Jakarta, Rakyatterkini.com – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan pada Kamis (16/7/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda ditutup naik 82 poin atau sekitar 0,45 persen ke posisi Rp17.986 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didorong oleh sejumlah faktor eksternal, terutama melemahnya tekanan inflasi di Amerika Serikat. Ia menjelaskan, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS secara tak terduga turun 0,3 persen pada Juni 2026, berbanding terbalik dengan perkiraan pasar yang memprediksi tidak ada perubahan. Kondisi ini melanjutkan tren inflasi konsumen yang sebelumnya juga menunjukkan perlambatan.
Menurut Ibrahim, data tersebut memperkuat keyakinan bahwa tekanan harga di Negeri Paman Sam mulai mereda sehingga peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
Meski demikian, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah terus naik selama empat sesi perdagangan berturut-turut. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi dapat kembali memicu inflasi dan membatasi ruang bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, juga menegaskan bahwa bank sentral tetap berkomitmen membawa inflasi kembali ke target 2 persen. Ia menyatakan kebijakan suku bunga akan terus disesuaikan apabila tekanan inflasi masih bertahan.
Dari dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah fiskal dan kebijakan pasar guna menjaga stabilitas inflasi. Fokus utama diarahkan pada pengendalian harga pangan yang bergejolak (volatile food) serta meningkatnya biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
Selain menjaga stabilitas harga pangan, pemerintah juga mencermati kenaikan biaya kemasan yang dinilai turut memengaruhi harga berbagai produk makanan di pasaran.
Sementara itu, Bank Indonesia menyatakan independensinya tetap mendapat pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional. Hal tersebut tercermin dalam laporan terbaru S&P Global Ratings yang tetap memberikan kepercayaan terhadap independensi bank sentral Indonesia dalam menetapkan kebijakan moneter, termasuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Penilaian tersebut juga didukung oleh konsistensi kebijakan fiskal pemerintah.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berfluktuasi dan berpotensi melemah di kisaran Rp17.980 hingga Rp18.030 per dolar AS.(da*)


