Notification

×

Iklan

Sukaregang-Cibaduyut Hadapi Gempuran Produk Impor

Senin, 10 Agustus 2026 | 16:00 WIB Last Updated 2026-08-10T09:00:00Z

Kawasan Sukaregang Garut dan Cibaduyut.

Jakarta, Rakyatterkini.com – Ada ungkapan yang mengatakan, “Jika takut kehilangan uang, jangan terjun ke dunia bisnis. Namun, jika takut tidak mengalami perkembangan, jangan berhenti di sana.”

Ungkapan tersebut menggambarkan perjalanan panjang dalam membangun usaha, termasuk perjuangan mengembangkan ekonomi masyarakat di Jawa Barat.

Idealisme Sejak Muda

Ketertarikan terhadap persoalan ekonomi masyarakat ternyata telah tumbuh sejak masa muda. Di tengah kehidupan remaja yang lekat dengan berbagai tren dan gaya anak muda, perhatian terhadap potensi ekonomi rakyat Jawa Barat justru menjadi salah satu pembahasan yang menarik.

Pada era 1970-an, kegiatan mengunjungi berbagai desa yang menjadi pusat kerajinan dan usaha rakyat cukup sering dilakukan. Beragam produk memiliki kualitas dan potensi besar, tetapi pada saat itu banyak pelaku usaha masih menghadapi persoalan pemasaran.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah orang yang dahulu dikenal sebagai sahabat kemudian memilih terjun lebih serius dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Sebagian berkembang di kawasan industri seperti Cibaduyut, Cihampelas, Majalaya, pasar tradisional hingga dunia korporasi.

Sukaregang, Pusat Kerajinan Kulit Garut

Kabupaten Garut memiliki salah satu sentra industri kulit yang telah dikenal luas, yakni Sukaregang. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Garut, terdapat sekitar 417 unit usaha formal maupun nonformal yang bergerak dalam industri pakaian jadi dan kerajinan berbahan kulit.

Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari jaket, tas, sepatu, sandal hingga dompet. Bahan baku utamanya berasal dari kulit domba dan sapi yang menjadi salah satu ciri khas produk kulit Garut. Sektor ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja.

Sukaregang bukanlah sentra industri yang baru muncul. Tradisi pengolahan kulit di kawasan tersebut telah berlangsung sejak masa kolonial dan berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi kreatif masyarakat Garut.

Pada awalnya, keterampilan mengolah kulit berkembang dari lingkungan keluarga yang memanfaatkan sisa kulit untuk berbagai kebutuhan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, teknik penyamakan kemudian berkembang lebih terstruktur untuk menghasilkan berbagai kebutuhan, seperti pelana, sepatu dan terompah.

Memasuki dekade 1970-an, Sukaregang mengalami perubahan. Kawasan yang sebelumnya didominasi sejumlah kecil perajin berkembang menjadi kawasan perdagangan dengan banyak toko. Ketersediaan kulit domba lokal serta kualitas produk yang semakin dikenal membuat permintaan masyarakat terus meningkat.

Warisan keterampilan tersebut kemudian mendapatkan pengakuan. Pada 2025, Kerajinan Kulit Sukaregang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Hubungan Sukaregang dan Cibaduyut

Jika dilihat dari sisi ekonomi, Sukaregang di Garut dan Cibaduyut di Bandung memiliki hubungan yang cukup erat. Keduanya membentuk mata rantai ekonomi rakyat yang saling melengkapi.

Sukaregang lebih banyak berperan di sektor hulu melalui penyamakan dan pengolahan kulit, sedangkan Cibaduyut dikenal sebagai kawasan hilir yang mengolah bahan tersebut menjadi berbagai produk alas kaki.

1. Saling Terhubung dalam Rantai Pasok

Selama puluhan tahun, sejumlah perajin dan produsen sepatu di Cibaduyut mendapatkan bahan baku kulit sapi maupun kerbau dari pedagang dan penyamak yang berada di Sukaregang.

Hubungan tersebut memperlihatkan bagaimana dua wilayah berbeda dapat membangun ekosistem ekonomi yang saling bergantung. Sukaregang menyediakan bahan baku, sementara Cibaduyut mengolahnya menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

2. Perpindahan Tenaga dan Keterampilan

Keterkaitan kedua kawasan juga tidak terlepas dari sejarah perpindahan tenaga kerja dan keahlian.

Sekitar awal abad ke-20, perkembangan industri di Bandung membuka kesempatan bagi masyarakat Priangan, termasuk dari Garut, untuk bekerja di berbagai pabrik sepatu maupun usaha penyamakan kulit.

Setelah memperoleh pengalaman dan keterampilan, sebagian pekerja kembali ke daerah asal dan mendirikan usaha pengolahan kulit. Sebagian lainnya menetap di Bandung dan mengembangkan keahlian pembuatan sepatu yang kemudian ikut membentuk karakter industri Cibaduyut.

