Notification

×

Iklan

Yoga Pratama Berangkat ke Jepang, Bawa Harapan Keluarga

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:22 WIB Last Updated 2026-08-26T12:22:00Z

Impian Yoga Bekerja di Jepang

Padang, Rakyatterkini.com – Suasana haru dan bangga terasa di Kantor Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) Koto Lua, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (24/8/2026). Di tempat tersebut, Yoga Pratama berpamitan kepada orang tua dan masyarakat sebelum memulai perjalanan menuju Jepang.

Pemuda berusia 18 tahun asal Taratak, Kelurahan Koto Lua, itu dijadwalkan berangkat pada Rabu (26/8/2026). Ia akan bekerja di bidang pertanian di Numamoto Shinichi, Kota Tsuchiura, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Bagi Yoga, keberangkatan tersebut menjadi awal dari babak baru kehidupannya. Lulusan SMA Negeri 15 Padang tahun 2025 itu berhasil lolos sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) setelah melalui berbagai tahapan pelatihan, seleksi, dan administrasi.

Yoga merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Huri Dekrinata (39) dan Dewi Sartika (37). Ayahnya bekerja sebagai petugas keamanan di PT Telkom, sementara sang ibu menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Kedua adiknya masih menempuh pendidikan.

Berangkat dari kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, Yoga memilih untuk segera bekerja setelah lulus SMA. Keputusan tersebut diambil agar dirinya dapat membantu orang tua sekaligus ikut menopang biaya pendidikan kedua adiknya.

“Saya bangga, bersyukur, dan sangat senang mendapat kesempatan menjadi bagian dari program PMI ini. Kesempatan ini sangat berarti bagi saya dan akan saya manfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Yoga.

Kesempatan bekerja di Jepang diperolehnya melalui program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang digelar FPM Koto Lua bersama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPK) Kamisato Gakuin Center. Program tersebut telah berjalan sejak 2025 dan mendapat dukungan PT Semen Padang melalui program Basinergi Membangun Nagari.

Selama mengikuti pelatihan, Yoga tidak hanya mempelajari bahasa Jepang. Ia juga dibekali pengetahuan mengenai budaya, kedisiplinan, kebiasaan, hingga etika kerja masyarakat Jepang.

Perjalanan menuju keberangkatan juga tidak berlangsung singkat. Yoga harus melewati serangkaian tes, seleksi, serta proses administrasi hingga akhirnya mendapatkan kontrak kerja.

“Banyak tahapan yang harus saya lewati, mulai dari belajar bahasa dan budaya Jepang sampai mengikuti berbagai tes. Semua proses itu tidak mudah,” katanya.

Tekad untuk membantu keluarga membuat Yoga tetap bertahan meski menghadapi berbagai tantangan. Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Dari delapan peserta pelatihan, Yoga menjadi peserta pertama yang menyelesaikan seluruh proses hingga memperoleh kepastian keberangkatan ke Jepang.

“Saya bangga dengan perjuangan saya sampai sejauh ini. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapat kesempatan menjadi PMI di Jepang,” ucapnya.

### Membawa Harapan Keluarga

Di Jepang, Yoga akan menjalani kontrak kerja selama satu tahun. Jika memenuhi persyaratan dan menunjukkan kinerja baik, masa kerjanya dapat diperpanjang hingga lima tahun.

Bagi Yoga yang masih berusia 18 tahun, bekerja jauh dari keluarga tentu menjadi tantangan tersendiri. Ia harus mampu hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi perbedaan bahasa dan budaya, serta menahan rasa rindu kepada keluarga di kampung halaman.

Namun, semua tantangan itu justru dipandangnya sebagai peluang untuk membangun masa depan.

Yoga telah memiliki rencana setelah menyelesaikan masa kerjanya. Ia ingin menggunakan hasil kerja di Jepang sebagai modal untuk membuka usaha rumah kos ketika kembali ke Indonesia.

“Setelah sukses bekerja di Jepang dan pulang ke Indonesia, saya ingin membuka usaha rumah kos. Karena itu, kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan,” tuturnya.

Yoga juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung perjalanannya, mulai dari keluarga, FPM Koto Lua, lembaga pelatihan, hingga PT Semen Padang.

“Saya berterima kasih kepada PT Semen Padang yang sudah mendukung pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang difasilitasi FPM Koto Lua,” katanya.

### Pesan Sang Ayah

Bagi Huri Dekrinata, keberhasilan putra sulungnya menjadi kebanggaan sekaligus momen yang mengharukan. Ia tidak menyangka Yoga yang selama ini berada di dekat keluarga akhirnya memperoleh kesempatan bekerja hingga ke Jepang.

Huri mengatakan, sejak awal dirinya mendukung keputusan Yoga untuk bekerja setelah tamat SMA. Selain membantu perekonomian keluarga, pilihan tersebut diharapkan dapat membuat Yoga belajar mandiri.

“Saya tidak menyangka anak saya bisa sampai sejauh ini. Sejak kecil dia memang ingin menjadi orang sukses. Semoga kesempatan bekerja di Jepang ini menjadi jalan menuju keberhasilannya,” ujar Huri.

