Jakarta, Rakyatterkini.com — Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan setelah China, menyusul permintaan Arab Saudi, mendorong Iran untuk membatasi serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas dan infrastruktur minyak Saudi. Perkembangan tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent tercatat turun 95 sen atau 0,93 persen menjadi 104,87 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot 1,61 dolar AS atau 1,58 persen ke posisi 100,30 dolar AS per barel.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak bergerak naik di tengah meningkatnya ketegangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh peningkatan aktivitas militer kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran baru mengenai kelancaran pasokan energi dunia.
Di sisi lain, pasar minyak juga menghadapi persoalan dari sektor pengolahan. Penyedia data kilang IIR Energy memperkirakan kapasitas pengolahan minyak di AS akan mengalami penurunan sekitar 371.000 barel per hari pada pekan mendatang.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan persoalan utama yang tengah dihadapi pasar bukan semata-mata ketersediaan minyak mentah, melainkan kemampuan kilang dalam mengolahnya.
"Masalah yang dihadapi saat ini bukan pasokan, tetapi kapasitas pengolahan minyak," kata Flynn, dikutip Minggu (20/9/2026).
Meski langkah diplomatik China memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas, ketidakpastian masih cukup tinggi. JPMorgan bahkan menyatakan belum mempunyai proyeksi dasar yang pasti mengenai kondisi pasar minyak untuk pertama kalinya sejak konflik AS-Iran dimulai pada Februari lalu.
Situasi juga dipengaruhi oleh terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan data awal pelacakan kapal, hanya empat kapal pengangkut komoditas yang tercatat melintasi jalur tersebut pada Kamis lalu. Jumlah itu jauh di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya yang berada di kisaran 16 kapal.
Sebelumnya, harga minyak sempat mendekati posisi tertinggi dalam empat bulan setelah muncul laporan mengenai penghentian sementara aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan ekspor Yanbu, Arab Saudi.
Riyadh juga dikabarkan mengurangi sebagian pengiriman minyak menuju Eropa setelah pipa East-West mengalami kerusakan akibat serangan yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Bloomberg melaporkan Saudi Aramco telah menyampaikan kepada setidaknya dua perusahaan pengolahan minyak di Eropa bahwa pasokan minyak untuk bulan depan tidak akan dikirimkan.
Pada saat bersamaan, Arab Saudi dan kelompok Houthi kembali terlibat dalam aksi saling serang di kawasan perbatasan. Meluasnya konflik di Timur Tengah tersebut menambah risiko terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.
Berdasarkan citra satelit dan keterangan sejumlah sumber industri, tiga stasiun pompa yang menjadi bagian dari jaringan pipa East-West dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Sampai sekarang, belum diketahui secara pasti kapan seluruh fasilitas itu dapat kembali beroperasi normal.
Arab Saudi disebut tengah berupaya mengembalikan sekitar separuh kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari mendatang. Namun, estimasi mengenai waktu pemulihan aliran minyak masih beragam di antara sejumlah sumber.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran belum kembali melanjutkan perundingan setelah kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni lalu tidak berlanjut. Konflik kedua negara tersebut diperkirakan turut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada pekan depan.(da*)


