Notification

×

Iklan

Riyanda Lantik Direktur PDAM Sawahlunto, Dua Bom Waktu Menanti

Jumat, 18 September 2026 | 09:10 WIB Last Updated 2026-09-18T02:10:00Z

Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, melantik Yufron, sebagai Direktur PDAM Kota Sawahlunto masa bakti 2026-2031.

Sawahlunto, Rakyatterkini.com — Tidak ada waktu untuk seremoni. Itu pesan keras Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra saat melantik Yufron, sebagai Direktur PDAM Kota Sawahlunto masa bakti 2026-2031 di KHAS Ombilin Hotel, Kamis (17/9/2026).

Riyanda langsung tancap gas. Direktur baru harus mampu bergerak cepat menangani setiap persoalan distribusi air. Keluhan pelanggan tidak boleh mengendap di medsos.

"Yufron bukan orang baru. Pengalamannya bertahun-tahun di PDAM jadi modal. Tapi ini tugas berat. Harus dengan pola kerja cepat, kerja cerdas, dan kerja ikhlas," tegas Riyanda dalam amanat pelantikan.

Riyanda mengingatkan standar yang telah dibuat Plt. Direktur sebelumnya, Marwan. Saat itu, setiap aduan air mati di media sosial langsung direspon dan dieksekusi di lapangan.

"Pola itu wajib dipertahankan. Pelayanan air tidak kenal jam kerja. Kalau malam air mati, besok paginya anak-anak sekolah akan menjadi alarm bagi PDAM. Ini titik masalah yang harus ditangani secara cepat," sentilnya.

Pelayanan air menjadi atensi utama dalam 100 hari pertama pemerintahan Riyanda - Jeffry Hibatullah, dan mendapat respons sangat baik. Ia tidak mau standar itu turun.

Dua Bom Waktu: Danau Surut 2 Meter & Setoran PAD Nol

Bom waktu pertama: Krisis sumber air baku. Musim kemarau panjang mulai mengancam. Debit Danau Tandikek, Kandi yang menjadi tandon air tadah hujan dilaporkan menyusut drastis hingga 2 meter. Kondisi ini harus diwaspadai agar tidak memicu krisis pasokan.

Meski pompa Rantih menuju Kayu Gadang sudah kembali normal, Riyanda meminta PDAM tetap siaga penuh.

Bom waktu kedua: PDAM belum setor PAD. Ini yang paling menohok. DPRD Sawahlunto berulang kali mempertanyakan, mengapa hingga kini PDAM belum memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sepeserpun.

"Ini merupakan pertanyaan serius dari anggota DPRD setiap kali rapat," ujar Riyanda.

Menyadari beratnya tugas, Yufron tancapkan komitmen 3 pilar.

"Keberadaan air bersih, sehat, dan distribusi lancar merupakan hajat hidup orang banyak," kata Yufron.

Pilar 1: Kualitas Pelayanan - Pastikan distribusi optimal, respon cepat keluhan, dan jaga kualitas air sesuai standar kesehatan.

Pilar 2: Efisiensi Bisnis - Tekan angka kebocoran air (Non-Revenue Water) dan transparansi keuangan. Dari sinilah kunci PAD.

Pilar 3: Sinergitas Berkelanjutan - Perkuat kolaborasi dengan Pemko, instansi terkait, dan masyarakat untuk menghadapi krisis iklim dan infrastruktur.

Kini bola ada di tangan Yufron. Mampukah ia mengubah PDAM dari perusahaan yang dikeluhkan menjadi perusahaan yang menyumbang? (benny)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update