Pesan Huri kepada putranya pun sederhana. Ia meminta Yoga menjaga kesehatan, tetap menjalankan ibadah, dan tidak berhenti berdoa ketika menghadapi kesulitan.

“Jaga kesehatan, jangan lupa salat dan terus berdoa. Semoga Yoga sukses dan bisa membuat kami sebagai orang tua bangga,” katanya.

### Membuka Peluang bagi Pemuda Lain

Ketua FPM Koto Lua, Nofial, menjelaskan bahwa Yoga merupakan salah satu dari delapan peserta program pelatihan bahasa dan budaya Jepang. Lima peserta berasal dari Kelurahan Koto Lua, sedangkan tiga lainnya berasal dari Kelurahan Limau Manis Selatan.

Dari delapan peserta tersebut, empat orang telah memperoleh kontrak kerja di Jepang. Namun, baru Yoga yang memastikan keberangkatan. Tiga peserta lainnya masih menunggu *Certificate of Eligibility* (COE), sementara dua peserta sedang menjalani proses menuju wawancara akhir. Dua peserta lainnya memilih berhenti mengikuti proses karena telah memperoleh pekerjaan di Kota Padang.

“Dari delapan peserta, empat sudah mendapatkan kontrak kerja di Jepang. Namun, Yoga menjadi peserta pertama yang diberangkatkan. Tiga lainnya masih menunggu COE,” jelas Nofial.

Menurutnya, keberangkatan Yoga menjadi bukti bahwa program pelatihan tersebut mulai menunjukkan hasil. Ia berharap pencapaian itu dapat memotivasi peserta lain untuk menyelesaikan proses yang sedang mereka jalani.

Nofial mengakui bahwa biaya keberangkatan menuju Jepang cukup besar. Kebutuhan dana untuk setiap calon PMI diperkirakan mencapai sekitar Rp30 juta. Untuk mengatasi persoalan tersebut, FPM Koto Lua bekerja sama dengan investor yang menyediakan dana talangan.

“Yoga dan calon PMI lainnya tidak perlu khawatir dengan biaya awal keberangkatan. Investor telah berkomitmen menyediakan dana talangan,” ujarnya.

Dana tersebut nantinya dikembalikan peserta setelah mulai bekerja di Jepang. Dengan pendapatan yang diperoleh, pengembalian dana diperkirakan dapat dilakukan dalam waktu sekitar empat bulan.

Skema tersebut dibuat agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi pemuda dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan peluang kerja di luar negeri.

### Satu Pemuda, Satu Keluarga Berdaya

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Koto Lua, Indra Gunawan, menilai keberhasilan Yoga memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar pencapaian pribadi.

Menurutnya, program tersebut dapat menjadi salah satu upaya membantu keluarga kurang mampu meningkatkan kondisi ekonomi. Penghasilan seorang anggota keluarga yang bekerja di luar negeri dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan saudara, memperbaiki tempat tinggal, bahkan menjadi modal usaha.

“Satu orang yang bekerja di Jepang berpotensi membantu satu keluarga keluar dari kategori RTM. Karena itu, kami berharap dukungan terhadap program ini dapat terus berlanjut,” katanya.

Indra menyebut biaya pelatihan sekitar Rp6,5 juta per peserta cukup besar. Namun, dana tersebut dirancang agar dapat diputar kembali. Setelah peserta bekerja, biaya pelatihan dikembalikan secara bertahap dan kemudian dimanfaatkan untuk membiayai peserta berikutnya.

Dengan pola tersebut, dukungan yang diberikan dapat menciptakan manfaat berkelanjutan dan membuka kesempatan bagi lebih banyak pemuda.

### PT Semen Padang Dorong Kemandirian Ekonomi

Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengapresiasi FPM Koto Lua yang telah mendampingi Yoga hingga berhasil memperoleh pekerjaan di Jepang.

Menurut Win, program pelatihan bahasa dan budaya Jepang tersebut sejak awal memang diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar meningkatkan kemampuan peserta.

“Program ini sejak awal dirancang bukan hanya sebagai pelatihan, tetapi sebagai investasi sosial jangka panjang untuk membantu mengurangi kemiskinan di sekitar wilayah perusahaan. Kami bersyukur melihat hasilnya mulai terwujud,” kata Win.

Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari Basinergi Membangun Nagari yang dilaksanakan bersama FPM Koto Lua.

Melalui program itu, masyarakat tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga dibekali keterampilan dan akses menuju kesempatan kerja.

“Harapannya, program ini dapat melahirkan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan. Yoga menjadi peserta pertama yang berhasil berangkat sebagai PMI ke Jepang,” ujar Hernes.

Ia berpesan agar Yoga tetap disiplin selama bekerja, menghormati budaya dan aturan setempat, serta menjaga nama baik Indonesia.

Hernes juga berharap keberhasilan Yoga dapat menjadi inspirasi bagi peserta lain dan semakin banyak pemuda dari keluarga kurang mampu yang memperoleh kesempatan serupa.

Keberangkatan Yoga Pratama akhirnya bukan sekadar perjalanan seorang pemuda menuju negeri asing. Di balik langkahnya menuju Jepang, terdapat harapan untuk membantu orang tua, mendukung pendidikan adik-adiknya, sekaligus membangun masa depan yang lebih mandiri bagi keluarganya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update