Jakarta, Rakyatterkini.com – Sebuah gedung bertingkat yang masih dalam tahap pembangunan roboh di Nairobi, Kenya, Insiden tersebut memunculkan kekhawatiran adanya orang yang terjebak di bawah material bangunan. Tim penyelamat langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pencarian dan mengevakuasi kemungkinan korban yang masih hidup.
Bangunan itu terletak di Jalan ke-9, kawasan Eastleigh, Nairobi. Otoritas Konstruksi Nasional Kenya telah mengamankan area sekitar gedung dengan memasang garis pembatas. Sejumlah instansi terkait juga dilibatkan untuk mendukung operasi pencarian sekaligus mengumpulkan informasi awal mengenai penyebab kejadian.
Gubernur Nairobi, Johnson Sakaja, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Pusat Operasi Bencana Nasional, Palang Merah Kenya, Angkatan Pertahanan Kenya, serta berbagai lembaga lainnya. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan proses pencarian terhadap orang-orang yang diduga masih berada di bawah reruntuhan berjalan optimal.
Dikutip dari BNO News, Minggu (25/10/2026), Sakaja menyebutkan bahwa sejumlah alat berat telah didatangkan untuk membantu tim penyelamat membersihkan material bangunan dan mencari kemungkinan korban. Petugas kesehatan juga disiagakan guna memberikan pertolongan medis apabila ada korban yang berhasil ditemukan.
Pemerintah meminta warga yang mengetahui informasi mengenai anggota keluarga atau orang lain yang belum diketahui keberadaannya setelah kejadian tersebut agar segera melapor kepada petugas di lokasi. Masyarakat juga dapat menghubungi nomor darurat 1508 atau 1199. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada kepastian mengenai jumlah orang yang tertimbun maupun korban luka akibat runtuhnya bangunan.
Berdasarkan keterangan Otoritas Konstruksi Nasional Kenya, proyek pembangunan gedung tersebut telah tercatat secara resmi sejak 30 Juli 2025. Lokasi proyek berada di sepanjang Jalan ke-9, kawasan Eastleigh.
Dalam dokumen administrasi proyek, 9th Street Plaza Limited tercatat sebagai pengembang, sementara Stromax Holdings EA Limited bertanggung jawab sebagai kontraktor. Dokumen yang sama juga mencantumkan Emmanuel Mwangi Maina sebagai arsitek dan Joseph Muturi Mugu sebagai insinyur struktur yang terlibat dalam pembangunan gedung tersebut.
Sakaja mengungkapkan bahwa proyek itu telah mendapatkan persetujuan pembangunan. Namun, gedung tersebut belum mengantongi sertifikat izin penggunaan. Ia menegaskan, kegiatan usaha di lantai dasar ketika pekerjaan konstruksi masih berlangsung di bagian atas tidak semestinya dilakukan tanpa persetujuan yang dipersyaratkan.
Menyikapi kejadian ini, Sakaja mendorong pemberian sanksi yang lebih tegas kepada pengembang yang tidak mematuhi rancangan bangunan dan ketentuan keselamatan yang telah disahkan. Menurutnya, kepatuhan terhadap standar konstruksi perlu ditegakkan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Ia juga menyampaikan telah mengirimkan surat kepada Kantor Direktur Penuntut Umum. Surat tersebut berisi permintaan agar kewenangan penuntutan dikembalikan kepada pemerintah daerah, sehingga pihaknya dapat mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melanggar ketentuan pembangunan.
Sementara itu, Otoritas Konstruksi Nasional Kenya menyatakan akan memberikan informasi lanjutan mengenai perkembangan pencarian korban dan kondisi lokasi setelah data terbaru tersedia.
Selama proses penyelamatan masih berlangsung, masyarakat diimbau tidak mendekati kawasan yang telah dipasangi garis pembatas. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keselamatan warga sekaligus memberikan ruang bagi petugas agar dapat bekerja secara aman dan maksimal.(da*)


