Notification

×

Iklan

Tak Semua Candaan Bisa Disebut Bullying

Jumat, 14 Agustus 2026 | 23:12 WIB Last Updated 2026-08-14T16:12:00Z

Pengamat Pendidikan: Bullying Punya 3 Kriteria

Padang, Rakyatterkini.com — Tidak semua perilaku bercanda yang terjadi di lingkungan sekolah dapat langsung dikategorikan sebagai bullying atau perundungan. Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Indah Sukmawati, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah indikator yang perlu diperhatikan sebelum sebuah tindakan disebut sebagai perundungan.

Hal tersebut disampaikan Indah dalam dialog “Peta Isu” yang digelar Info Sumbar pada Kamis (13/8/2026). Diskusi tersebut mengangkat tema “Bullying di Sekolah, Candaan Berlebihan atau Kegagalan Sistem Perlindungan Siswa?”.

Dalam acara itu, hadir tiga narasumber, yakni Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Yopi Krislova, Pengamat Pendidikan Dr. Indah Sukmawati, serta Psikolog Universitas Negeri Padang Wirza Feny Rahayu. Talkshow dipandu oleh Pebri Anita Sari.

Indah menjelaskan, indikator pertama yang perlu dilihat adalah apakah candaan tersebut dapat diterima dan menyenangkan bagi semua pihak. Jika seluruh orang yang terlibat merasa nyaman, maka perilaku tersebut masih dapat dianggap sebagai candaan. Namun, apabila ada pihak yang merasa tersinggung, tidak nyaman, atau keberatan, situasinya perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Indikator kedua adalah frekuensi kejadian. Menurut Indah, tindakan yang dilakukan secara berulang dengan intensitas tertentu dapat mengarah pada perundungan.

Sementara itu, indikator ketiga berkaitan dengan adanya ketimpangan posisi atau kekuatan antara pihak yang terlibat. Jika seseorang yang menjadi sasaran tidak memiliki kemampuan untuk memberikan respons atau membalas candaan secara seimbang, maka tindakan tersebut berpotensi sudah bukan sekadar bercanda.

Indah juga menegaskan bahwa perundungan tidak terbatas terjadi di lingkungan sekolah. Fenomena serupa dapat ditemukan di berbagai tempat, termasuk kampus maupun tempat kerja. Dalam sebuah kasus perundungan, biasanya terdapat pelaku, korban, serta orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut atau dikenal sebagai bystander.

Menurutnya, dunia pendidikan saat ini juga mulai memberikan perhatian yang lebih luas terhadap kebutuhan dan kenyamanan peserta didik, bukan semata-mata mengejar capaian akademik. Sekolah semakin diarahkan untuk membantu siswa mengenali potensi serta bidang yang mereka minati.

Indah menambahkan, rasa aman merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi setiap anak. Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin agar berbagai hal yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan siswa dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Pembahasan selengkapnya mengenai fenomena bullying di sekolah bersama ketiga narasumber tersebut tersedia melalui kanal YouTube Info Sumbar TV.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update