Padang, Rakyatterkini.com – Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan Jalan Tol Padang–Pekanbaru ruas Sicincin–Bukittinggi terus meluas di sejumlah wilayah Sumatera Barat.
Kali ini, penolakan datang dari ninik mamak dan masyarakat Gunuang, Kota Padang Panjang, yang menolak jika jalur tol melewati kawasan mereka.
Pernyataan sikap tersebut beredar melalui sebuah video di media sosial. Dalam rekaman itu, para ninik mamak terlihat berkumpul bersama anak kemenakan dan warga setempat untuk menyampaikan keberatan terhadap rencana trase yang disebut-sebut akan melintasi wilayah Gunuang.
Hingga Selasa (4/8), belum terdapat tanggapan resmi dari pemerintah maupun pihak yang bertanggung jawab atas proyek jalan tol mengenai aspirasi yang disampaikan masyarakat Gunuang.
Penolakan dari Gunuang menambah daftar wilayah yang sebelumnya telah menyatakan keberatan terhadap rencana trase Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi.
Sebelumnya, Nagari Kubang Putiah di Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, menjadi daerah pertama yang secara terbuka menyampaikan penolakan. Pada pertengahan Juli lalu, unsur Kerapatan Adat Nagari (KAN), tokoh adat, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, serta kalangan pemuda menandatangani surat resmi yang ditujukan kepada pemerintah.
Masyarakat Kubang Putiah menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan jalan tol secara keseluruhan. Namun, mereka menolak apabila jalur tersebut membelah nagari dan berdampak pada permukiman warga, sawah produktif, tanah ulayat, rumah gadang, hingga kawasan pemakaman adat.
Menanggapi aspirasi tersebut, pemerintah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah instansi terkait. Hasilnya, trase jalan tol di kawasan Kubang Putiah diputuskan untuk dialihkan agar tidak lagi melewati nagari tersebut. Pemerintah juga menyiapkan kajian terhadap jalur alternatif guna meminimalkan dampak sosial yang ditimbulkan.
Keberatan serupa kemudian muncul dari masyarakat Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar. Warga menilai jalur yang direncanakan berpotensi memotong kawasan permukiman, lahan pertanian, serta tanah ulayat yang memiliki nilai penting bagi masyarakat adat. Penolakan itu disampaikan melalui berbagai aksi dan penyampaian aspirasi kepada pemerintah.
Kini, masyarakat Gunuang juga menyuarakan sikap yang sama. Dalam video yang beredar, ninik mamak bersama warga menegaskan penolakan terhadap rencana pembangunan jalan tol yang melintasi wilayah mereka. Mereka menyatakan komitmen untuk mempertahankan tanah ulayat dan kawasan adat yang dianggap sebagai bagian penting dari identitas masyarakat.
Bertambahnya wilayah yang menyampaikan penolakan menunjukkan bahwa pembahasan trase Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Di satu sisi, pemerintah berupaya mempercepat pembangunan proyek strategis nasional tersebut, sementara di sisi lain masyarakat berharap penentuan jalur dapat mempertimbangkan keberadaan tanah ulayat, kawasan adat, permukiman, serta lahan pertanian yang produktif.
Hingga saat ini, perubahan trase baru diumumkan untuk kawasan Kubang Putiah. Adapun terkait aspirasi dari masyarakat Pandai Sikek dan Gunuang, belum ada pernyataan resmi mengenai kemungkinan penyesuaian jalur maupun langkah lanjutan dari pemerintah.(da*)


