Notification

×

Iklan

Ini Manfaat Timun bagi Kesehatan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 17:21 WIB Last Updated 2026-08-08T10:21:00Z

lustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Mentimun atau timun merupakan bahan makanan yang cukup populer dan kerap disajikan sebagai lalapan, pelengkap makanan, maupun campuran salad. 

Di balik bentuknya yang sederhana, buah yang juga sering dianggap sebagai sayuran ini ternyata memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan.

Kandungan air yang melimpah, kalori yang rendah, serta adanya serat membuat mentimun cocok menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Selain membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mentimun juga dapat dikonsumsi tanpa memberikan banyak tambahan kalori.

Profesor madya bidang nutrisi dan kesehatan masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts, Kimberly Dong, menjelaskan bahwa mentimun termasuk makanan yang menyehatkan karena memiliki kandungan air tinggi, rendah kalori, dan mengandung serat.

Menurut Dong, mentimun juga memiliki rasa yang ringan serta tekstur renyah dan menyegarkan. Karakteristik tersebut membuatnya mudah dipadukan dengan berbagai jenis makanan. Mentimun juga bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan asupan cairan dengan jumlah kalori yang rendah.

Profesor ilmu gizi di Texas Christian University, Gina Jarman Hill, mengatakan rendahnya kandungan kalori mentimun membuat sebagian orang menganggapnya sebagai makanan dengan "kalori negatif". Namun, ia menegaskan bahwa istilah tersebut sebenarnya tidak tepat.

“Tidak ada makanan yang benar-benar memiliki kalori negatif. Namun, karena kandungan kalori mentimun sangat rendah, makanan ini memang mendekati anggapan tersebut,” ujar Hill, seperti dilansir Antara, Senin (3/8/2026).

Hill menambahkan, konsumsi mentimun tidak perlu dibatasi selama bahan pendamping atau olahan yang digunakan tetap diperhatikan.

Dari aspek kesehatan metabolik, mentimun juga memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap kadar gula darah. Makanan ini dapat menjadi pilihan bagi penderita diabetes karena kandungan karbohidratnya tergolong rendah. Dalam jumlah tertentu, mentimun memiliki sekitar 11 gram karbohidrat dan 1,5 gram serat.

Serat diketahui dapat memperlambat proses pencernaan sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Sejumlah penelitian awal pada manusia maupun hewan juga menemukan adanya kemungkinan manfaat mentimun atau ekstraknya terhadap insulin, kolesterol, trigliserida, serta tekanan darah.

Salah satu penelitian yang diterbitkan pada 2016 melibatkan 47 orang dengan kadar kolesterol dan trigliserida sedikit tinggi. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok. Salah satunya mendapat kapsul yang mengandung ekstrak biji mentimun setiap hari, sedangkan kelompok lainnya menerima plasebo.

Setelah enam minggu, peserta yang mengonsumsi ekstrak mentimun menunjukkan perubahan pada kadar kolesterol darah dibandingkan kelompok plasebo. Meski demikian, Dong menyebut hasil sejumlah penelitian tersebut masih berada pada tahap awal sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaatnya.

Selain kandungan gizinya, mentimun juga mudah dikreasikan dalam berbagai menu. Rasa yang tidak terlalu kuat dan teksturnya yang renyah membuatnya dapat digunakan sebagai pelengkap atau alternatif sejumlah makanan.

Potongan mentimun, misalnya, dapat menjadi pilihan camilan yang lebih ringan dibandingkan makanan olahan seperti keripik atau biskuit. Mentimun juga dapat disantap bersama hummus maupun saus kacang.

Koki asal New York, Isaac Bernal, mengatakan mentimun dapat memberikan sensasi segar sekaligus menambah volume makanan tanpa menambahkan banyak kalori.

Manfaat lain dapat diperoleh dari mentimun yang diolah menjadi acar melalui proses fermentasi. Perendaman mentimun dalam larutan garam memungkinkan berkembangnya bakteri baik yang berpotensi memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.

Profesor madya nutrisi dan dietetika di University of South Florida, Heewon L Gray, mengatakan makanan fermentasi telah dikaitkan dengan kesehatan usus yang lebih baik serta kemungkinan membantu mengurangi peradangan.

Acar juga dapat menjadi pilihan camilan, tetapi konsumen perlu membedakan acar fermentasi dengan acar yang dibuat menggunakan cuka atau melalui proses pasteurisasi. Proses tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Gray menjelaskan bahwa acar fermentasi biasanya tersedia di bagian pendingin supermarket. Produk tersebut umumnya mencantumkan keterangan seperti "fermentasi", "probiotik", atau "mengandung kultur hidup". Selain itu, produk fermentasi biasanya tidak mencantumkan cuka sebagai salah satu bahannya.

Meski memiliki manfaat, Gray mengingatkan bahwa acar, baik yang difermentasi maupun tidak, tetap memiliki kandungan garam yang cukup tinggi. Satu potong acar dill dapat mengandung sekitar 326 miligram natrium, atau setara dengan 14 persen dari batas konsumsi harian yang direkomendasikan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update