Padang, Rakyatterkini.com – Kepedulian masyarakat Sumatera Barat terhadap warga terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), diwujudkan dengan menggalang bantuan berupa sekitar 5 ton rendang. Makanan khas Minangkabau tersebut dinilai cocok sebagai bantuan darurat karena mudah disantap, tidak membutuhkan proses pengolahan yang rumit, serta memiliki daya simpan cukup lama.
Meski demikian, kualitas dan keamanan pangan tetap menjadi perhatian dalam penyaluran bantuan tersebut. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan siap melakukan pengawasan terhadap rendang yang akan dikirim sebelum dikonsumsi oleh para korban bencana.
Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKKAM), Fauzi Bahar, mengatakan bantuan rendang dikumpulkan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk pelaku usaha kuliner rendang. Penggalangan donasi tersebut ditargetkan mampu memenuhi sekitar 5 ton dalam waktu kurang lebih 10 hari.
Fauzi menjelaskan, rendang memiliki sejumlah kelebihan ketika digunakan sebagai makanan bantuan bagi korban bencana. Selain awet, makanan tersebut dapat langsung dikonsumsi sehingga membantu warga yang mungkin belum memiliki rumah maupun fasilitas untuk memasak.
“Rendang tahan lama dan siap disantap. Ketika rumah warga roboh dan belum bisa memasak, nasi putih dengan rendang sudah cukup menjadi makanan,” kata Fauzi, seperti dikutip Antara.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pihaknya akan turun tangan untuk memastikan makanan yang diberikan kepada korban gempa telah memenuhi standar keamanan pangan.
“Badan POM akan melakukan intervensi karena itu merupakan kewajiban kami,” ujar Ikrar di Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Pengawasan BPOM nantinya meliputi pemeriksaan kondisi dan kesesuaian produk, masa kedaluwarsa, serta berbagai ketentuan keamanan pangan. Koordinasi dengan sejumlah instansi juga dilakukan untuk memastikan proses pengiriman dan distribusi makanan darurat berjalan dengan baik.
Menurut Ikrar, aksi penggalangan bantuan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Sumatera Barat. Sejumlah organisasi dan kelompok masyarakat lainnya juga berkomunikasi dengan BPOM untuk memastikan bantuan makanan yang disalurkan kepada korban gempa memenuhi standar keamanan.
Untuk memperkuat pengawasan dalam situasi bencana, BPOM juga menyiapkan tim khusus. Tim tersebut akan memantau mutu berbagai produk yang dibutuhkan korban, mulai dari obat-obatan dan suplemen hingga makanan darurat.
Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada masyarakat terdampak bencana tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan, tetapi juga aman dan layak dikonsumsi.(da*)


