Notification

×

Iklan

Ekonomi Sumbar Tumbuh 4,54 Persen pada Triwulan II 2026

Jumat, 04 September 2026 | 02:34 WIB Last Updated 2026-09-03T19:34:00Z

Ilustrasi

Padang, Rakyatterkini.com – Perekonomian Sumatera Barat menunjukkan kinerja positif pada triwulan II 2026. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, ekonomi daerah tersebut tumbuh 1,08 persen dibandingkan triwulan sebelumnya secara quarter to quarter (q-to-q). Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sumbar mencapai 4,54 persen secara year on year (y-on-y).

Pertumbuhan ekonomi terjadi di hampir seluruh kategori lapangan usaha. Namun, sejumlah sektor masih mengalami penurunan, yakni industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa keuangan, serta jasa perusahaan.

Sektor dengan pertumbuhan paling tinggi secara q-to-q adalah pengadaan listrik dan gas yang mencapai 12,13 persen. Berikutnya, jasa lainnya tumbuh 7,98 persen dan administrasi pemerintahan, pertahanan serta jaminan sosial wajib sebesar 7,43 persen.

Sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi salah satu penopang utama ekonomi Sumbar juga mencatat pertumbuhan, meski lebih terbatas, yakni sebesar 0,50 persen.

Dari sisi struktur ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026, komposisi lapangan usaha tidak mengalami perubahan berarti. Pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar, yakni 21,98 persen.

Kontribusi berikutnya berasal dari perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 16,50 persen. Transportasi dan pergudangan menyumbang 10,57 persen, konstruksi 9,20 persen, sedangkan industri pengolahan berkontribusi 8,28 persen.

Kelima sektor tersebut secara keseluruhan memberikan andil sebesar 66,53 persen terhadap perekonomian Sumatera Barat.

Pertumbuhan Ekonomi Secara Tahunan

Jika dibandingkan dengan triwulan II 2025, ekonomi Sumbar tumbuh 4,54 persen. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 17,57 persen.

Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib berada di posisi berikutnya dengan pertumbuhan 8,95 persen. Kemudian pengadaan listrik dan gas tumbuh 8,69 persen, sementara jasa kesehatan dan kegiatan sosial meningkat 7,99 persen.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki kontribusi dominan juga tumbuh 5,38 persen. Perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor meningkat 4,94 persen.

Di sisi lain, transportasi dan pergudangan menjadi salah satu sektor yang mengalami kontraksi dengan penurunan 0,45 persen. Sementara sektor konstruksi tumbuh 5,98 persen.

Untuk periode semester I 2026 dibandingkan semester I 2025, ekonomi Sumatera Barat tumbuh 4,77 persen secara cumulative to cumulative (c-to-c).

Pertumbuhan tertinggi berasal dari penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 17,67 persen, disusul administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 7,66 persen. Pertambangan dan penggalian tumbuh 7,01 persen, sedangkan jasa kesehatan dan kegiatan sosial meningkat 6,95 persen.

Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,25 persen. Sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor meningkat 5,53 persen, transportasi dan pergudangan 1,63 persen, serta konstruksi 5,74 persen.

Pertumbuhan Berdasarkan Pengeluaran

Dari sisi pengeluaran, ekonomi Sumbar pada triwulan II 2026 tumbuh 1,08 persen dibandingkan triwulan I 2026.

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh peningkatan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 15,65 persen. Selain itu, ekspor barang dan jasa tumbuh 15,10 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat 4,06 persen, dan Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) naik 1,32 persen.

Sementara itu, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) mengalami kontraksi sebesar 0,73 persen.

Komponen impor barang dan jasa yang menjadi faktor pengurang dalam penghitungan PDRB justru mengalami pertumbuhan sebesar 18,93 persen.

Berdasarkan struktur PDRB menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar. Pada triwulan II 2026, kontribusinya mencapai 50,79 persen atau lebih dari separuh total PDRB Sumbar.

Selanjutnya, PMTB berkontribusi 29,17 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 9,42 persen, net ekspor 9,55 persen, serta konsumsi lembaga non-profit rumah tangga sebesar 1,07 persen.

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Sumbar sebesar 4,54 persen pada triwulan II 2026 terutama didorong oleh ekspor barang dan jasa yang meningkat 22,00 persen.

Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 9,84 persen, PMTB sebesar 7,03 persen, PK-LNPRT 3,97 persen, dan konsumsi rumah tangga 2,52 persen. Adapun impor barang dan jasa tumbuh 27,91 persen.

Pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Sumbar sebesar 4,77 persen. Ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 19,78 persen, disusul konsumsi pemerintah 12,27 persen, PMTB 7,21 persen, PK-LNPRT 3,48 persen, dan konsumsi rumah tangga 2,82 persen.

Dalam periode yang sama, impor barang dan jasa sebagai komponen pengurang PDRB tumbuh 25,66 persen.

Posisi Sumbar dalam Perekonomian Pulau Sumatera

Secara spasial, perekonomian Pulau Sumatera pada triwulan II 2026 masih didominasi Sumatera Utara dengan kontribusi sebesar 23,37 persen terhadap total PDRB Pulau Sumatera. Riau berada sangat dekat di posisi berikutnya dengan kontribusi 23,33 persen.

Sumatera Selatan menyumbang 13,64 persen, Lampung 10,14 persen, Kepulauan Riau 7,18 persen, Jambi 6,62 persen, dan Sumatera Barat 6,55 persen.

Sementara itu, Aceh memberikan kontribusi 4,78 persen, Kepulauan Bangka Belitung 2,25 persen, dan Bengkulu 2,15 persen.

Dari sisi pertumbuhan tahunan, Kepulauan Riau mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera pada triwulan II 2026, yakni 6,99 persen.

Selanjutnya, Lampung tumbuh 5,29 persen, Sumatera Selatan 5,20 persen, Bengkulu 5,11 persen, Sumatera Utara 5,06 persen, Aceh 4,86 persen, Riau 4,75 persen, Sumatera Barat 4,54 persen, Jambi 4,15 persen, dan Kepulauan Bangka Belitung 4,01 persen.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update