Jakarta, Rakyatterkini.com – Iran kembali mengeluarkan ancaman untuk menghentikan lalu lintas yang mereka kategorikan sebagai aktivitas “ilegal” di Selat Hormuz. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut masih berada di tangan Iran, bertolak belakang dengan pernyataan Amerika Serikat.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global melewati perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.
Namun, aktivitas pelayaran di kawasan itu mengalami gangguan serius sejak perang antara AS-Israel dan Iran pecah pada akhir Februari. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi di pasar internasional.
Harga minyak mentah Brent pada Rabu berada di sekitar USD101 per barel. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan level sekitar USD72 per barel sebelum konflik berlangsung.
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang juga menjadi penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Reza Naqdi, mengatakan sejumlah jalur transit di sepanjang pesisir Oman akan segera dihentikan.
Menurut Naqdi, jalur tersebut dibuat dengan merusak atau meledakkan bagian-bagian berbatu di kawasan perairan. Rute itu kemudian dimanfaatkan kapal-kapal berukuran kecil untuk membawa minyak sebelum muatannya dipindahkan ke kapal tanker.
Naqdi menyebut aktivitas tersebut sebagai bentuk “penyelundupan”. Ia juga menilai jumlah pengiriman melalui jalur itu belum cukup untuk membuktikan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz telah kembali seperti kondisi normal.
“Selat Hormuz ditutup dan angkatan bersenjata Republik Islam Iran memiliki kendali penuh atas selat tersebut,” kata Naqdi, Rabu. Ia menegaskan pembatasan akan terus diberlakukan hingga tuntutan yang disebutnya sebagai tuntutan sah Iran dipenuhi.
Sebelumnya, Iran menyatakan kesediaannya untuk membuka kembali jalur tersebut dengan syarat Amerika Serikat mengurangi tekanan militernya serta menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pernyataan Iran itu bertolak belakang dengan pandangan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Pada hari yang sama, Rubio menyebut Selat Hormuz masih “terbuka” dan menilai Iran sudah tidak lagi memegang kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut.
Rubio mengatakan volume minyak yang saat ini keluar melalui kawasan tersebut hampir menyamai tingkat pengiriman sebelum konflik pecah.
Presiden AS Donald Trump turut menyatakan bahwa militer Amerika membantu proses pengiriman minyak melewati Selat Hormuz. Trump bahkan mengklaim arus pengiriman harian telah meningkat hingga lebih dari 20 juta barel.
Trump juga menyoroti persoalan pasokan solar dunia. Menurutnya, gangguan pasokan tersebut lebih banyak dipengaruhi serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia ketimbang konflik di Timur Tengah. Ia pun meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghentikan serangan terhadap kilang-kilang Rusia.
Di sisi lain, ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut dilaporkan mulai mengalami peningkatan. Data sementara Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan rata-rata pergerakan selama tujuh hari mencapai 18,3 juta barel per hari pada 30 September. Perhitungan tersebut juga mencakup pengiriman minyak yang dilakukan melalui jalur di luar Selat Hormuz.
Meski aktivitas ekspor meningkat, ancaman keamanan di sekitar Selat Hormuz masih tinggi. Otoritas India melaporkan sebuah kapal tanker berbendera Panama bernama On Peace terkena proyektil di dekat Oman pada Selasa. Insiden tersebut menyebabkan 12 anggota awak kapal mengalami luka-luka.(da*)


