Notification

×

Iklan

BRIN: Bencana Tingkatkan Risiko Wabah Penyakit

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:48 WIB Last Updated 2026-08-21T01:48:00Z

Personel Personel Basarnas dan SAR Polri memeriksa kondisi bangunan yang rusak 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Perubahan kondisi lingkungan setelah bencana alam dapat meningkatkan potensi penyebaran penyakit yang berasal dari hewan pembawa penyakit, seperti nyamuk dan tikus. Hal tersebut disampaikan Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto.

Dalam diskusi daring mengenai penyakit menular setelah bencana di Jakarta, Kamis, Ristiyanto menerangkan bahwa bencana tidak secara langsung menyebabkan terjadinya wabah. Namun, kerusakan dan perubahan lingkungan yang ditimbulkan dapat menciptakan habitat yang lebih sesuai bagi perkembangan vektor serta reservoir penyakit.

Ia menjelaskan, rangkaian risikonya bermula dari bencana yang mengubah kondisi lingkungan. Perubahan tersebut kemudian dapat memengaruhi jumlah dan persebaran vektor maupun reservoir, sehingga interaksi dengan manusia meningkat dan pada akhirnya memperbesar kemungkinan penularan penyakit.

Ristiyanto mencontohkan banjir dan tsunami yang dapat meninggalkan genangan air tawar maupun payau. Di sisi lain, kondisi kekeringan dapat membuat masyarakat menyimpan air untuk kebutuhan sehari-hari dengan cara yang kurang memenuhi standar kebersihan.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi habitat nyamuk, tikus, serta berbagai organisme lain yang berperan sebagai pembawa atau sumber penyakit.

Menurutnya, semakin lama kondisi lingkungan pascabencana dibiarkan tanpa penanganan, semakin besar pula peluang terjadinya peningkatan penularan penyakit. Fenomena ini disebut sebagai amplifikasi ekologi, yakni kondisi ketika lingkungan justru semakin mendukung perkembangan penyakit yang dibawa vektor dan reservoir.

Selain meningkatkan risiko penyakit yang sudah dikenal, perubahan ekologi secara ekstrem juga dapat menyebabkan penyakit yang sebelumnya jarang atau bahkan belum pernah ditemukan di suatu daerah muncul kembali.

Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai setelah bencana di antaranya demam berdarah dengue (DBD), malaria, leptospirosis, dan salmonelosis.

Karena itu, Ristiyanto menilai pemantauan kondisi lingkungan harus dilakukan sesegera mungkin setelah bencana terjadi. Langkah tersebut penting dilakukan sebelum layanan dasar masyarakat, termasuk fasilitas kesehatan, mengalami gangguan atau berhenti beroperasi.

Ia menegaskan bahwa pemantauan tidak cukup hanya melihat jumlah kasus penyakit. Perubahan pada kondisi ekologi juga perlu diperhatikan karena dapat menjadi tanda awal meningkatnya risiko penyakit sebelum lonjakan kasus terdeteksi.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update