Tanah Datar, Rakyatterkini.com – Kepedulian sosial tidak selalu harus diwujudkan melalui bantuan dalam jumlah besar. Di Nagari Pangian, Kabupaten Tanah Datar, warga menjalankan gerakan sederhana dengan menyisihkan satu genggam beras setiap kali akan memasak.
Meski hanya sekitar 40 gram, kebiasaan tersebut jika dilakukan bersama-sama mampu menghasilkan bantuan dalam jumlah besar.
Gerakan tersebut dikenal sebagai Program Beras Genggam, yang digagas Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Nagari Pangian bersama Bundo Kanduang dan PKK setempat. Beras yang dikumpulkan nantinya dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Wali Nagari Pangian, Hijrah Adi Sukrial, mengatakan potensi beras yang terkumpul cukup besar. Dengan jumlah 1.233 kepala keluarga (KK), diperkirakan sedikitnya 6,7 ton beras dapat dihimpun dalam satu tahun apabila sebagian warga rutin mengikuti program tersebut.
“Dari 1.233 KK di Nagari Pangian, jika separuhnya konsisten menyisihkan satu genggam beras, dalam setahun bisa terkumpul sekitar 6,7 ton. Beras itu nantinya dapat diberikan kepada anak yatim, lansia, janda kurang mampu, maupun warga yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit,” kata Hijrah, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada jumlah beras yang terkumpul. Kebiasaan menyisihkan beras setiap hari diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat secara berkelanjutan.
Warga diajak menjadikan aktivitas sederhana di dapur sebagai bagian dari kebiasaan berbagi. Dengan menyisihkan beras sebelum mencuci atau memasaknya, masyarakat memiliki kesempatan untuk terus mengingat bahwa sebagian rezeki yang dimiliki juga dapat diperuntukkan bagi orang lain.
Kebiasaan tersebut juga dinilai mampu menghadirkan rasa bahagia dan ketenangan tersendiri. Ketika seseorang memasukkan segenggam beras ke dalam wadah khusus, muncul kesadaran bahwa pemberian kecil itu nantinya dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan warga lain.
Nilai kebersamaan juga menjadi bagian penting dari gerakan ini. Saat sebuah keluarga menikmati makanan di rumah, mereka sekaligus diingatkan bahwa ada masyarakat lain seperti anak yatim, lansia, janda kurang mampu, maupun pelajar yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
Dari sisi keagamaan, konsistensi dalam berbagi menjadi nilai utama yang ingin dibangun melalui Program Beras Genggam. Dalam sosialisasi yang dilakukan sebelumnya, Ustad Irawadi menyampaikan pentingnya menjaga kepedulian kepada anak yatim, janda, dan masyarakat yang tengah mengalami kesulitan.
Melalui gerakan tersebut, aktivitas sederhana yang dilakukan di dapur setiap hari diubah menjadi bentuk kepedulian sosial. Program Beras Genggam menunjukkan bahwa kontribusi untuk sesama tidak harus menunggu seseorang memiliki kemampuan ekonomi besar.
Dari segenggam beras yang dikumpulkan secara rutin, warga Nagari Pangian berupaya membangun budaya berbagi yang konsisten sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang membutuhkan.(da*)


