Notification

×

Iklan

Tradisi Maulid di Lunang, Jamba Jadi Simbol Kebersamaan Warga

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:26 WIB Last Updated 2026-08-28T15:26:00Z

Ber-Maulud di Lunang, Keikhlasan Terpancar Walau Suasana Berjubel

Pessel, Rakyatterkini.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu tradisi keagamaan yang masih dipertahankan masyarakat Muslim di berbagai daerah. Di Nagari Lunang, Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, tradisi tersebut berlangsung meriah di Masjid Nurul Hasanah, Kamis (27/8/2026).

Pelaksanaan Maulid di Lunang kali ini digelar dua hari setelah hari libur nasional yang ditetapkan pemerintah untuk memperingati Maulid Nabi, yakni Selasa (25/8/2026).

Masjid Nurul Hasanah yang berada satu kawasan dengan Rumah Mande Rubiah menjadi pusat kegiatan. Lokasinya berada di Kampung Lubuk Sitepung, Nagari Lunang. Bagi masyarakat setempat, perayaan tersebut bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tetua kampung, Abdul Kadir Dt. Bandaharo, mengatakan tradisi Maulid sudah berlangsung sejak dirinya masih kecil. Karena itu, masyarakat hingga kini terus menjaga dan meneruskannya.

"Sejak saya masih kecil, kegiatan seperti ini sudah ada. Jadi, sekarang kami hanya melanjutkan tradisi yang telah ada sejak dahulu," ujar Abdul Kadir saat ditemui di kediaman Mande Rubiah, Kamis.

Memasuki waktu setelah salat Zuhur, warga mulai berdatangan ke kawasan masjid. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Para perempuan membawa berbagai hidangan dalam wadah yang oleh masyarakat setempat disebut jamba.

Jamba tersebut kemudian dibawa ke dalam masjid dan diletakkan di bagian belakang. Sementara itu, kaum laki-laki mengambil posisi di bagian depan untuk membantu mengatur tempat agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung tertib.

Semakin sore, jumlah jamaah terus bertambah. Kondisi di dalam masjid pun menjadi semakin padat. Meski ruang gerak terbatas, warga tetap terlihat sabar dan tidak menunjukkan rasa keberatan. Mereka menunggu dengan tenang hingga acara utama dimulai.

Abdul Kadir yang juga merupakan aktivis Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Lunang menjelaskan, puncak peringatan Maulid dilaksanakan menjelang waktu salat Asar. Warga bersama-sama melantunkan salawat sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Setelah salawatan selesai, jamaah kemudian menikmati hidangan yang telah dibawa masing-masing keluarga. Isi jambanya beragam, mulai dari nasi dan lauk-pauk, kue tradisional, kerupuk hingga aneka makanan lainnya.

Jamba Disusun Bersama

Salah satu hal menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah pengelolaannya yang dilakukan secara sederhana. Tidak diperlukan panitia profesional atau event organizer. Seorang tetua kampung cukup menggunakan pengeras suara untuk memberikan arahan kepada warga.

Jamba yang sebelumnya terkumpul di bagian belakang masjid kemudian ditata secara berjejer. Hidangan disusun rapi sehingga warga dapat duduk saling berhadapan di sisi masing-masing makanan.

Kaum laki-laki tampak aktif membantu mengatur dan menata hidangan tersebut. Setelah seluruh persiapan selesai dan rangkaian salawat dilaksanakan, warga langsung menyantap makanan bersama.

Suasana kebersamaan begitu terasa. Selain makan di lokasi, sebagian hidangan juga dibungkus untuk dibawa pulang. Kantong plastik yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai kantong asoy digunakan untuk membawa makanan tersebut.

Menariknya, para perempuan yang sejak awal membawa dan menyiapkan makanan justru memilih keluar dari ruang utama masjid. Mereka memberikan kesempatan kepada kaum laki-laki untuk menikmati hidangan terlebih dahulu.

Meski demikian, kaum ibu tetap berada di sekitar masjid. Mereka bahkan dengan ramah mempersilakan tamu untuk ikut menyantap hidangan. Tidak berhenti di situ, mereka juga membungkuskan makanan untuk dibawa pulang.

Berbagai makanan diberikan, termasuk lemang yang menjadi salah satu hidangan khas dalam tradisi Maulid masyarakat setempat.

Sikap tersebut memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong dan keikhlasan yang masih hidup dalam masyarakat Lunang. Para perempuan yang membawa, memasak, hingga menata makanan tidak menuntut harus ikut menikmati hidangan di dalam masjid.

Persiapan makanan bahkan telah dilakukan sejak sehari sebelumnya. Setelah acara selesai, kaum ibu kembali mengambil peran untuk membersihkan masjid hingga kembali rapi dan siap digunakan untuk kegiatan ibadah.

Perputaran Uang Capai Ratusan Juta Rupiah

Di balik kemeriahan tradisi tersebut, perayaan Maulid di Lunang ternyata juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Warga mempersiapkan berbagai hidangan dengan kemampuan masing-masing.

Seorang warga, Nedia, mengungkapkan dirinya menghabiskan sekitar Rp300 ribu untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan hidangan jama. Menurutnya, jumlah tersebut masih relatif sederhana.

Jika dalam sebuah jama turut disediakan gelamai, biaya yang dibutuhkan bisa meningkat hingga sekitar Rp500 ribu.

Jika jumlah jama yang dibawa warga mencapai sekitar 1.000, dengan rata-rata biaya Rp300 ribu per jama, maka perputaran uang untuk kebutuhan makanan saja dapat mencapai sekitar Rp300 juta.

Besarnya biaya tersebut tidak membuat masyarakat kehilangan semangat. Mereka justru menganggap perayaan Maulid sebagai momentum istimewa, layaknya merayakan hari besar keagamaan.

Tradisi tersebut juga tidak berhenti pada kegiatan siang hari. Pada malam harinya, masyarakat melanjutkan kemeriahan dengan pertunjukan randai dan silat.

Keesokan harinya, warga kemudian melakukan kegiatan menjalang, yakni berkunjung ke rumah Mande Rubiah, sosok yang sangat dihormati masyarakat Lunang.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat mempertahankan nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada tokoh adat, serta keikhlasan dalam menjalankan tradisi.

Di tengah derasnya perubahan zaman dan pengaruh media sosial, nilai-nilai lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi itu masih terlihat kuat dalam kehidupan masyarakat Lunang.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update