Notification

×

Iklan

Jarwansyah, Penyair dan Pejuang Kemanusiaan Berpulang

Senin, 21 September 2026 | 08:34 WIB Last Updated 2026-09-21T01:34:00Z

Jarwansyah

Jakarta, Rakyatterkini.com — Kabar duka datang pada Minggu pagi, 20 September 2026. Jarwansyah, sosok penyair, wartawan, seniman, sekaligus pekerja kemanusiaan asal Aceh, telah meninggal dunia di RS Brawijaya Saharjo, Jakarta Selatan.

Kepergian Jarwansyah terasa begitu mendadak. Tidak ada kabar mengenai kondisi dirinya sebelumnya. Pagi itu, kabar bahwa adik tercinta telah berpulang datang secara tiba-tiba dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta orang-orang yang selama ini dekat dengannya.

Jarwansyah bukan sekadar saudara bagi saya. Kami pernah menjalani masa pendidikan bersama di FKIP Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Sanggar Ceka atau Cempala Karya Banda Aceh, sanggar yang sebelumnya saya dirikan.

Pada 1990, kami kembali menjalani perjalanan berkesenian bersama dengan mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Nol Universitas Syiah Kuala. Dari dunia seni itulah banyak kenangan yang kami bangun bersama.

Kami pernah tinggal dalam satu lingkungan, menjalani kehidupan bersama, berkarya, dan aktif sebagai wartawan di koran kampus Warta Unsyiah. Kami juga sempat menjadi bagian dari staf Humas Universitas Syiah Kuala.

Begitu panjang perjalanan yang kami lalui bersama membuat kepergiannya terasa sangat berat. Kehilangan Jarwansyah bukan hanya kehilangan seorang adik, tetapi juga kehilangan sahabat, rekan berkarya, dan teman seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Jarak kemudian memisahkan kami. Jarwansyah menetap di Jakarta, sementara saya tinggal di Padang Panjang, Sumatera Barat. Namun, perbedaan tempat tinggal tidak membuat komunikasi kami terputus. Kami masih sering berbincang melalui telepon maupun WhatsApp untuk sekadar bertukar kabar.

Setiap kali saya berada di Jakarta, saya selalu berusaha menyempatkan diri bertemu dengannya. Begitu pula saat Jarwansyah mendapat tugas di Sumatera Barat, ia selalu berusaha mampir ke tempat kami.

Salah satu kenangan yang hingga kini masih kuat dalam ingatan adalah ketika saya bersama Sanggar Ceka Banda Aceh mementaskan karya di Taman Budaya Aceh pada 1995. Dalam pementasan tersebut, saya bertindak sebagai sutradara untuk naskah “Si Pihir dan Berudihe”, karya NN yang diterjemahkan Jarwansyah dari legenda masyarakat Alas, Aceh.

Beberapa waktu belakangan, kami kembali membicarakan naskah tersebut. Ada keinginan untuk menghidupkannya kembali dalam sebuah pertunjukan teater. Pembicaraan mengenai rencana itu menjadi salah satu kenangan terakhir yang kini terasa begitu berharga.

Jarwansyah merupakan putra Aceh yang lahir di Kutacane pada 30 Agustus 1970. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras dan tidak banyak mengeluh. Ia menjalani berbagai peran, mulai dari menulis, menjadi wartawan, berkesenian, hingga mengabdikan diri dalam bidang kemanusiaan.

Dalam perjalanan pengabdiannya, Jarwansyah dipercaya mengemban amanah sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tugas tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat yang menjadi korban bencana.

Pengabdiannya tidak berhenti pada saat bencana terjadi. Ia turut menangani proses pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan masyarakat setelah bencana berlalu. Banyak pekerjaan kemanusiaan yang dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.

Kepada adik ipar, istri almarhum, anak-anak, serta seluruh keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT memberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi kepergian Jarwansyah.

Allahummaghfirlahu warhamhu, wa 'afihi wa'fu 'anhu.

Selamat jalan, adikku Jarwansyah.

Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya, mengampuni segala kesalahan dan kekhilafanmu, serta menerima seluruh pengabdian yang telah engkau lakukan selama hidup sebagai amal kebaikan.

Engkau telah menghabiskan hidup untuk mengurus kehidupan orang lain, terutama mereka yang menghadapi bencana. Ketika bencana datang, engkau hadir. Ketika bencana berlalu, engkau tetap bekerja memastikan kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan.

Kini, tugasmu di dunia telah selesai.

Beristirahatlah dengan tenang dalam perjalanan kembali kepada Sang Khalik. Namamu dan segala kebaikanmu akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang mengenal dan menyayangimu.

Suatu hari nanti, kami yang masih berada di dunia juga akan menyusul, menanti waktu untuk kembali kepada-Nya.

Amin, ya Rabbal 'alamin.

Al-Fatihah.

Selamat jalan, adikku.

Jarwansyah, penyair yang mengurus bencana negeri dengan cinta.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update