Notification

×

Iklan

Pemerintah Percepat Pembangunan Jargas Rumah Tangga

Kamis, 06 Agustus 2026 | 03:38 WIB Last Updated 2026-08-05T23:15:35Z

ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com  - Pemerintah terus mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan LPG.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, mengatakan pemerintah menargetkan pembangunan sebanyak 119.379 sambungan rumah (SR) sepanjang periode 2025–2026 yang tersebar di 15 kabupaten dan kota.

Menurutnya, target tersebut mengalami peningkatan dari sebelumnya 115.264 sambungan rumah. Penambahan itu berasal dari tambahan 1.765 sambungan di Kota Jambi, 2.000 sambungan di Kota Bontang, serta 350 sambungan di Kabupaten Gresik.

Qodari menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 3 Agustus 2026, pembangunan seluruh sambungan rumah tersebut kini telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengerjakan pembangunan jaringan gas tahap pertama di Kabupaten Cirebon dengan sasaran 41.043 sambungan rumah. Program tersebut akan mencakup Kecamatan Gempol, Palimanan, Dukupuntang, dan Depok.

Proyek yang berjalan berdasarkan kontrak sejak 20 Mei hingga 31 Desember 2026 itu masih berada pada tahap awal. Sejumlah kegiatan yang tengah dilakukan meliputi survei jalur pipa, penentuan lokasi stasiun pengatur dan pengukur tekanan gas, serta pendataan calon pelanggan.

Secara keseluruhan, hingga akhir 2025 pembangunan jaringan gas nasional telah mencapai 949.008 sambungan rumah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 703.308 sambungan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sedangkan 245.700 sambungan berasal dari pendanaan non-APBN.

Pemerintah juga menyiapkan pembangunan tambahan sebanyak 959.232 sambungan rumah pada periode 2026–2028 di delapan daerah. Rinciannya meliputi Kabupaten Bogor sebanyak 182.665 sambungan, Kota Depok 156.134 sambungan, Kabupaten Bekasi 120.691 sambungan, Kabupaten Cirebon 117.142 sambungan, Kabupaten Tangerang 100.247 sambungan, Kabupaten Lamongan 101.295 sambungan, Kabupaten Pasuruan 93.772 sambungan, dan Kabupaten Jombang 87.286 sambungan.

Qodari menyebut dokumen Front End Engineering Design (FEED) serta Detail Engineering Design Construction (DEDC) untuk proyek tersebut telah rampung disusun dan kini memasuki tahap persiapan pelaksanaan.

Dengan tambahan tersebut, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas rumah tangga pada periode 2025–2028 mencapai 1.119.654 sambungan rumah.

Untuk mendukung realisasi target itu, pemerintah menyiapkan tiga sumber pembiayaan, yakni melalui APBN, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta investasi badan usaha milik negara (BUMN).

Pada 2025, pembangunan 100.000 sambungan rumah didanai melalui investasi BUMN. Sementara pada 2026 ditargetkan pembangunan 150.000 sambungan melalui APBN, 50.000 sambungan melalui KPBU, dan 100.000 sambungan melalui investasi BUMN.

Selanjutnya, pada 2027 hingga 2029 pemerintah menargetkan pembangunan masing-masing 350.000 sambungan rumah setiap tahun dengan kombinasi pendanaan dari APBN, KPBU, dan investasi BUMN.

Secara total, pembangunan jaringan gas rumah tangga selama periode 2025–2029 diproyeksikan mencapai sekitar 1,45 juta sambungan. Dari jumlah tersebut, 600.000 sambungan akan dibiayai melalui APBN, 350.000 sambungan melalui KPBU, dan 500.000 sambungan melalui investasi BUMN.

Qodari menambahkan, kebutuhan anggaran pembangunan diperkirakan sekitar Rp10 juta untuk setiap sambungan rumah. Nilai tersebut masih dapat berubah menyesuaikan hasil perencanaan teknis, kondisi lapangan, lokasi proyek, hingga proses pengadaan.

Ia juga memastikan pasokan gas dalam negeri dinilai memadai untuk mendukung percepatan pembangunan jaringan gas rumah tangga. Saat ini sekitar 70 hingga 75 persen produksi gas nasional dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Pemerintah, lanjutnya, terus memastikan ketersediaan pasokan dengan mempertimbangkan sumber dan alokasi gas, volume kebutuhan pelanggan, keberlanjutan pasokan selama masa operasional, serta kesiapan jaringan transmisi dan distribusi.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update