3. Jaringan Perdagangan Tradisional

Sebelum perdagangan digital berkembang seperti sekarang, hubungan antara pelaku usaha Sukaregang dan Cibaduyut banyak dibangun melalui jaringan komunikasi informal.

Ketika produsen sepatu di Cibaduyut mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, kebutuhan kulit dengan ukuran dan spesifikasi tertentu dapat langsung dipesan kepada perajin atau pemasok di Sukaregang.

Di sisi lain, tren desain dan model alas kaki yang berkembang di Cibaduyut juga menjadi referensi bagi pelaku usaha kulit di Garut dalam mengembangkan produknya.

Menghadapi Produk Impor Murah

Perkembangan industri lokal tidak selalu berjalan mulus. Masuknya produk impor dengan harga murah, khususnya dari China, memberikan tekanan terhadap pasar Sukaregang maupun Cibaduyut.

Meski demikian, karakter produk yang berbeda membuat strategi bertahan kedua sentra tersebut juga tidak sama.

Sukaregang Mengandalkan Keaslian Kulit

Produk Sukaregang relatif memiliki pasar tersendiri karena menggunakan kulit asli. Jaket, tas maupun produk lainnya memiliki konsumen yang mempertimbangkan kualitas, ketahanan dan nilai prestise bahan kulit alami.

Persaingan terbesar justru datang dari produk kulit sintetis impor yang dijual dengan harga jauh lebih murah, meskipun secara tampilan menyerupai produk kulit asli.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, para perajin mulai memanfaatkan teknologi digital. Penjualan melalui e-commerce dan media sosial semakin diperkuat. Layanan pembuatan produk berdasarkan ukuran dan desain pesanan konsumen juga menjadi salah satu cara mempertahankan daya saing.

Status Sukaregang sebagai Warisan Budaya Tak Benda turut menjadi nilai tambah dalam memasarkan produk lokal.

Cibaduyut Fokus pada Produk Berkualitas

Cibaduyut masih memiliki kekuatan pada produk seperti sepatu bot, pantofel kulit, sepatu kerja serta alas kaki untuk kebutuhan institusi.

Namun, produk massal seperti sepatu olahraga dan sneakers berbahan kain atau karet menjadi salah satu sektor yang mendapat tekanan paling besar akibat kehadiran produk impor berharga murah.

Sebagian pelaku usaha kemudian menyesuaikan strategi bisnis. Produsen yang masih bertahan semakin menonjolkan keunggulan produk handmade dengan konstruksi yang kuat, nyaman dan tahan lama.

Tidak sedikit pula pengrajin Cibaduyut yang beralih menjadi produsen white label untuk merek lokal yang menyasar konsumen muda dan mengandalkan promosi melalui platform digital.

Perlindungan dan Adaptasi Harus Berjalan Bersama

Sukaregang dan Cibaduyut merupakan contoh bagaimana industri rakyat mampu bertahan melewati perubahan zaman. Namun, masuknya produk impor murah, termasuk barang jadi dan kulit sintetis, tetap menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan usaha para perajin.

Karena itu, diperlukan sejumlah langkah untuk memperkuat industri lokal.

Pertama, pengawasan terhadap barang impor ilegal perlu ditingkatkan. Produk yang masuk tanpa memenuhi ketentuan, termasuk barang murah dalam jumlah besar, harus mendapat pengawasan lebih ketat. Standar Nasional Indonesia (SNI) juga dapat diperkuat untuk produk alas kaki dan pakaian berbahan kulit.

Kedua, perdagangan melalui platform digital perlu dibuat lebih transparan. Identitas produk dan asal barang sebaiknya dapat diketahui konsumen sehingga produk impor langsung dapat dibedakan dari produk UMKM dalam negeri.

Ketiga, persoalan biaya bahan kimia untuk proses penyamakan kulit perlu mendapatkan perhatian. Pemerintah dapat membantu membuka akses bahan baku secara kolektif sekaligus mendorong penelitian penggunaan bahan penyamak yang berasal dari sumber lokal dan lebih ramah lingkungan.

Keempat, pengadaan barang pemerintah, termasuk sepatu dinas, tas dan perlengkapan lainnya, dapat memberikan porsi lebih besar kepada produk yang dibuat sentra kerajinan dalam negeri.

Kelima, inovasi desain perlu terus dikembangkan. Produk lokal tidak cukup hanya mengandalkan model lama. Kolaborasi antara perajin, desainer muda dan mahasiswa bidang kriya dapat menghasilkan produk yang lebih modern, fungsional dan sesuai kebutuhan pasar masa kini.

Pada akhirnya, keberlanjutan Sukaregang dan Cibaduyut membutuhkan dua hal yang berjalan beriringan. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang memberikan ruang perlindungan dan kesempatan berkembang bagi industri lokal, sementara para perajin harus terus beradaptasi dengan teknologi, desain serta perubahan selera konsumen.

Dengan cara tersebut, kedua sentra industri ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah ekonomi Jawa Barat, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat industri kreatif yang memiliki daya saing di tingkat nasional maupun regional.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update