Notification

×

Iklan

UNP: Flexing Prestasi Anak Bisa Picu Stres Akademik

Selasa, 04 Agustus 2026 | 03:46 WIB Last Updated 2026-08-03T23:07:35Z

Pakar UNP, Prof. Zadrian Ardi 

Padang, Rakyatterkini.com - Di tengah maraknya penggunaan media sosial, banyak orang tua membagikan pencapaian anak sebagai bentuk rasa bangga. 

Fenomena yang sering disebut sebagai flexing prestasi anak ini sempat menjadi perbincangan luas karena memunculkan beragam pandangan di masyarakat.

Di balik unggahan yang terlihat positif, terdapat potensi dampak psikologis yang perlu diwaspadai. Apabila kebanggaan orang tua berubah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi, anak berisiko mengalami tekanan mental yang dapat berkembang menjadi stres akademik.

Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Zadrian Ardi, menilai stres akademik tidak hanya dipicu oleh banyaknya tugas kuliah atau target nilai tinggi. Berdasarkan penelitian dan pengalaman menangani mahasiswa, tekanan juga muncul akibat ekspektasi pribadi maupun harapan orang tua yang tidak disampaikan melalui komunikasi yang baik.

Ia menjelaskan, stres akademik ditandai dengan berbagai kondisi seperti beban tugas, tuntutan memperoleh prestasi, rasa takut gagal, hingga tekanan untuk memenuhi harapan keluarga. Sayangnya, banyak mahasiswa memilih memendam masalah tersebut daripada menceritakannya kepada orang lain.

Menurut Zadrian, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak sering menjadi penyebab utama munculnya tekanan. Anak kerap tidak memahami harapan yang diinginkan orang tua, sementara orang tua menganggap ekspektasi mereka sudah dipahami. Situasi ini akhirnya menimbulkan beban psikologis bagi anak.

Dari pengalamannya mendampingi mahasiswa di Laboratorium Bimbingan dan Konseling UNP, ia menemukan bahwa stres akademik tidak hanya dialami mahasiswa dengan kemampuan akademik rendah. Banyak mahasiswa yang sebenarnya mampu menyelesaikan pendidikan, tetapi merasa terbebani oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang tua maupun target yang mereka buat sendiri.

Bahkan, terdapat mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi karena takut mengungkapkan kondisi sebenarnya kepada keluarga. Tidak sedikit yang mengaku telah mengerjakan skripsi, padahal belum memulainya karena khawatir mengecewakan orang tua.

Zadrian juga mengungkapkan bahwa sejumlah mahasiswa yang datang ke layanan konseling mengalami tekanan dalam berbagai tingkatan, mulai dari ringan hingga berat. Dalam beberapa kasus, mahasiswa bahkan harus mengonsumsi obat tidur atau obat psikiatri akibat stres akademik yang terus menumpuk tanpa penanganan sejak awal.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini dan pendampingan psikologis agar stres akademik tidak berkembang menjadi depresi atau gangguan mental lainnya.

Selain faktor keluarga, kebiasaan menunda pekerjaan atau procrastination turut memperbesar risiko stres akademik. Tugas yang terus ditunda akan menumpuk dan meningkatkan tekanan. Oleh karena itu, kemampuan mengatur waktu serta menerapkan strategi menghadapi tekanan menjadi hal yang penting dimiliki mahasiswa.

Menurutnya, budaya media sosial turut memperkuat tekanan tersebut. Orang tua memang wajar merasa bangga atas pencapaian anak. Namun, ketika prestasi anak terus dipamerkan atau dijadikan ukuran keberhasilan, anak bisa merasa harus selalu memenuhi ekspektasi yang sama.

Ia menegaskan bahwa yang perlu dihindari bukanlah membagikan rasa bangga terhadap anak, melainkan kebiasaan membandingkan mereka dengan orang lain atau menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar keberhasilan.

Untuk membantu mahasiswa mengatasi persoalan tersebut, timnya mengembangkan layanan konseling daring yang diawali dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Pendekatan ini bertujuan memberikan bantuan sejak gejala awal muncul sehingga tekanan yang dialami mahasiswa tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.

Di akhir keterangannya, Zadrian menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak. Orang tua boleh memiliki harapan terhadap anak, namun perlu memahami kemampuan mereka serta memberikan ruang untuk berdialog. Dengan mendengarkan perkembangan dan memberikan apresiasi atas setiap kemajuan, harapan orang tua tidak akan berubah menjadi tekanan yang membebani anak.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update