Jakarta, Rakyatterkini.com - Nama Broad Peak menjadi perhatian dunia setelah tragedi longsoran salju yang menewaskan pendaki legendaris asal Nepal, Nirmal Purja, bersama sembilan pendaki lainnya pada akhir Juli 2026.
Insiden tersebut kembali mengingatkan bahwa gunung yang berada di Pakistan ini merupakan salah satu puncak paling berbahaya untuk didaki, meski telah berhasil ditaklukkan oleh banyak pendaki profesional.
Nirmal Purja dikenal sebagai salah satu pendaki terbaik dunia. Ia pernah mencatat sejarah dengan menaklukkan seluruh 14 gunung berketinggian di atas 8.000 meter hanya dalam waktu 189 hari. Namun, pengalaman panjang dan sederet prestasi itu tidak mampu menghindarkannya dari bencana alam yang terjadi di Broad Peak.
Broad Peak, Puncak Tertinggi ke-12 di Dunia
Broad Peak berada di kawasan Pegunungan Karakoram, Gilgit-Baltistan, Pakistan, tidak jauh dari perbatasan China. Gunung ini memiliki ketinggian mencapai 8.051 meter di atas permukaan laut dan menempati urutan ke-12 sebagai gunung tertinggi di dunia.
Puncak tersebut juga termasuk dalam kelompok eight-thousanders, yaitu 14 gunung di dunia yang memiliki ketinggian lebih dari 8.000 meter. Letaknya hanya sekitar delapan kilometer dari K2, gunung tertinggi kedua di dunia, yang dipisahkan oleh celah pegunungan bernama Broad Col.
Nama Broad Peak diberikan oleh penjelajah asal Inggris, Martin Conway, pada tahun 1892 karena bentuk puncaknya yang membentang sekitar 1,5 kilometer. Sementara masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Falchan Kangri.
Alasan Broad Peak Dianggap Sangat Berbahaya
Meski popularitasnya tidak sebesar Gunung Everest, Broad Peak memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Berikut beberapa faktor yang membuat gunung ini dikenal berbahaya.
1. Rawan Longsoran Salju
Ancaman terbesar di Broad Peak adalah longsoran salju atau avalanche. Perubahan suhu yang ekstrem membuat lapisan salju mudah bergeser sewaktu-waktu. Longsoran dapat terjadi tanpa peringatan dan menyapu jalur pendakian dalam hitungan detik. Bencana inilah yang merenggut nyawa Nirmal Purja beserta sembilan rekannya.
2. Berada di Zona Kematian
Bagian atas Broad Peak berada di kawasan yang dikenal sebagai Death Zone karena ketinggiannya melebihi 8.000 meter. Pada ketinggian tersebut, kandungan oksigen jauh lebih rendah dibandingkan permukaan laut sehingga tubuh manusia sulit berfungsi secara normal. Pendaki berisiko mengalami penyakit akibat ketinggian, edema paru, edema otak, hipotermia, hingga kehilangan kesadaran.
3. Jalur Pendakian yang Melelahkan
Perjalanan menuju puncak Broad Peak membutuhkan tenaga dan konsentrasi tinggi. Pendaki harus melewati lereng bersalju, celah es, serta punggungan sempit dalam waktu yang lama. Sedikit saja melakukan kesalahan, risiko kecelakaan bisa sangat besar.
4. Cuaca Cepat Berubah
Kawasan Karakoram dikenal memiliki kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Langit yang semula cerah dapat berubah menjadi badai salju disertai angin kencang dalam waktu singkat. Situasi tersebut sering mengganggu pendakian sekaligus meningkatkan potensi kecelakaan.
5. Proses Evakuasi Sangat Sulit
Apabila terjadi kecelakaan, upaya penyelamatan di Broad Peak tidak mudah dilakukan. Medan yang curam dan berada di ketinggian ekstrem membuat helikopter tidak selalu dapat menjangkau lokasi korban. Otoritas Pakistan juga menyebut proses evakuasi di kawasan Karakoram lebih rumit dibandingkan Nepal karena belum didukung sistem penyelamatan menggunakan long-line helicopter rescue.
Tragedi yang Menewaskan Nirmal Purja
Pada 30 Juli 2026, Nirmal Purja memimpin ekspedisi menuju Broad Peak bersama sembilan pendaki yang berasal dari Nepal, Pakistan, Amerika Serikat, Oman, dan China. Saat berada di jalur pendakian, rombongan diterjang longsoran salju besar hingga seluruh anggota tim dinyatakan hilang setelah komunikasi terputus.
Tim penyelamat kemudian melakukan pencarian selama beberapa hari dengan bantuan drone dan pengintaian udara. Pada 1 Agustus 2026, perusahaan ekspedisi milik Purja mengonfirmasi bahwa seluruh anggota rombongan meninggal dunia.
Meski lokasi para korban berhasil diketahui melalui rekaman drone, proses evakuasi menghadapi kendala berat karena jenazah berada di lereng yang curam dan berisiko tinggi.(da*)


