Notification

×

Iklan

Inflasi Sumbar September Turun Jadi 3,50 Persen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:45 WIB Last Updated 2026-10-04T12:45:00Z

Mohamad Abdul Majid Ikram

Padang, Rakyatterkini.com – Laju inflasi tahunan di Sumatera Barat pada September 2026 kembali mengalami perlambatan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Sumbar secara tahunan mencapai 3,50 persen atau year on year (yoy), dan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat (BI Sumbar), Mohamad Abdul Majid Ikram, menyebut angka tersebut memperlihatkan tren inflasi tahunan yang semakin terkendali. Dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi September turun dari 3,76 persen pada Agustus 2026.

Majid Ikram mengatakan tren penurunan tersebut telah berlangsung sejak Juni 2026. Kendati inflasi tahunan melandai, perkembangan harga secara bulanan tetap perlu dicermati lantaran terjadi peningkatan pada September.

“Inflasi bulanan Sumatera Barat pada September 2026 tercatat 0,60 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Agustus sebesar 0,18 persen. Sementara secara kumulatif sejak Januari sampai September 2026 mencapai 1,83 persen,” ujarnya.

Menurut Majid Ikram, sejumlah komoditas pangan turut mendorong turunnya inflasi tahunan. Beberapa di antaranya adalah cabai merah, bawang merah, serta telur ayam ras yang mengalami penurunan harga.

Secara tahunan, cabai merah tercatat memberikan andil deflasi sebesar minus 0,23 persen. Kemudian bawang merah menyumbang deflasi minus 0,16 persen, sedangkan telur ayam ras memberikan andil minus 0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas masih menjadi sumber tekanan inflasi. Daging ayam ras memberikan andil sebesar 0,31 persen, emas perhiasan 0,30 persen, dan beras sebesar 0,23 persen.

Kenaikan harga daging ayam ras antara lain dipicu bertambahnya biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku pakan. Sementara kenaikan harga beras dipengaruhi turunnya produksi setelah sejumlah lahan sawah mengalami kerusakan akibat bencana, ditambah pasokan dari luar daerah yang terbatas.

Untuk inflasi bulanan September, tekanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga di antaranya cabai merah, daging ayam ras, beras, cabai hijau, serta ikan cakalang.

Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni sebesar 0,47 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya pengiriman cabai ke luar Sumatera Barat, penurunan produksi secara nasional, berkurangnya pasokan dari beberapa daerah yang terdampak erupsi dan kebakaran hutan serta lahan, serta gangguan organisme pengganggu tanaman di sejumlah sentra produksi.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update