Notification

×

Iklan

Ekonomi Sumbar Tumbuh 4,54 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 | 00:19 WIB Last Updated 2026-10-20T17:19:00Z

Ilustrasi

Padang, Rakyatterkini.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut mencapai 4,54 persen pada triwulan II 2026. Angka ini menunjukkan perlambatan dibandingkan triwulan I 2026 yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,01 persen.

Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, menyampaikan bahwa perekonomian daerah masih berada dalam tren positif. Namun, laju pertumbuhannya tidak sekuat periode sebelumnya sehingga perkembangan sektor-sektor utama perlu terus diperhatikan.

Ia menyampaikan hal tersebut di Padang, Selasa, berdasarkan Laporan Perekonomian Sumatera Barat periode Agustus 2026. Menurutnya, pemantauan terhadap sektor penopang ekonomi diperlukan untuk memahami perubahan kondisi perekonomian daerah.

Sejumlah faktor turut mendukung pertumbuhan ekonomi Sumbar, di antaranya keberlanjutan pemulihan setelah bencana, peningkatan hasil produksi pertanian, pembangunan infrastruktur, serta kinerja ekspor yang masih terjaga.

Berdasarkan lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kinerja sektor ini didukung oleh membaiknya produksi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, hingga peternakan.

Sementara itu, pertumbuhan pada sektor perdagangan, industri pengolahan, serta transportasi dan pergudangan mengalami perlambatan. Kondisi tersebut sejalan dengan normalisasi kegiatan ekonomi setelah berlangsungnya hari besar keagamaan nasional (HBKN).

Di sisi lain, tekanan harga barang dan jasa di Sumbar menunjukkan peningkatan. BI mencatat inflasi pada triwulan II 2026 mencapai 4,70 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,37 persen.

Majid Ikram menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas turut memengaruhi inflasi. Komoditas tersebut meliputi cabai merah, beras, bensin, minyak goreng, dan emas perhiasan. Selain itu, meningkatnya harga energi dunia ikut memberikan tekanan terhadap biaya produksi maupun distribusi barang.

Meski inflasi triwulanan meningkat, perkembangan inflasi secara kumulatif masih relatif terkendali. Hingga Juni 2026, inflasi Sumbar berdasarkan tahun kalender atau year-to-date (ytd) tercatat sebesar 0,98 persen.

Dalam laporan tersebut, BI Sumbar menyebut capaian inflasi kumulatif itu sebagai yang terendah dalam tiga tahun terakhir.

Pergerakan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tersebut menjadi aspek penting dalam mengevaluasi kondisi perekonomian Sumatera Barat. Perkembangan itu juga mencerminkan dinamika konsumsi masyarakat, aktivitas dunia usaha, serta perubahan harga berbagai kebutuhan pokok di daerah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update