Notification

×

Iklan

Nepal Butuh Rp88 Triliun Pulihkan Infrastruktur

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 02:36 WIB Last Updated 2026-08-28T22:04:01Z

Banjir bandang dahsyat menerjang Nepal dekat perbatasan Tibet, China. 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Nepal diperkirakan memerlukan anggaran hingga 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp88,4 triliun untuk memulihkan berbagai infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang besar yang melanda wilayah tersebut pada Rabu (26/8/2026).

Perkiraan itu disampaikan pengusaha sekaligus miliarder Nepal, Binod Chaudhary. Menurutnya, besarnya kerusakan yang terjadi membuat kebutuhan biaya rehabilitasi dapat mencapai angka tersebut.

“Saya tidak akan terkejut dengan angka itu. Tantangannya bukan hanya terkait pembiayaan, tetapi juga waktu pemulihan dan kondisi geografis Nepal yang cukup sulit,” kata Chaudhary, yang merupakan pimpinan Chaudhary Group, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (29/8/2026).

Ia menilai proses pemulihan akan menjadi pekerjaan besar, terutama untuk mengembalikan aktivitas ekonomi dan memperbaiki fasilitas publik yang terdampak bencana.

Chaudhary Group sendiri memiliki kegiatan usaha di 12 sektor, antara lain industri makanan, telekomunikasi, infrastruktur, hingga perbankan.

Kerusakan paling parah terjadi pada sektor infrastruktur, termasuk sejumlah pembangkit listrik tenaga air. Banjir juga menghancurkan sejumlah jalan dan jembatan sehingga akses menuju berbagai wilayah terputus. Fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan turut mengalami kerusakan.

“Kami menyaksikan adanya gangguan yang sangat besar,” ujar Chaudhary. Ia menyebut beberapa fasilitas pembangkit listrik juga ikut terdampak akibat bencana tersebut.

Chaudhary menambahkan, kontribusi dana dari kelompok usahanya untuk proses pemulihan kali ini kemungkinan lebih besar dibandingkan pengeluaran mereka ketika Nepal dilanda gempa besar pada 2015. Gempa tersebut juga menyebabkan proses rekonstruksi nasional dalam skala luas.

Perkiraan mengenai besarnya kebutuhan dana juga disampaikan Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle. Ia menyebut negara tersebut kemungkinan membutuhkan dana beberapa miliar dolar AS untuk memperbaiki infrastruktur yang hancur.

“Jika seluruh kerugian dan kerusakan telah dihitung secara menyeluruh dalam sekitar satu pekan mendatang, saya memperkirakan nilainya setidaknya mencapai beberapa miliar dolar,” kata Wagle.

Banjir bandang tersebut menerjang kawasan pegunungan di perbatasan Nepal dengan Tibet, China. Sejumlah permukiman terendam, sedangkan jalan dan jembatan tersapu arus banjir.

Berdasarkan data kepolisian hingga Jumat (28/8/2026), sedikitnya 475 orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, sekitar 1.200 orang masih dinyatakan hilang, termasuk lebih dari 500 wisatawan asing.

Investigasi awal menunjukkan bencana tersebut diduga berkaitan dengan mencairnya bongkahan es pegunungan yang kemudian jatuh dan menghantam waduk. Benturan itu diduga menyebabkan pintu air jebol dan mengalirkan banjir besar mengikuti aliran sungai hingga ratusan kilometer.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update