Jakarta, Rakyatterkini.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mempertahankan kinerja positif di tengah kondisi ekonomi nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan. Sampai dengan akhir Juni 2026, BRI Group mencatat laba bersih sebesar Rp31,2 triliun.
Perolehan tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja itu menjadi salah satu indikator bahwa strategi transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberikan hasil.
Capaian kinerja BRI hingga Triwulan II 2026 disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi bersama jajaran manajemen di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Hery mengatakan, pencapaian tersebut turut ditopang oleh kondisi perekonomian Indonesia yang masih menunjukkan ketahanan. Pada Triwulan II 2026, pertumbuhan ekonomi nasional berada di sekitar 5,30 persen, sementara tingkat inflasi tercatat 3,34 persen.
Di sisi lain, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi fokus utama bisnis BRI juga memperlihatkan perkembangan positif. Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada penghujung 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Kenaikan tersebut mencerminkan optimisme pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha mereka.
“Situasi ini menjadi sinyal positif bagi BRI karena UMKM merupakan bisnis utama kami sekaligus memiliki peran besar dalam menopang perekonomian nasional. Transformasi akan terus kami lakukan, tetapi komitmen untuk berkembang bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia tetap menjadi bagian yang tidak berubah,” ujar Hery.
Kinerja tersebut juga didukung pelaksanaan transformasi melalui agenda BRIVolution Reignite. Program ini diarahkan pada peningkatan sumber dana berbiaya rendah melalui pemanfaatan kanal digital serta penguatan kembali bisnis inti untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan.
Dari sisi neraca, total aset konsolidasian BRI hingga Juni 2026 mencapai Rp2.352 triliun. Angka itu meningkat 11,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan aset tersebut sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BRI Group tumbuh 6,7 persen yoy menjadi Rp1.581 triliun. Pertumbuhan bisnis juga dibarengi dengan penguatan efisiensi dan kualitas aset.
Biaya dana atau Cost of Fund (CoF) secara bank only berhasil ditekan menjadi 2,4 persen. Adapun rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level 2,9 persen. Dari sisi tingkat pengembalian modal, Return on Equity (ROE) BRI meningkat menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.
Hery menilai capaian tersebut menunjukkan proses transformasi perusahaan mulai menghasilkan dampak nyata terhadap kinerja. Menurutnya, pertumbuhan BRI tidak hanya harus mengejar kecepatan, tetapi juga dibangun di atas kondisi fundamental yang sehat dan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Meski memperluas bisnis ke berbagai segmen, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai fokus utama. Hingga akhir Triwulan II 2026, sekitar 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group dialokasikan untuk sektor UMKM.
Nilainya mencapai Rp1.235,4 triliun. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas akses pembiayaan sekaligus mendorong peningkatan kapasitas pelaku UMKM.
“UMKM tetap menjadi core business BRI. Kami meyakini pertumbuhan perusahaan harus berjalan searah dengan perkembangan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ekspansi yang dilakukan tetap diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan serta meningkatkan kemampuan UMKM agar semakin berkembang,” kata Hery.
Komitmen terhadap UMKM juga dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan. Sampai Juni 2026, BRI tercatat telah mendampingi lebih dari 5.700 desa melalui program Desa BRILiaN dan membantu lebih dari 44 ribu klaster usaha melalui program Klasterku Hidupku.
Sementara itu, platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku usaha. Program pembinaan melalui Rumah BUMN juga telah melibatkan sekitar 596 ribu UMKM.
Dukungan terhadap pelaku usaha turut terlihat dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam periode Januari hingga Juni 2026, BRI menyalurkan KUR senilai Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.
Jika dihitung sejak 2015, total penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.539 triliun dan diberikan kepada sekitar 48,4 juta nasabah.
Hery menegaskan bahwa pembiayaan dan pemberdayaan UMKM tidak dapat dipisahkan. BRI, kata dia, berupaya membangun pola pertumbuhan yang berkesinambungan dengan memberikan akses pembiayaan sekaligus pendampingan agar UMKM mampu meningkatkan skala bisnis dan masuk ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Ia menambahkan, keberhasilan BRI tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan aset, kredit, dan laba. Dampak ekonomi yang dihasilkan serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha juga menjadi bagian penting dari ukuran keberhasilan.
“Dengan fundamental yang semakin kuat serta transformasi yang terus dijalankan, BRI akan tetap berkomitmen untuk tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.(da*)


