Padangpanjang, Rakyatterkini.com — Peran perguruan tinggi seni dalam menjaga kebebasan berpikir, mengembangkan kreativitas, dan melestarikan kebudayaan menjadi pembahasan utama dalam Diskusi Publik Ampadu Tanah bersama Komunitas Seni Kuflet ke-6. Kegiatan tersebut berlangsung di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Kamis malam (8/10/2026), pukul 20.00 WIB.
Diskusi ini menjadi wadah bagi seniman, akademisi, budayawan, dan mahasiswa untuk mengevaluasi arah pendidikan seni sekaligus membahas berbagai persoalan yang berkembang dalam kehidupan akademik di lingkungan kampus.
Moderator diskusi, Wendy HS, menyampaikan bahwa forum terbuka seperti ini memiliki peran penting dalam menumbuhkan pola pikir kritis di kalangan mahasiswa maupun sivitas akademika. Melalui dialog, berbagai persoalan dapat dibahas secara terbuka dan menghasilkan pemikiran yang konstruktif.
Sastrawan sekaligus sutradara teater, Sulaiman Juned, turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga tradisi diskusi di lingkungan perguruan tinggi. Dalam kesempatan tersebut, ia juga membacakan puisi berjudul Seikat Mawar Takkan Mampu Membunuh Bau Busuk.
Menurut Sulaiman, diskusi yang dilakukan secara berkelanjutan diperlukan untuk mempertahankan kebebasan berpikir dan ketajaman daya kritis mahasiswa, khususnya ketika menghadapi kebijakan kampus. Ia menilai mahasiswa harus berani mengemukakan pendapat serta menunjukkan kepedulian terhadap berbagai persoalan pendidikan tinggi.
Narasumber lainnya, Pandu Birowo, S.Sn., M.A., mengajak peserta menelaah kembali kedudukan dan tanggung jawab seni dalam kehidupan manusia, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan.
Ia mempertanyakan apakah mandat seni selama ini telah terlaksana dengan baik atau justru perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan kebutuhan zaman.
Pandu menjelaskan, manusia memiliki tiga jalur utama dalam upaya memahami kebenaran, yakni filsafat, sains, dan seni. Filsafat berperan dalam membangun pemahaman konseptual, sains mengembangkan pengetahuan untuk kebutuhan praktis, sedangkan seni memberikan pengalaman yang berkaitan dengan rasa, penghayatan, dan kebebasan berekspresi.
Pandangan mengenai kondisi pendidikan seni juga disampaikan Hamzah, perupa sekaligus dosen Seni Rupa Murni. Ia membagikan pengalaman pribadinya sebagai seorang seniman sekaligus mengungkapkan kegelisahannya terhadap situasi akademik yang berkembang saat ini.
Hamzah menilai persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan seni perlu disampaikan secara terbuka agar dapat menjadi bahan refleksi bersama dan mendorong perbaikan ke depan.
Sementara itu, budayawan sekaligus pensiunan dosen Karawitan ISI Padangpanjang, Drs. Hajizar, M.Sn., mengulas sejarah berdirinya institusi tersebut. Ia menekankan perlunya ruang komunikasi yang terbuka agar seluruh unsur kampus dapat bertukar pikiran dan berkontribusi terhadap kemajuan lembaga.
Menurut Hajizar, dialog semacam ini dapat memperluas perspektif sivitas akademika dalam melihat berbagai persoalan serta merumuskan langkah untuk memajukan kampus.
Ia juga menyoroti kebijakan perluasan kelembagaan melalui pembukaan 22 program studi baru di bidang pendidikan serta sosial-humaniora. Hajizar berpandangan bahwa kebijakan tersebut perlu dikaji kembali oleh senat untuk memastikan pengembangan institusi tetap sejalan dengan tujuan awal pendiriannya, yaitu membina dan melestarikan seni serta kebudayaan Minangkabau dan Melayu.
Dalam sesi diskusi, Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.A., mengingatkan bahwa perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab penting dalam memajukan kebudayaan nasional di tengah perkembangan peradaban dunia. Tanggung jawab tersebut, menurutnya, sejalan dengan amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945.
Meski demikian, ia turut mengkritisi tata kelola birokrasi dan administrasi kampus yang dianggap terlalu kaku. Sistem yang terlalu administratif dikhawatirkan menguras waktu dan tenaga para pendidik serta membatasi keleluasaan seniman dalam berkarya dan mengembangkan kreativitas.
Dari kalangan mahasiswa, Caki menyambut positif penyelenggaraan forum tersebut. Ia menilai diskusi publik ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menjadi tempat bertukar gagasan secara terbuka.
Caki berharap kegiatan serupa dapat semakin sering dilaksanakan dan melibatkan lebih banyak mahasiswa. Partisipasi aktif mahasiswa dinilainya penting untuk membangun budaya dialog, memperkuat keberanian menyampaikan pendapat, serta meningkatkan kepedulian terhadap perkembangan kampus.
Diskusi publik tersebut menegaskan pentingnya menempatkan seni sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Bagi ISI Padangpanjang, upaya ini dinilai penting agar institusi tetap menjalankan perannya sebagai pusat pengembangan seni, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Ke depan, forum diskusi diharapkan dapat terus berlangsung secara rutin sebagai ruang pertukaran gagasan, pemeliharaan sikap kritis, dan penguatan kebebasan akademik di lingkungan kampus.(da*)


