Jakarta, Rakyatterkini.com – Dampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperbarui. Hingga Sabtu (15/8/2026) siang, sejumlah warga dilaporkan meninggal dunia maupun mengalami luka-luka. Sekitar 2.000 orang juga memilih mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga pukul 12.30 WIB, korban meninggal dunia tercatat di tiga wilayah. Kabupaten Sikka melaporkan tiga orang meninggal, Manggarai enam orang, dan Manggarai Timur lima orang.
Selain korban jiwa, terdapat dua warga yang mengalami luka berat dan 11 lainnya menderita luka ringan. Data tersebut masih dalam tahap pendataan, verifikasi, serta validasi oleh BPBD bersama berbagai pihak yang berada di lapangan.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas publik. Data sementara mencatat 54 rumah mengalami rusak berat, sembilan rusak sedang, dan 11 lainnya rusak ringan. Kerusakan turut ditemukan pada lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga tempat ibadah, serta enam kantor pemerintahan.
Manggarai menjadi salah satu daerah dengan dampak cukup besar. Di wilayah tersebut, sebanyak 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan. Lima fasilitas kesehatan serta satu fasilitas pendidikan juga ikut terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Timur terdapat 23 rumah yang mengalami kerusakan berat. Di Kabupaten Nagekeo, dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan dua lainnya rusak ringan.
Kerusakan ringan juga dilaporkan terjadi pada dua fasilitas ibadah di Nagekeo. Selain itu, lima kantor pemerintahan terdampak. Kondisi pascagempa juga menyebabkan arus lalu lintas tersendat, sementara pasokan listrik masih mengalami pemadaman.
Sekitar 2.000 warga meninggalkan rumah untuk mencari tempat aman setelah merasakan guncangan kuat dan mendapat informasi mengenai peringatan dini tsunami. BPBD bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan sejumlah instansi terkait mengarahkan masyarakat, terutama yang berada di kawasan pesisir, menuju lokasi yang lebih tinggi.
Hasil pemantauan tinggi muka laut kemudian menunjukkan tidak adanya peningkatan air laut yang signifikan dan membahayakan. Atas kondisi tersebut, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.31 WIB.
Gempa utama diketahui berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Titik gempa berada sekitar 38 kilometer sebelah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Getaran kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, dan Kota Bima. Guncangan juga dilaporkan terasa di beberapa daerah Sulawesi Selatan, seperti Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros.
Setelah gempa utama, sedikitnya empat gempa susulan tercatat dengan kekuatan antara M 5,5 hingga M 6,2. Berdasarkan pemantauan, seluruh gempa susulan tersebut tidak memiliki potensi tsunami.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD dan unsur terkait masih melakukan kaji cepat untuk memperbarui data korban maupun kerusakan. Pemantauan terhadap kondisi masyarakat juga terus dilakukan, termasuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi.
Di Kabupaten Manggarai, sejumlah kebutuhan darurat telah dipetakan. Bantuan yang diperlukan antara lain 15 tenda pengungsi, 12 tenda posko, 20 tenda pleton, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 velbed, 1.000 selimut, dan 1.000 tikar.
Kebutuhan lainnya meliputi 500 paket perlengkapan dapur, 12 tandon air berkapasitas 2.200 liter, 10 unit genset 5 KVA, 10 handy talky, serta 100 senter.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak menyebarkan atau mempercayai informasi yang sumbernya belum jelas. Warga juga diminta tidak memasuki bangunan yang retak atau rusak akibat gempa karena masih terdapat risiko terjadinya gempa susulan.
Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir diimbau tetap mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah dan BMKG. Walaupun peringatan dini tsunami telah dinyatakan berakhir, kewaspadaan tetap perlu dijaga untuk mengantisipasi gempa susulan maupun risiko bangunan yang mengalami kerusakan.(da*)


