, sejumlah peserta demonstrasi damai menilai tindakan kelompok perusuh telah mengalihkan perhatian dari tuntutan utama mereka. Mereka menyebut aksi kekerasan justru merugikan gerakan yang bertujuan memperjuangkan perbaikan kondisi sosial dan ekonomi.

Dalam demonstrasi di Paris, sejumlah massa membawa spanduk berisi kritik terhadap pemerintah, kepolisian, presiden, serta kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.

Seorang demonstran berusia 19 tahun bernama Lola mengatakan, tingginya biaya hidup dan mahalnya bahan bakar menjadi alasan utama dirinya ikut berunjuk rasa. Ia juga menyoroti kondisi pendidikan, termasuk kebutuhan akan lebih banyak guru dan fasilitas belajar yang memadai.

Menurut Lola, para pelajar menginginkan lingkungan pendidikan yang lebih baik serta perlindungan bagi siswa yang menyampaikan aspirasi mereka.

Sebagian besar demonstrasi mulai berlangsung pada tengah hari. Situasi di sejumlah kawasan Paris memanas ketika polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, yang didominasi kalangan muda.

Sejumlah demonstran terlihat mengenakan pakaian hitam, jaket bertudung, masker, dan kacamata sebagai pelindung dari paparan gas air mata.

Di tengah kericuhan, kelompok perusuh dilaporkan mencoba menerobos masuk ke gerai Galeries Lafayette, merusak bangunan bank, serta menjarah sejumlah toko, termasuk gerai Lacoste dan butik lainnya. Gerai operator telekomunikasi SFR juga menjadi sasaran penjarahan.

Pembakaran turut terjadi di sejumlah lokasi, dengan kendaraan menjadi salah satu objek yang dirusak massa.

Protes Biaya Hidup Meluas ke Negara Eropa Lain

Gelombang ketidakpuasan masyarakat tidak hanya terjadi di Prancis. Pada hari yang sama, demonstrasi dalam skala lebih kecil juga berlangsung di Belgia, Portugal, dan Italia. Sementara itu, Albania menghadapi aksi massa yang menyoroti persoalan korupsi, terbatasnya kesempatan kerja, serta rendahnya kualitas pendidikan.

Di Brussels, Belgia, ratusan orang yang sebagian besar merupakan anak muda menggelar demonstrasi. Sejumlah peserta terlibat bentrokan dengan aparat keamanan.

Kelompok pelajar di negara tersebut menyampaikan keberatan atas kenaikan biaya pendidikan dan kebijakan reformasi yang mereka khawatirkan dapat membuat perguruan tinggi semakin sulit dijangkau masyarakat.

Di Albania, aparat kepolisian dilaporkan menggunakan peluru karet untuk membubarkan demonstran. Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang unjuk rasa yang telah memasuki hari kelima, dengan tuntutan agar Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.

Sementara itu, puluhan ribu warga Portugal memadati jalan-jalan di Lisbon untuk memprotes mahalnya biaya tempat tinggal dan kebutuhan hidup lainnya. Aksi itu berlangsung setelah beberapa hari sebelumnya terjadi kerusuhan terkait persoalan ekonomi.

Kenaikan harga properti di Portugal sejak 2017 telah memperburuk kemampuan masyarakat untuk membeli maupun menyewa rumah. Kondisi tersebut menjadikan persoalan keterjangkauan hunian sebagai salah satu masalah sosial utama di negara itu.

Di Italia, demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Milan berakhir ricuh. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang berkumpul di kawasan alun-alun dekat katedral utama kota.

Kericuhan serupa terjadi di Bologna. Aparat menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran dan melakukan penangkapan setelah aksi protes berubah menjadi bentrokan.

Rangkaian demonstrasi di sejumlah negara tersebut memperlihatkan besarnya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Eropa. Tingginya biaya kebutuhan sehari-hari, persoalan pendidikan, sulitnya memperoleh hunian yang terjangkau, serta ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah menjadi isu yang mendorong warga turun ke jalan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update