Notification

×

Iklan

Batu Batikam, Jejak Damai Dua Tokoh Minang

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:22 WIB Last Updated 2026-08-08T21:22:00Z

Batu Batikam, situs cagar budaya di Tanah Datar

Tanah Datar, Rakyatterkini.com – Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, memiliki sejumlah peninggalan budaya yang menyimpan kisah panjang masyarakat Minangkabau. Salah satunya adalah Batu Batikam yang berada di Nagari Lima Kaum.

Sekilas, batu berbahan andesit tersebut tampak seperti batu biasa. Namun, terdapat lubang yang menembus bagian tengahnya. Keberadaan lubang itu menjadi bagian penting dari cerita yang diwariskan masyarakat secara turun-temurun.

Batu Batikam memiliki ukuran sekitar 55 × 20 × 40 sentimeter dan kini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Tanah Datar. Berdasarkan cerita yang berkembang, lubang pada batu tersebut merupakan bekas tusukan keris yang berkaitan dengan perselisihan dua tokoh penting dalam sejarah adat Minangkabau.

Pengelola operasional umum sekaligus petugas pemeliharaan cagar budaya Batu Batikam, Yulvi Hazari (28), menjelaskan kisah batu tersebut tidak terlepas dari hubungan antara Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Menurut cerita masyarakat, kedua tokoh tersebut pernah memiliki perbedaan pandangan mengenai tata pemerintahan adat Minangkabau. Perselisihan itu akhirnya diselesaikan melalui perdamaian di lokasi Batu Batikam.

“Ini perselisihan antara dua datuk, Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Di sini mereka berdamai,” kata Yulvi.

Dalam cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, perdamaian tersebut ditandai dengan tindakan Datuk Perpatih Nan Sabatang menusukkan keris ke sebuah batu. Senjata yang digunakan disebut Keris Kuniang Balimpo.

Tusukan tersebut dipercaya meninggalkan lubang yang hingga kini masih terlihat pada Batu Batikam. Meski demikian, tidak terdapat catatan yang memastikan kapan tepatnya peristiwa tersebut terjadi.

“Sejarahnya Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan memperebutkan tanah dan kaum. Kemudian mereka berdamai di sini. Batu ini ditusuk Datuk Perpatih Nan Sabatang menggunakan Keris Kuniang Balimpo,” ujar Yulvi.

Keberadaan keris yang disebut dalam legenda tersebut saat ini juga tidak diketahui. Masyarakat setempat bahkan memiliki cerita mengenai sebuah batu berukuran lebih kecil yang diyakini berada di sekitar Batu Batikam dan turut terkena tusukan keris.

Namun, batu kecil tersebut tidak dapat ditemukan secara kasatmata. Menurut cerita yang diterima masyarakat, keberadaannya hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu.

Seiring berjalannya waktu, batu berukuran besar dengan lubang di tengahnya menjadi peninggalan yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Bagi masyarakat setempat, lubang tersebut memiliki makna simbolis karena dikaitkan dengan berakhirnya perselisihan dua tokoh dalam adat Minangkabau.

Yulvi menuturkan bahwa kisah Batu Batikam sudah dikenalnya sejak masih kecil. Karena tidak ada tahun pasti mengenai peristiwa tersebut, cerita tentang situs ini lebih banyak bertahan melalui tradisi lisan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selain menjadi peninggalan sejarah dan budaya, kawasan Batu Batikam juga dimanfaatkan sebagai lokasi edukasi. Pengunjung yang datang didominasi pelajar dan mahasiswa yang ingin mengenal lebih dekat sejarah serta kebudayaan Minangkabau.

Mulai dari siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga mahasiswa tercatat pernah berkunjung ke kawasan tersebut. Kunjungan umumnya dilakukan dalam rangka kegiatan sekolah maupun pembelajaran sejarah.

“Prioritasnya memang anak sekolah. Ada dari SD, SMP, sampai mahasiswa. Sepanjang 2026 ini, perkiraannya sekitar 200 sampai 300 pengunjung,” ungkap Yulvi.

Menurutnya, kunjungan biasanya meningkat sebelum atau menjelang masa liburan sekolah. Sejumlah rombongan datang langsung ke lokasi untuk melihat peninggalan budaya yang sebelumnya hanya mereka kenal dari buku pelajaran.

Tidak hanya Batu Batikam, kawasan cagar budaya tersebut juga memiliki sejumlah makam. Salah satunya dikenal masyarakat dengan nama Makam Putri Kembar. Namun, mengenai identitas tokoh yang dimakamkan di sana, Yulvi mengaku belum mengetahui sejarahnya secara pasti.

Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat sejumlah peninggalan lain yang menurut cerita masyarakat berkaitan dengan kehidupan kaum pada masa lampau.

Yulvi yang telah hampir lima tahun bertugas melakukan pemeliharaan mengatakan kondisi kawasan Batu Batikam kini lebih tertata. Perubahan terlihat setelah pengelolaan berada di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sumatera Barat.

Sebelum dilakukan penataan, area di sekitar situs masih berupa tanah. Kini kawasan tersebut telah dilengkapi pembatas dan ditata dengan lebih baik untuk menjaga keberadaan situs dari kerusakan.

Bagi pengunjung, tidak banyak ketentuan khusus yang diberlakukan selama berada di lokasi. Meski demikian, pengelola mengingatkan agar setiap orang tetap menjaga sikap dan memperlakukan benda cagar budaya dengan baik.

Salah satu pantangan yang sejak dahulu dikenal masyarakat adalah larangan menaiki batu serta memasukkan tangan ke lubang yang terdapat di bagian tengahnya.

“Orang-orang dulu berpesan supaya tidak menaiki batu atau memasukkan tangan ke lubangnya. Katanya, kalau dilanggar bisa terkena penyakit. Selebihnya, yang paling penting adalah menjaga etika,” tutur Yulvi.

Kini, Batu Batikam tidak sekadar menjadi batu berlubang yang berada di Nagari Lima Kaum. Situs tersebut menjadi pengingat tentang kisah perselisihan dan perdamaian yang melekat dalam perjalanan adat Minangkabau.

Batu itu tetap berada di tempatnya meski zaman terus berubah. Sementara kisah yang menyertainya masih terus diceritakan, menjadi bagian dari warisan budaya yang diteruskan masyarakat kepada generasi berikutnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update