Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat (AS) menyetujui tujuh persyaratan yang diajukan Teheran sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik secara damai.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa komunikasi antara Iran dan AS masih berlangsung melalui perantara sejumlah negara, yakni Irak, Pakistan, dan Qatar.
“Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum tujuh persyaratan Iran dipenuhi. Amerika berupaya menjalin komunikasi dengan kami melalui tiga jalur, yaitu Irak, Pakistan, dan Qatar,” ujar Rezaei dalam wawancara dengan televisi Press TV, Minggu (11/10).
Ia menjelaskan, Washington telah menyampaikan tanggapan atas beberapa tuntutan yang diajukan Teheran. Meski demikian, menurut Rezaei, AS baru menyetujui sebagian persyaratan tersebut, sedangkan sikapnya terhadap tuntutan lainnya masih belum menunjukkan kejelasan.
“Respons mereka terhadap sejumlah persyaratan lainnya masih belum jelas,” katanya.
Selain menyoroti proses komunikasi diplomatik, Rezaei juga menuduh AS berulang kali melakukan serangan terhadap Iran ketika pembicaraan antara kedua negara kembali berlangsung. Ia menilai tindakan tersebut bertentangan dengan upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Hubungan Iran dan AS terus memburuk setelah kedua pihak terlibat dalam serangkaian aksi militer. Pada 28 Februari, AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan.
Ketegangan kembali meningkat pada Maret ketika AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di kompleks ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh yang berada di wilayah selatan Iran.
Pada pertengahan Juni, Iran dan AS sempat menandatangani memorandum yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena serangan kembali terjadi di antara kedua pihak.
Perselisihan yang belum terselesaikan itu turut berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut memiliki peran strategis dalam distribusi minyak mentah, produk olahan minyak, serta gas alam cair ke berbagai negara.
Gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian internasional mengingat pentingnya kawasan itu bagi perdagangan energi global. Jika situasi terus memburuk, distribusi energi berisiko terganggu dan dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak serta bahan bakar di pasar dunia.(da*)


