Jakarta, Rakyatterkini.com – Erupsi Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sekitar kawasan gunung api tersebut. Warga di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur menghadapi hujan pasir vulkanik yang turun hampir setiap hari, disertai suara gemuruh dari arah kawah.
Material vulkanik berupa pasir halus berwarna hitam terlihat mengendap di berbagai lokasi, mulai dari halaman rumah, badan jalan, lahan pertanian, hingga lingkungan sekolah.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, aktivitas erupsi Gunung Ili Lewotolok telah memberikan dampak terhadap 26 desa yang tersebar di dua kecamatan. Jumlah penduduk yang berada dalam kawasan terdampak tercatat sebanyak 5.816 kepala keluarga atau sekitar 19.998 jiwa.
Salah satu fasilitas yang turut terdampak adalah SMP Swasta Ile Lewotolok. Pasir vulkanik tidak hanya memenuhi bagian teras sekolah, tetapi juga terbawa masuk ke ruang-ruang kelas. Kondisi tersebut membuat aktivitas belajar mengajar harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi.
Setiap hari, guru dan siswa harus membersihkan lantai kelas dari tumpukan pasir dan debu vulkanik. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat material erupsi.
Selain hujan pasir, suara dentuman dan gemuruh dari kawasan kawah juga cukup sering terdengar keras. Suara tersebut bahkan beberapa kali membuat warga dan para penghuni sekolah terkejut ketika kegiatan pembelajaran sedang berlangsung.
Wakil Kepala SMP Swasta Ile Lewotolok, Paulina Lelang Leodawan, mengatakan hujan pasir hampir tidak pernah berhenti di sekitar sekolah.
“Setiap hari hujan pasir. Anak-anak sudah kami imbau untuk menggunakan masker dan sekolah juga menyediakan masker. Kondisinya memang setiap detik seperti ada hujan pasir, tetapi sejauh ini kegiatan belajar tetap berjalan. Kalau suara gemuruhnya terkadang sangat keras hingga membuat kami kaget,” kata Paulina, Jumat (11/9/2026).
Meskipun material vulkanik telah menyelimuti sejumlah kawasan permukiman, BPBD Kabupaten Lembata menyebut belum dilakukan evakuasi warga secara besar-besaran. Saat ini, status Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Evakuasi massal baru menjadi opsi apabila status aktivitas gunung meningkat menjadi Level III atau Siaga.
Hingga Jumat sore, Gunung Ili Lewotolok telah tercatat mengalami tiga kali letusan atau erupsi. Kolom abu dari aktivitas tersebut mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas kawah.
Masyarakat di sekitar gunung api diingatkan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta menggunakan masker ketika berada di luar rumah guna mengurangi paparan debu dan pasir vulkanik yang dapat mengganggu saluran pernapasan.(da*)


