
RAKYATTERKINI.COM - “Sayangi yang kecil, hormati yang tua.” Teguran ada, tapi yang diutamakan adalah membangun rasa aman. Dari rasa aman lahir keberanian bertanya, keberanian mencoba, dan keberanian berakhlak.
Nah, energi inilah yang hari ini sangat kita butuhkan, terutama dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat. Di sinilah peran Dewan Pendidikan Sumbar menjadi sangat strategis.
Dewan bukan lembaga struktural, tapi ia adalah jembatan antara pemerintah, sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, ninik mamak, alim ulama, dan dunia usaha. Dan jembatan hanya kuat kalau fondasinya adalah akhlak.
Pertama, anggota Dewan Pendidikan harus menjadi Al-Amin di level kebijakan. Ketika Dewan mengawal transparansi dana BOS, menolak praktik pungli, dan memperjuangkan kesejahteraan guru, maka itu adalah praktik akhlak yang nyata.
Sekolah akan ikut jujur kalau yang mengawasi menunjukkan kejujuran. Inilah teladan sebelum teori, persis seperti yang diajarkan Rasulullah.
Kedua, Dewan perlu menghidupkan semangat pemberdayaan semua unsur. Jangan hanya kepala sekolah yang diajak bicara. Tenaga administrasi, pustakawan, laboran, penjaga sekolah, mereka adalah garda depan layanan pendidikan.
Beri mereka ruang pelatihan, apresiasi, dan penguatan kapasitas. Libatkan juga masyarakat. Falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah, adalah ruh pendidikan kita.
Bundo Kanduang bisa menjadi penguat pendidikan karakter, pemuda bisa jadi penggerak literasi digital, pelaku UMKM bisa jadi guru tamu kewirausahaan. Ketika semua merasa dilibatkan, maka sekolah bukan lagi milik dinas, tapi milik nagari.
Ketiga, hidupkan kembali budaya Iqra dan musyawarah. Dewan bisa mendorong lahirnya Graha Guru, rumah baca di surau, pojok literasi di pasar, dan forum diskusi pendidikan setiap bulan.
Sama seperti Rasulullah yang membuka pintu dialog dengan semua golongan, Dewan bisa menjadi ruang mendengar: mendengar keluh kesah guru honorer, keresahan orang tua, dan aspirasi siswa.
Peringatan Maulid akan berlalu, tapi pertanyaannya adalah apa yang tersisa setelahnya. Kalau energi kelahiran Nabi hanya berhenti pada ceramah dan nasi, maka akhlak tidak akan naik kelas.
Tapi kalau kita jadikan momentum itu sebagai gerakan, satu sekolah satu program penguatan karakter berbasis sirah, satu nagari satu rumah baca, satu daerah satu pelatihan kepemimpinan untuk seluruh tenaga kependidikan, maka kelahiran Nabi benar-benar menjadi bahan bakar perbaikan.
Pada akhirnya pendidikan terbaik bukanlah yang paling mahal fasilitasnya, tapi yang paling kuat akhlaknya. Dan akhlak terbaik adalah akhlak yang dipraktikkan bersama-sama, dari ruang rapat Dewan Pendidikan sampai ke kelas paling ujung di pedalaman Sumbar.
Karena itulah sejatinya warisan dari kelahiran Nabi Muhammad: bukan sekadar untuk diingat, tapi untuk dihidupkan.
(Penulis, Anggota Dewan Pendidikan Sumbar)

